Rabu, 31 Agustus 2016

Entut

Bicara soal perentutan memang tiada habisnya. Bagaimana tidak, setiap dia mengitari orang-orang yang sedang serius bekerja sambil berpikir, dia menjadikan orang panik luar biasa. Mencipta suudzon saling tuduh dan saling curiga. Itu kalau hanya baunya saja yang tercium. Tapi ketika suaranyapun terdengar mengakibatkan percekcokkan di antara orang-orang itu. Bisa jadi menjadi sebuah permusuhan karena saling tuduh dan saling ejek. Malah kadang-kadang terjadi pembohongan publik.
"Aku ora looo...." Sambil mesam-mesem.
Dan sebagainya, dan sebagainya.
Kenapa sih hal seperti ini saja dibicarakan.
Lo lo.. tunggu dulu. Ada banyak hal yang bisa kita tadaburi lo dari si ENTUT ini. Nggak percaya.
Dia keluar dari lubang yang tertutup. Jika tidak beruntung bisa membuat malu dan menebar aroma khas yang membuat orang bisa pingsan seketika. Tapi coba kita lihat dari segi toharoh. Dia keluar dari dubur, tapi cara membersihkannya bukan duburnya yang dibersihkan, bukan.
Seluruh anggota wudhu yang perlu dibasuh, bagi yang muslim. bagi yang non muslimpun tentu tak akan buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan duburnya gara-gara kentut. Kok bisa coba. Bisa lah.
Analoginya. Bahwa ada saja yang bisa keluar dari tubuh kita ini tidak dalam keadaan baik. Tidak baik dalam konteks sosial jika terjadi bukan pada tempatnya. Namun menguntungkan jika dilihat dari segi kesehatan. Namun harus empan papan.
Dalam diri ada hal buruk, bukan tempat keluarnya yang dilihat dan fokus untuk dibersihkan, tapi justru bagian lain yang perlu dibersihkan. Anggota wudhu lo, bukan main-main. Supaya kita terbebas dari hal yang membatalkan wudhu. Selain itu kita bisa melakukan hal-hal baik, baik ibadah maupun kegiatan lain, yang bisa dihitung nilai kebaikannya.
Seperti perilaku kita. Apa yang kita lakukan, baik dan buruk, itu tergantung kita sendiri yang melakukan. Mau menempatkan pada tempatnya atau tidak. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa setiap kita itu ada sisi negatif dan juga positifnya. tergantung kita bisa mengelola dengan baik atau tidak. Jika hal buruk bisa kita kelola dengan baik, artinya kita bisa mengendalilkan diri. Tentu tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Berseberangan dengan hal itu, tentang hal baik atau positif yang ada pada diri kita. Ketika hal baik itu dikelola dengan benar akan muncul dan mencuat aura positif tersebut. InsyaAllah akan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Tapi ketika tidak dikelola dengan baik. Hal-hal positif itu akan tenggelam, ditunggangi oleh pengaruh negatif atau pengaruh buruk dalam diri kita.
Hal ini tergantung pada diri masing-masing. Mau mengedapankan pengaruh positif atau negatif dalam diri masing-masing. Ibarat ENTUT, asal ditempat yang semestinya pasti akan menyehatkan dan tidak akan merugikan orang lain. Badan menjadi sehat dan bugar, Rona wajah berseri-seri karena tidak menahan malu karena tidak bisa mengelola dengan baik.
Pun demikian, mau menjadikan ENTUT yang baiK atau tidak itu terserah anda. Karena ini hanya ngaya wara saja. Yang sudah terlanjur mengeluarkan ENTUT bukan pada tempatnya dibersihkan sebagaimana mestinya. Supaya bernilai ibadah.

#sehatlahirbatin

Magelang, 30 Agustus 2016

Sesal

Sebelas bulan lalu kusiakan hari dan waktu. Jarang terpikir apa itu pahala juga dosa. Berbuat sesuka inginku.

Kini, keserakahan amuk jiwa. Sebulan waktu yang ada ingin kurengkuh sepenuhnya. Bulan penuh rahmat dan ampunan. Penuh pahala ingin kuraih sendirian. 

Berjibaku siang malam kulantunkan ayat-ayat cintaMu. Malam-malam sedikit mata ini terkatupkan. Menginginkan pahala yang Kau janjikan.

Subuh mengalun. Rapuh seketika, limbung badan tanpa daya. Betapa serakahnya aku. Betapa buruk tabiatku. Telah banyak nikmat yang diberikan. Tak menghitung waktu juga kesempatan.

Tapi aku hanya meminta dan selalu meminta, padaMu. Sebulan saja yang di sebut ramadhan. Ampunkan aku, atas ketidak syukuran dan keserakahan atas pahalaMu. Aku, butiran debu yang mudah terombang ambing angin kehidupanMu.

Pagi ini adalah kau
Munajat yang urung kulangitkan

Gunungkidul, 02072016
Umi Azzura

Selasa, 17 Mei 2016

Wedangan


Saat kepayahan sesakkan kepala
Hati terajam iri dengki

Senyum tinggal seulas

Bukan berarti kurang piknik sepertinya

Mungkin hilang sudah rasa syukur kita

Memudar rasa persaudaraan
Berlomba-lomba ingin jadi pemeang

Magelang, 27042016

Umi Azzura

Gadon


Sebagai wong ndesa, Saya tetap bermimpi menjadi wong ndesa. Punya rumah di pinggir sawah dengan suasana hening. Adem ayem dan tenang. Sesekali desau angin berhembus, cuitan suara burung, kokok ayam, dan celoteh katak saat musim hujan. Ah... benar-benar kehidupan yang damai.
Memiliki pekarangan yang bisa ditanami apa saja. Saat mau masak tinggal petik sayuran di pagar rumah. Tak perlu belanja, cukup gula dan garam saja sebagai pelengkapnya yang dibeli. Pasti sebagai wong ndesa tetap berdaya. Berswasembada pangan sendiri.
Mimpi dululah saat ini. Meski sekejap layaknya nyala api. Hari ini saya masak dengan membuat Gadon. Daging sapi giling (hasil dikasih), telur, santan kental, kemangi, tomat, sedikit garam sesuai selera. Tambahkan cabai rawit utuh jika suka pedas. Note: kalau di desa semuanya hasil bumi.
Semua bahan dibungkus daun pisang (beli juga), kemudian dikukus. Sudah matang. Trarara... rasanya lumayan lah untuk lidah saya. Anti kolesterol karena tidak menggunakan minyak.
Satu hal yang perlu dicatat dalam diary saya adalah, bukan penampilan yang amburadul dan rasa sederhana tanpa micin. Tapi karena saya berhasil membungkusnya dengan rapi. Hihihi. Tiada biting dari lidi, menggunakan staplerpun jadi. smile emoticon
Didikan simbok berhasil satu nih...
Selamat Rabu penuh semangat, kawan!


Salam santun saya,

Magelang, 27042016
Umi Azzura

Enam Jam


Ada apa nih dengan 6 jamku hari ini?
Dua jam ngetrack sepanjang Jamal, ringroad utara Yogya, Piyungan hingga Gunungkidul.
Dua jam lagi ngobrol, curhat, bin curcol sama Simbok tercinta. Sinambi masak, makan bareng, dan asah-asah.
Dan... sebelum melangkahkan kaki melewati pintu depan sambil baca bismillah, cekrek dulu.
Simbok pake ‪#‎kepo‬ lagi.
"Ndelok endi potone," halah, kataku.
"Baleni-baleni," pintanya. Aih... nih simbok, narsis juga. Rambutnya belum rapi katanya. (Senyum aja saya). Lanjut cekrek sesi dua... cekrak dan cekrek.
Dua jam kemudian melewati rute sebaliknya. Sembari membawa hati yang ayem. Senyum simbok terus membayang di pelupuk mata.
Lebih adem dan mak cless lagi adalah: hujan deras mengguyur hingga berbasah-basah kuyup. Bermantol ria di atas aspal yang lambah-lambah, banjir. KaruniaNya memang luar biasa.
Terus gas poll, meskipun tak sekencang di awal. Hingga terdampar di pelabuhan cinta. Cieeh... ‪#‎halah‬. Tidar ini lo yang selalu suejuk.
Satu lagi yang menjadikanku membeliakkan mata. Haaa... kenapa wajahku pipi semua?
Hiks, anake simbok kaya bakpao.
Kapan kurusnya?


Note: sedikit waktu luang kita adalah kebahagiaan orang tua yang sangat luar biasa



Salam senja

Peraduan cinta, 27042016
Umi Azzura

Hari Lapar


Di sekolah anak saya, hari jajan ditentukan, besarannya juga tidak boleh lebih dari 3 ribu. Untuk mengantisipasi keinginan jajan di luar jadwal akhirnya diambil satu hari sebagai hari lapar.
Semalam ribut minta dibuatkan bekal, sayapun bingung, pegangan tembok. Persediaan bahan minimalis, mau keluar hujan. Besok pagi harus pagi-pagi sekali dibuat. Saya tinggal tidur saja. Lha, pusing. Hehehe...
Akhirnya, orang kepepet itu biasanya idenya justeru muncul. Ada telur, kentang, kulit pangsit, dan tepung roti. Gulung, oles, tepungi, goreng. Jadi deh, kentang gulung krispinya.
Pas keduanya mencicipi, sempat deg-degan. Apa komentar mereka.
"Ehm...," sambil mengunyah. Tak sabar saya menunggu celoteh komentar mereka.
"Enak, Bu. Kres di luar, jleb di dalam!" Waaa... senengnya hati saya. Berbunga-bunga pokoknya. Meskipun orang lain, jika mencicipi, bilang tidak enak. Asal si kecil dan kakak bilang enak, rasanya dapat nilai 100.
Merekapun berangkat sekolah dengan penuh percaya diri. Ibuku bisa masak! Mungkin begitu batin mereka. Masih mungkin sih. Karena tak terucap dari bibir mungil mereka. Tapi saya merasa tersirat dari jujur tatap matanya, saat cium tangan, dan cipika cipiki, serta peluk eratnya.
Maafkan ibu kalian, Nak. Terlalu PD dengan hasil masakan sederhana, ngawur lagi resepnya. Terpenting kalian bahagia. Itu saja.

Selamat hari Kamis manis
Selalu berikan yang terbaik untuk orang-orang tercinta kita.
Salam santun saya

Magelang, 28042016
Umi Azzurasantika

Surat Cinta


Namanya juga mak-mak, yang diceritakan ya anaknya. Celotehnya, ngambegnya, juga manjanya. Seperti sore ini. Waktu jemput sekolah, saya ditarik si kakak. Suruh melihat mading sekolahnya. Ternyata puisinya yang bertema perjuangan masuk karya yang dipajang di mading sekolah. Selain itu, puisinya dapat nilai 95 dari ustadzahnya. Selamat ya, Kakak.
Lain lagi adiknya, sambil meluk cium dia memberikan surat cinta katanya. Selembar amplop berwarna biru, kesukaan ibunya. 
"Buka ya bu," pintanya.
Penuh rasa penasaran saya buka.
 
Ini dia puisi yang ditulisnya.


I B U K U

Ibuku engkau telah melahirkan aku ke bumi
Engkau susah payah melahirkanku
Engkau menyusui aku sejak kecil
Bila aku marah engkau tidak marah
Engkau mendidikku, Ibuku
Bila aku besar aku akan membanggakanmu
I love mom
I Love mom i (sebisa dia berbahasa inggris)


Meleleh air mata ini.
Subhanallah, begitu hebat karunia yang dititipkan untukku.

Magelang, 28042016
Umi Azzurasantika

Muhasabah Jiwa


Ilmu padi menjadi salah satu cermin bagi sebagian orang (yang memahami). Semakin merunduk semakin berisi. Namun jika diperhatikan, tak semua padi seperti itu. Ada satu atau dua, bahkan segerumbulan yang bisa jadi terlihat subur, namun tak satupun yang berisi.
Padi-padi yang seperti ini tumbuh hijau dan subur. Berdaun lebat, biasanya batangnya besar. Saat mulai dari tumbuh, mengembang, dan berbuah, tetap tegak berdiri. Buahnya banyak tapi kosong tanpa isi. Sampai tua sekalipun. Dari tempat ia tumbuh akan terlihat paling tinggi. Lebih menonjol di antara yang lain. Bahasa jawanya 'nyengar'.
Ibarat kata, manusiapun bisa digambarkan seperti ini. Saat sekumpulan lain semakin menunduk ke bawah,
dengan berat isinya. Menjadikan jiwa-jiwanya 'menep'. Ingin menuainya suatu saat nanti. Segerumbulan lain menepuk dada berdiri tegak. Menganggap hanya dia yang merasa lebih, paling tahu, paling bisa, paham segalanya. Padahal sebenarnya, tak lebih dari padi subur kosong melompong tak berisi sama sekali.
Hal ini umum terjadi. Baik pada tetumbuhan padi sebenarnya ataupun dalam gambaran kehidupan manusia. Semakin tenang jiwa, akan semakin tenang hidupnya. Positif thinking, lembah manah, penuh cinta.
Di sisi yang lain, semakin berkobar jiwa, semakin gelisah hati dan hidupnya. Meletup-letup bicaranya. Orang lain salah, merasa paling benar sendiri di antara mereka. Iri dan dengki tumbuh subur dalam hati.
Orang lainlah yang akan menilainya. Sebatas apa jiwa-jiwa itu hidup dalam ketenangan. Atau justru meradang dalam setiap kesempatan. Hanya mata hati yang bersih yang mampu memandang dengan jernih. Siapa berjiwa apa.
Semakin dalam kepala ini tertunduk, semakin terlihat betapa kecilnya seonggok daging yang bernama manusia ini. Semakin terpekur, 'metani' diri sendiri masih banyak salah juga kesombongan hati.
Bahwa hidup ini sebentar saja. Apa hendak diujub pada diri sendiri, pada orang lain. Apalagi bumi yang bukan milik sendiri. Hanya tempat singgah untuk menuju hidup abadi di kemudian hari. Apalagi kepada sang pemilik jiwa ini.
Ampuni kami..., Ya Karomi...!

Simpuh dini hari, 11052016
Umi Azzzurasantika

Pejalan Waktu


Matahari adakalanya redup
Tertutup awan hitam. Kelabu !

Hujan membasah
Mendung menutup cahaya

Tapi tak kenal jera
Esok pagi pasti tiba

Hingga senja memanggilnya
Di peraduan cakrawala

Di kaki langit
Ujung samudra

Esok pagi kan muncul kembali
Menjadi pejalan waktu tiada henti

Magelang, 15052015
Umi Azzurasantika

Rabu, 06 April 2016

Manusia vs Teknologi


Manusia memang dianegerahi pikiran untuk berpikir dan lebih maju dari makhluk lain. Namun terkadang, tanpa disadari manusia sering diperbudak oleh barang mati yang tidak bernyawa. Teknologi saat ini serasa benar-benar memperbudak manusia. Padahal jika mau menilik ke belakang, teknologi itu buatan manusia itu sendiri. Eh.. kebolak balik jadinya ya.
Seperti pelaksanaan UNBK/CBT dimana saya mengawas UN kali ini. Ujian Nasional yang dilaksanakan berbasih komputer diikuti oleh beberapa sekolah di kota kami. Sebelum pelaksanaan UNBK ini seluruh sekolah yang akan menyelenggarakan UN mempersiapkan dengan sangat perfect, saya pikir.
Seluruh perangkat lunak maupun perangkat keras disiapkan dengan sangat matang. Hingga ruangan dan AC pun harus benar-benar mendukung pelaksanaan CBT ini. Para proktor dan panitia sangat sibuk. Antara semangat, capek, dan juga deg-degan campur aduk jadi satu. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada saat pelaksanaannya nanti.
Memang ada perbedaan yang signifikan antara pelaksanaan PBT dengan CBT. Ujian nasional yang dilaksanakan berbasis kertas memang bisa saja diantisipasi. Misalnya setiap ruang kelas kurang bisa mengambil pada kelas lain. Rusak kertas bisa digantikan kertas yang lain. Waktu fleksibel, dalam arti, ketika penyelenggaraan UN dilaksanakan di tempat-tempat terpencil disesuaikan dengan datangnya logistik ditempat tersebut. Namun sedikit maklum yang diberikan  untuk sekolah di daerah perkotaan yang alat transportasinya sangat mudah.
UNBK yang sudah berlangsung hari ketiga, hari ini Rabu, 6 April 2016. Ada sedikit kendala yang mungkin bisa menjadikan "gobyos" para proktor. Bagaimana tidak, pada sekolah tempat saya mengawas, waktu pelaksanaan ujian antara komputer siswa dengan server memiliki selisih waktu. Waktu yang tertera pada komputer siswa selisih lima menit dengan komputer server. Tidak banyak memang. Namun sangat berarti bagi para siswa untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi saat itu mata pelajarannya adalah Matematika.
Kejadian yang berlangsung adalah, waktu di server sudah habis, namun pada komputer siswa masih berjalan mundur lima menit menjelang berakhirnya ujian. Karena mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika, seperti menjadi sebuah kebiasaan, anak menyelesaikan pekerjaan hingga akhir waktu. Cieeee... jadi seperti lagu ya. Hehehehe.
Naahhh... tiba-tiba komputer anak-anak langsung 'pet' log out sendiri. Kontan satu kelas ribut. Khawatir hasil pekerjaannya tadi sia-sia, hilang begitu saja. Server juga panik. Namun pengawas berusaha menenangkan siswa. Siswa diminta duduk kembali, sembari proktor mengambil token ulang. Hal ini dilakukan agar siswa dapat submit kembali kemudian bisa mengakhiri pekerjaan ujian, dan dianggap selesai mengerjakan.
Setelah selesai diatasi oleh proktor akhirnya anak baru bisa bernafas dengan lega. Siswa merasa yakin kalau pekerjaan telah masuk data base. Namun di wajah mereka masih menyisakan gurat kekhawatiran. Masih menyimpan kekhawatiran jika hal itu nantinya menyebabkan ketidak lulusan bagi mereka. Meskipun sebenarnya UN ini tidak menentukan kelulusan bagi mereka.
Nah di sinilah mengapa di awal saya katakan bahwa manusia bisa saja diperbudak oleh teknologi yang notabene buatan manusia itu sendiri. Karena komputer itu ibarat robot, akhirnya nggak bisa merasakan kekhawatiran dan kegaduhan yang dirasakan oleh siswa, proktor, dan juga pengawas.
UNBK/CBT memang sangat praktis dari segi pelaksanaan. Irit kertas yang artinya kita menyimpan pohon dan bumi kita yang jadi bahan baku kertas. Namun di lain sisi, segala persiapan sangat ribet dan harus betul-betul fix. Sampai-sampai AC turut mendukung keberhasilan UNBK ini. Jika AC mati maka server dan komputer untuk ujian tidak bisa jalan. AC dalam kondisi temperatur rendah agar PC dingin dan tidak mati. Tapi manusia yang ada di dalam ruangan tersebut dibuat kedinginan. Bisa jadi masuk angin juga kan. Hehehe...
PC nya dingin, manusianya panas. Iya, kan kalau habis dari laboratorium selama enam jam berturut-turut seharian bagi siswa, pengawas, proktor kan sangat ekstrim. Bisa menyebabkan sakit, sakit panas. PC nya sehat, manusianya yang tersiksa.
Yah.... begitulah teknologi. Harus disiapkan lebih humanis. Agar bisa memiliki kemanfaatan antara satu dengan lainnya yang saling terkait.
So...
UNBK untuk tinggal satu hari lagi.
Tetap semangat siswa-siswa SMA/SMK.
Semoga berhasil

Salam santun pendidik
Magelang, 006042016
Umi Azzura

Matematika Menjadi Momok




UNBK hari kedua sudah lebih kondusif dibading hari sebelumnya. Anak-anak terlihat tenang saat memasuki ruang ujian. Ada satu kelas pada sesi dua yang berkumpul sebelum memasuki ruangan. Membuat lingkaran menyatukan lengan kemudian membuat satu teriakan yel-yel. Sebelumnya diawali dengan doa bersama. Sangat kompak.
Di dalam ruang ujian, waktu berjalan, siswa masih dalam kondisi stabil. Namun ketika waktu berjalan, satu jam lebih, nampak gejala kegelisahan. Kursi mulai berderit, muka ditekuk, rambut-rambut mereka sudah acak adut tidak karuan. Dinginnya suhu ruangan sudah tidak dirasa lagi.
Apatah sebab? Ya, karena hari ini mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Satu mata pelajaran yang menjadi momok sebagian siswa. Lima belas menit menjelang waktu habis, kepanikan semakin terasa. Banyak nomor soal yang belum terisi.
Analisis sederhananya, para siswa terpaku pada satu nomor soal yang sulit. Sehingga menghabiskan waktu. Lupa bahwa masih banyak soal yang belum dikerjakan. Selain itu kurang memperhitungkan waktu yang terus berjalan dalam hitungan mundur.
Lima menit menjelang berakhir ada siswa yang asal memilih jawaban. Asal klik di antara lima jawaban option A-E. Ada keresahan yang menggantung di wajah siswa tersebut. Tapi apa daya, waktu telah habis dalam mengerjakan soal tersebut.
Saat semua siswa sudah keluar, proktor panik, ada siswa yang memiliki status sedang mengerjakan, padahal siswa sudah habis. Ternyata, siswa tersebut belum mengklik tombol selesai dan centang, ya. Hal ini disebabkan kepanikan siswa. Waktu tersisa tinggal satu menit, soal belum selesai dikerjakan. Akhirnya ditinggal begitu saja. Solusinya proktor harus mengambil token ulang agar siswa tersebut bisa login kembali, submit dan mengakhiri ujiannya serta log out.
Ternyata Matematika masih menjadi momok siswa. Pelajaran yang dianggap sulit.
Semoga berhasil.
Tetap semangat!


Salam santun pendidik
Magelang, 05032016
Umi Azzura

Ujian Nasional (UNBK/CBT) 2015/2016



Beberapa hari kemarin saya diserahi surat tugas mengawas Ujian Nasional. Tidak seperti biasanya, kali ini saya diberi tugas mengawas UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Istilah lain adalah CBT (Computer Based Test) untuk siswa SMK.
Mengingat UN sesi satu dilaksanakan pukul 07.30, pagi sekali saya mengantar sekolah anak-anak. Agar tidak terlambat sampai di sekolah tempat saya mengawas.
Diinformasikan pengawas harus datang 45 menit sebelumnya. Tanpa sesuap sarapan, akhirnya saya berangkat dengan perut kosong.
Berdasar pengalaman sesi pertama ini, mungkin bisa menjadi bekal para guru. Untuk nempersiapkan diri sebelum mengawas UNBK/CBT pada hari berikutnya.
Suasana ruang laboratorium komputer yang sangat dingin. AC tiga buah dengan temperatur 20°C sangat memungkinkan menjadi sebab masuk angin. Jadi, usahakan sarapan terlebih dahulu. Menggunakan kaos kaki ketika di dalam ruangan, karena alas kaki wajib dilepas. Satu lagi, usahakan baju seragam berlapis. Bisa kaos di dalam seragam atau jas sebagai luaran.
Bagi yang sensitif terhadap AC bisa menggunakan penghangat badan, seperti minyak kayu putih atau dengan cara lain. Pengalaman saya, jam mengawas yang baru berjalan 1 jam 30 menit saya sudah bersin-bersin. Bisa jadi akibat dari kondisi yang kurang fit. Atau karena perut kosong dan badan tidak dikondisikan dalam keadaan hangat.
Untuk mengurangi kulit kering yang akan dialami akibat AC yang dinginnya ekstrim, bisa digunakan pelembab untuk wajah atau lotion bagi kulit tangan dan kaki. Bukan karena 'kemayu', hal ini untuk menghindari dehidrasi kulit, karena jam mengawas akan berlangsung hingga pukul 16.00 wib (tiga sesi).
Cerita lain. Pada saat keluar tadi, siswa yang bersalaman dan cium tangan, tangannya sangat dingin. Untuk itu, siswa diusahakan dengan persiapan yang hampir sama. Kondisi badan harus fit. Sarapan terlebih dahulu. Agar bisa nyaman mengerjakan soal UN. Hari berikutnya dapat melaksanakan UN dengan lancar dan tidak mengalami keluhan kesehatan.
Dari segi pelaksanaan, siswa harus betul-betul memperhatikan identitas peserta, soal, dan jawabannya pada layar monitor. Karena tadi ada siswa yang lupa log out. Bisa berakibat, siswa dianggap belum selesai mengerjakan. Ruangan dikondisikan dalam keadaan tenang supaya tidak mengganggu konsentrasi siswa.
Akhirnya. Selamat mengawas Bapak/Ibu guru. Selamat bekerja para Proktor. Selamat menempuh Ujian Nasional bagi siswa SMU/SMK/MA seluruh Indonesia.
Meski UN bukan penentu kelulusan, lakukan ujian ini dengan baik dan sungguh-sungguh.


Salam santun pendidik
Magelang, 04042016
Umi Azzura

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...