Kamis, 23 Oktober 2014

Mengeja Jeritan Hati Ibu


“Ada apa bu?”
Meluncur pertanyaanku seketika. Melihat air menganak sungai mengalir di pipi ibuku yang teramat aku sayangi.
Menggeleng.
Hanya menggeleng. Ada isak. Sengal. Seperti ada yang menyumpal dadanya. Bersusah payah naik turun mencoba melepaskan karbondioksida yang memenuhi rongga hatinya.
“Aku anakmu bu, berceritalah.”
Seolah aku menjadi orang bijaksana sedunia. Seolah menjadi perempuan tegar di hadapan ibuku. Aku seperti ingin menjelma menjadi ibuku seperti biasanya. Perempuan yang tak pernah menangis. Senyum selalu tersungging. Sabarnya sungguh luar biasa. Meskipun timpuk tanganku kadang tak sadar mampir di lengannya. Kadang mulutku meracau menggores melukai hatinya.
“Nduk, suatu saat engkau akan memahami apa yang ibu lakukan untukmu”
Hanya seperti itu yang selalu ibu katakan ketika aku marah padanya. Membelai kepalaku, tersenyum dan pergi ambil air wudhu. Tanpa banyak cakap. Tidak sepertiku yang selalu rewel, bawel dan cerewet. Ah.... ibu. Engkaulah wanita yang selalu menjadi penerang dalam setiap muram wajahku.
Lengang.
Sejurus kemudian.
“Nduk, kamu tahu kan nak kalau ibu sangat menyayangimu?” harap ibu mendapatkan jawaban yang mampu meyakinkannya. Mampu mengobati luka hatinya yang mungkin saat ini sedang bernanah dan berdarah.
Mataku tak mampu menyimpan berjuta aliran hangat. Berkaca-kaca. Akhirnya tumpah juga. Tak mampu aku menyampaikan isi hatiku yang berjubel ingin menyambut pertanyaan ibu.
“Semua yang ibu lakukan demi anak-anakku, demi kamu dan adikmu” lanjut ibu. Matanya menerawang seolah ada layar terkembang di hadapannya. Ingin dia menuliskan dan melukiskan semua yang ingin ia bacakan dan perdengarkan kepadaku.
Kedua lenganku melingkar. Memeluk tubuh tambunnya yang kekar. Sekuat hatinya yang tak pernah rapuh. Kepalaku tertopang pada bahu bidangnya yang tak pernah lelah menahan segala beban hidup kami. Perempuan hebat yang bekerja sebagai kepala keluarga dan kepala rumah tangga untuk kecukupan kami.
Di tangga samping rumah. Semilir angin menemani dua perempuan dengan lamunannya masing-masing. Tak pelak, hidungku penuh dengan lelehan bening penyumbat rongga pernafasanku. Air mataku tak lelah mengalir. Tak mau berhenti. Hingga membasahi mukena ibu yang belum juga dilepasnya. Usai isya’ ibu selalu menyempatkan diri untuk mentadaburi malam yang kadang pekat. Penuh bintang. Kadang pula purnama indah menampakkan senyumnya seperti mengirimkan kehangatan untuk kami berdua di sini.
“Tak akan ada seorang ibu manapun yang akan menjerumuskan anaknya” tiba-tiba pecah kesunyian oleh lembut kalimat ibu. Aku hanya mampu terdiam.
“Setiap kalimat ibu adalah nasehat untuk kalian”
“Ketika ibu memegang makanan, yang ibu ingat hanyalah anak-anak ibu. Apakah mereka telah makan. Apakah mereka makan dengan makanan seperti yang ibu makan.” Lanjut ibu sambil menyeka air matanya yang sedari tadi mengalir tanpa henti. Aku menahan gejolakku dalam dada. Bergetar.  
“Ketika ibu membaringkan badan. Apakah anak ibu telah tertidur pulas dengan tersenyum. Berselimutkan doa ibu pengantar tidurnya.”
Hanya getaran isak tangis ibu tak beda denganku. Gigiku gemeletuk menahan emosiku. Tak ingin suara tangisanku semakin membuat ibu sedih.
“Sakit anakku, ibu yang rasakan. Ibu hanya ingin memeluk kalian, nak. Aku Ibumu.”
Ku peluk erat ibuku yang semakin menggigil menahan tangisnya. Wajahnya pucat. Suara tangisnya semakin menjadi. Aku tak mampu tegar seperti yang kuinginkan. Aku tak sekuat ibuku seperti biasanya. Ibukupun kini rapuh.
“Ibu, masih ada aku bu. Ini aku anak perempuanmu, yang akan selalu mendukung dan mendampingimu sampai kapanpun. Aku akan tetap di sampingmu selamanya” parau suaraku menguatkan ibu.
“Berdamailah dengan hatimu, bu” mereda tangisan ibu menutup malam ini.
“Adik pasti mendengar tangisan ibu”
Di atas sana, purnama mulai tergelincir. Air wudhu memercik membasuh wajahku. Tak berdaya ku bersimpuh.
“Kekasihku, penyejuk jiwaku. Rengkuhlah aku. Kuatkanlah aku. Untuk ibuku”

Tidar Sejoek, 23 Oktober 2014
Umi Azzurasantika

Bagaskara Tergelincir

bagaskara tergelincir
menyibak cakrawala
mengiring petani memanggul pacul
memecut kerbau untuk pulang
suara penyeru mengekor mengumandang
di surau para tetua sepuh bersimpuh
.aku terdiam terpekur

22 Oktober 2014
Umi Azzurasantika

MemujaMu

Duhai penyejuk jiwa
Peneduh hati berkabung lara
MemujaMu...
Adalah bagian dari lisanku
Dari rinduku

Tak tertera oleh pena
Karunia tanpa hitung Kau beri
Ketika terik sembulkan wajah hangatnya
Hingga semburat senja malu-malu undurkan diri
Saat bintang berseripun tetap ada
Kini...

Persabungan terik mentari mereda
Tautkan jalinan damai dalam cinta
Menuju perjamuan malam penuh kehangatan
Iringi alunan rinai dalam hujan

Bersendau denting dawai berdendang
Di singgasana kebahagiaan
Menyambut kasih di sepertiga malam
Sekali lagi..
Aku hanya mampu memujaMu

Senja mendung, 18102014
Umi Azzurasantika

Jumat Mubarok

Mematik bara dalam sekam
Patahkan embun sejukkan pagi
Sirnakan lembut kukila berdendang

Kecupkan saja kening penuh kasih
Di atas sajadah jumat mubarok
Rahman akan ditebar bagi yang terpilih

Cukuplah lidah tak bertulang
Lisankan ucap pènuh cinta
Jangan jadikan pedang bermata dua
Tersebab
Banyak hati yang tersakiti, terabaikan

Jumat penuh cinta, 17102014
Umi Azzurasantika

Suara Jiwa

hati yang berhimpun kekal
berliku, mencari kesejatian diri
merindukan nur pelita illahi
sukma dan jiwa menyatu abadi
beriring tertulisnya pena
dalam kitab yang telah tertera
Harapanku: dengan rengkuhmu
aku ingin bahagia

1 Oktober 2014
Umi Azzurasantika

Tadabur KalamMu

“Semua yang ada di dunia ini
adalah kalamMu yang harus diselami
dan dipelajari.
Sebagai bangku sekolah
yang harus selalu dikenyam 
oleh setiap manusia
dalam hidupnya.”

Tidar Sejoek, 30092014
Umi Azzurasantika 

Genderang Semangat

Genderang sudah dibunyikan
Panji-panji mulai dikibarkan
Berpantang menyerah sebelum berperang
Karena dua tangan siap lakukan
berdiri dua kaki di atas kegigihan
Sambut hari dengan senyuman
Onak, duri, debu
Biarkan lalu tersapu angin
Letakkan

23092014
Umi Azzurasantika

Sabtu, 13 September 2014

Bianglala Untuk Kalian

Kurang lebih dua minggu terakhir, waktu saya habis dengan rutinitas mengajar. Selain itu saya disibukkan dengan persiapan visitasi akreditasi dan persiapan pelaksanaan LKS SMK tingkat Propinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di eks karesidenan Kedu dan dipusatkan di Kota Magelang. Seminggu yang lalu visitasi akreditasi sudah selesai dilaksanakan. Kami tinggal menunggu hasilnya untuk beberapa waktu.
Minggu ini, kami disibukkan kembali dengan persiapan LKS, dilanjutkan dengan pelakasanaan LKS di sekolah kami dari hari Jumat-Minggu, 12-14 September 2014. Ada empat mata lomba yang pelaksanaannya di tempat kami. Mata lomba tersebut (1) cookery, (2) beauty therapy, (3)women & men hairdressing, (4) ladies dressmaking. Masih ada satu lagi mata lomba yang panitianya adalah sekolah kami tapi pelaksanaan di Grand Artos Aero Wisata. Mata lomba tersebut adalah Hotel Accomodation.
Seluruh warga sekolah ikut andil, sibuk mempersiapkannya. Tak ketinggalan dengan saya. Pada Prodi Kecantikan dengan dua mata lomba membuat kami para ibu-ibu guru cantik "cancut tali wondo" mempersiapkan dengan sebaik mungkin.
Hampir setiap hari kami pulang hingga petang. Pulang maghrib seperti sudah biasa menjadi rutinitas. Mungkin banyak cinta yang terlupakan. Mungkin banyak hati yang sedikit tersakiti. Yaitu mereka orang-orang tersayang dan tercinta di sekitar kami. Termasuk saya. Anak-anak di rumah mulai protes. Bahwa ibunya jadi ibu rumah tangga biasa saja agar ibu tidak capek. Bisa menunggui Kakak dan adik belajar dengan baik. Biar ibu tidak mudah sakit kepala dan sebagainya. Alhasil, merengek, manja, merajuk menjadi andalan mereka agar diperhatikan ibunya.
Seperti hari ini, Meskipun saya berangkat sekolah dari pagi sebelum jam tujuh. Pulang sekolah jam lima. Anak-anak langsung meminta saya mengantarkan mereka ke pasar malam kecil di tengah kompleks. Saya masih memakai seragam kerja (PD aja lagi... :) ). Mereka langsung memilih bianglala sebagai mainan yang ingin mereka naiki. Hampir setengah jam mereka menaikinya. Sampai mereka merasa sangat lama. Hanya setengah jam. Namun mereka merasa puas.
Harapan saya, dengan kesibukan yang luar biasa yang saya lakukan tidak merampas hak mereka untuk mendapat perhatian dan kasih sayang dari saya. Waktu setengah jam bisa menjadi waktu yang berkualitas untuk pertemuan kami dalam sehari untuk bermain-main bersama mereka. Meskipun malam hari masih saya sempatkan untuk menemani belajar dan sedikit bercerita mengantarkan tidur mereka.
Inilah ibu yang "hangabehi". Sebagai perempuan yang halus dan peka perasaaannya, Sebagai ibu rumah tangga yang harus bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, sebagai seorang pendidik yang harus bisa membimbing anak muridnya. Kesibukan saya ini saya banggakan. Karena dengan kesibukan ini saya bisa belajar menjadi seorang perempuan yang baik itu bagaimana sebenarnya. Karena bagi saya hidup adalah belajar.
Kakak Adik, maafkan ibu yang kurang bisa memperhatikan kalian. Semoga kalian memaafkan ibu yang waktunya begitu sibuk untuk dunia luar dan orang lain. Sedangkan kalian sebagai titipanNya untuk ibu yang seharusnya ibu jaga dengan baik malah kurang mendapat perhatian dan kasih sayang yang penuh.
Semoga saat ini, hari ini kalain bahagia. Semoga suatu saat kalian akan mengerti.

13 September 2014, 21.55

Minggu, 07 September 2014

Ice Breaking on Weekend



Hari Sabtu adalah hari terakhir pada setiap pekan. Di mana orang-orang yang bekerja pada isntansi atau kantor merupakan hari pendek. Terkadang ada juga yang sudah libur. Tinggal menikmati liburan akhir pekan. Memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu untuk melepaskan kelelahan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas yang tentunya sangat padat pada hari-hari sebelumnya. Namun bagi sebagian guru yang mengajar enam hari dalam sepekan, tidak ada hari yang berbeda. Karena setiap hari adalah hari baru. Harus dengan semangat baru. Agar anak-anak belajar dengan semangat sepanjang hari. Hanya ada satu hari waktu istirahat, yaitu minggu. Hari yang mungkin tidak bisa dipakai istirahat, karena waktu itu adalah waktu yang bisa digunakan untuk keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Hari sabtu hari ini. Saya tetap seperti biasanya, mengajar di kelas. Pagi hari, ketika saya menyiapkan diri untuk mengajar, seperti ada dopping tersendiri. Meskipun badan sedang mengalami gangguan (sakit) atau sedang banyak pekerjaan, tapi ketika masuk kelas, semangat itu benar-benar penuh. Semangat itu memenuhi hati saya sebagai seorang guru.
Hari sabtu kali ini pelajaran saya berlangsung selama sepuluh jam berturut-turut. Pembelajaran berupa pembelajaran teori. jika tidak disiasati dengan berbagai teknik, siswa pasti akan bosan. Pelajaran saya awali dengan pre test materi SPA. Setelah selesai berdoa dan apersepsi, anak-anak langsung diminta untuk menyiapkan selembar kertas dan alat tulis. Bermodal potongan kertas yang berisi soal pre test sebanyak enam soal dengan jawaban singkat, anak saya minta untuk mengerjakannya. Ketika mengerjakan pretest itu terlihat anak mana yang sudah menyiapkan materi sebelumnya maupun yang belum menyiapkan.  Dua puluh tujuh siswa, hanya empat orang saja yang sudah browsing sebelumnya, seperti yang saya minta pada hari sebelumnya. Sisanya mengandalkan ingatan dan pengetahuan umum yang mereka miliki. Rata-rata mereka mengatakan tidak bisa menjawab dengan alasan tidak tau istilahnya namun paham dengan jawaban yang seharusnya. Intinya tidak bisa menyampaikan lewat tulisan. Hal ini bisa terjadi karena semester sebelumnya mereka sudah melaksanakan Praktek Kerja Industri yang memiliki layanan SPA. Selain itu anak-anak pada akhir semester kemarin juga sudah melaksanakan kunjungan industri di SUSAN Resort & SPA di Bandungan Ambarawa. Sehingga pengetahuan yang mereka miliki sudah lumayan paham.

Pre test

Selesai melaksanakan pre test di kelas saya adakan game. Game ini berfungsi untuk membentuk kelompok. Kursi yang mereka gunakan dilipat dan mereka membentuk lingkaran. Game ini saya fungsikan untuk ICE BREAKING yang berfungsi untuk memecah kebekuan konsentrasi mereka. Diharapkan dengan game ICE BREAKING ini dapat meningkatkan konsentrasi dan menghilangkan ketegangan pada anak. Pada akhirnya harapan saya, anak-anak dapat mencapai hasil pengetahuan dan keterampilan pada kompetensi SPA. Ice Breaking juga pernah saya lakukan ketika saya menjadi MC dan saya tulis dengang judul Ice Breaking, go!.
Kegiatan game ini saya lakukan dengan membuat bola dari selembar kertas yang di dalamnya terdapat angka-angka sebagai pembentuk kelompok. Kelas akan dibagi dalam lima kelompok. Sehingga bola kertas tersebut diberi angka satu sampai lima pada masing-masing kertas. Setelah anak-anak membentuk lingkaran, pada hitungan ketiga anak-anak berebutan mengambil bola kertas, nomor yang sudah didapatkan disimpan terlebih dahulu tidak boleh dikatakan kepada teman-temannya. Pengambilan bola kertas dilakukan hingga enam kali. Pada putaran terakhir diminta untuk ke depan dan menjadi ketua kelompoknya. Ketika berebut mengambil kertas tersebut, anak-anak dapat tersenyum lepas. Ada kebahagiaan dalam hati saya, anak-anak tidak terbebani dengan pelajaran yang mereka laksanakan hari ini. Anak ada yang kaget karena anak tersebut menjadi ketua kelompok. Karena yang menjadi ketua kelompok bukan siswa-siswa yang pandai berbicara dan mengelola teman. Tapi di sinilah proses itu berjalan. Anak-anak yang tidak terbiasa mengelola kelompok akhirnya belajar untuk mengelola dan memimpin teman-temannya. Kemudian yang lain yang sudah memiliki angka mengikuti di belakang ketua kelompok untuk menjadi anggotanya. Ada beberapa komentar dari anak-anak. Ada yang mengatakan bahwa satu kelompok mereka ‘kenthir’ (gila-gilaan), ada yang mengatakan satu kelompok pendiam semua. Ada yang minta tukar guling dan ada pula yang minta tukar tambah. Itulah komentar mereka. Untuk mengajarkan mereka menerima yang sudah didapatkan dan tidak memilih-memilih teman serta tidak membuat gap diantara mereka, hasil pembentukan kelompok tetap seperti apa adanya. Mereka bisa menerima itu. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok. 

Bola Kertas

Diskusi kelompok ini saya berikan materi tentang SPA yang sudah di pre testkan sebelumnya. Mereka saya berikan kebebasan untuk mendiskusikan materi yang sudah mereka terima. Boleh mendiskusikan semua sub kompetensi yang ada pada materi atau satu sub kompetensi saja. Hal yang terpenting menjadi catatan mereka adalah ketika menyampaikan hasil diskusi nanti ada materi pokoknya. Karena setelah diskusi selesai setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Ketika diskusi itulah semua kelompok berpartisipasi menjadi penyampai materi, ada yang bertanya dan ada yang membantu menjawab jika pemateri kurang bisa menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Diskusi

Presentasi Kelompok

Setelah diskusi selesai, anak-anak saya minta untuk belajar sebentar. Mengulas kembali yang sudah didiskusikan tadi. Anak-anak mulai terbiasa untuk mengingat dan menghafal serta memahami materi melalui diskusi dengan teman maupun dengan belajar sendiri.
Jam berikutnya materi saya lanjutkan dengan memberikan ulasan atas materi dan hasil diskusi serta presentasi yang sudah dilakukan oleh siswa. Hal-hal yang kurang tepat dalam penyampaian, pengucapan dan dalam memberikan ulasan saya betulkan di sini. Siswa mulai aktif mengikuti ulasan-ulasan saya tanpa harus ditanya atau diminta untuk menjawab.
Tahap selanjutnya, pelajaran diakhiri dengan post test. Postest ini berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa dalam menangkap pembelajaran selama pelajaran berlangsung. Hasil yang diperoleh dengan membandingkan nilai pre test dan pos test sangat memuaskan. Nilai pre test antara 1-6 pada pos test antara  7,5-100. Hanya 4 anak yang nilainya kurang dari 7. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu belajar dengan baik dan memahami materi dengan baik pula.
Pembelajaran yang menyenangkan dan variatif saya rasa dapat merangsang minat belajar siswa lebih baik. Pikiran siswa tidak tertekan dan tidak terbebani dengan materi yang sangat banyak. Pencapaian target yang diinginkan bisa diperoleh sesuai dengan yang direncanakan. [Umi Azzurasantika]


Sabtu, 06 September 2014

Kamu


Inspirasi tentangmu itu tidak habis. Meskipun mata sudah tidak mampu lagi menatap. Meskipun badan sudah tidak kuat menyangga kepalaku lagi. Namun... Kata demi kata berserakan mengiringi jemariku untuk merangkai kalimat untukmu.
Menjelang kepergianmu.. airmatamu tak mampu kau tahan. Jatuh dari pelupuk mata sayumu. Lembut usapan tangannya tak mampu redakan tangismu. Justru bertambah deras menganak sungai di lengkung pipi rapuhmu. Hancur hatimu mungkin saat itu. Melepas genggaman tanganya yang sudah mulai goyah. Jemari yang mungkin tak kuat lagi untuk melambaikan tangan untukmu. Karena bentang jarak dan waktu akan memisahkan kalian untuk sementara waktu
Hari-hari berikutnya  hanya kau lewati bersamaku. Berganti-ganti juga posisiku tergantikan oleh mereka yang juga menyayangimu. Ocehanku. Kadang senyum yang mungkin kecut bagimu. Namun itu tanda sayangku untukmu. Kau harus percaya itu.
Aku sebenarnya iri dengan rasa rindumu yang kian menebal kau rasakan untuknya. Namun untuk apa. Iri itu justru malah membuatku semakin sayang padamu juga dia. Bukan sesuatu yang aneh. anggap saja seperti itu.
Selimut itu kau tutupkan ke wajah. Pertanda sakitmu kian parah. Sakit rindu padanya yang tiada tertahan lagi. Tak ada dokter yang akan mampu berikan resep untuk menyembuhkanmu. Kecuali untuk sakit fisikmu yang menggerogoti sebagain dari urat hidupmu.
Perlu kau tau. Diapun di sana menahan rindu sama sepertimu. Hingga UGD menjadi tambatan tubuh limbungnya. Tubuh penyimpan hati untukmu. Rindunya pasti sebesar rindumu pula. Semua isak kerinduan itu terdengar di telingaku setiap harinya.
Aku sedih... tapi aku bahagia. Campur aduk jadi satu. Hingga rambutku berguguran satu-satu karena memikirkan kalian. Mataku melihat kerinduan itu sepanjang hari yang kulewati bersamamu. Diantara desingan kata-kata parau campur air mata di telinga lewat dering handphoneku. Apakah kalian tau? aku lebih galau dari kalian.
Kapan pulang? suara di ujung telingaku....
Kapan kita pulang? pertanyaanmu setiap pagi setelah kau kerjapkan mata bersamaan dengan kicauan burung yang membangunkanmu. Pertanyaan yang mengiringi tilawah dan simpuhku disepertiga malam di sisi pembaringanmu.
Hari ini... ya hari ini...
Kalian dipertemukan dalam kerapuhan yang tak berkesudahan. Tubuh kalian menyatu diantara desingan isak bahagia. Diantara deraian air mata kami, aku dan mereka. Saksi, dimana cinta kalian bermuara di pembaringan reot kalian diujung ruangan tempat aku pernah dilahirkan.
Lama aku tidak bertemu denganmu. Sapamu pertama yang kau sampaikan kepadanya.
Aku di sini di sebelahmu. Sambut belahan jiwamu sepenuh hati.
Kalian berdua larut dalam menumpahkan kerinduan kalian. Meskipun tak lama kalian tak bertemu. Seolah kami hanya bunga-bunga dalam taman hati kalian yang hanya bisa tersenyum menyaksikan kebahagiaan kalian.
Ayah... Bunda... kini kalian dalam satu biduk percintaan. Aku iri sekaligus bahagia menyaksikan kesetiaan kalian yang selalu menyimpan rindu. Dalam usia yang tak lagi muda. Lansia. Uzur. Orang bisa katakan apa saja. Namun cinta kalian tak juga berujung.
Kami mendoakan kalian untuk kesembuhan kalian. Sehatkanlah raga kalian. Segarkanlah pikiran kalian. CInta itu milik kalian. Kerinduan itu hanya untuk kalian. Kami tak akan merusak dengan memisahkan kalian hanya untuk mencari kesembuhan fisik. karena kami tahu, Kesembuhan itu pasti akan datang secepat kerinduan kalian yang menghebat. Sebagai obat hanyalah ikatan cinta kalian yang saling mengisi relung jiwa kalian. Damailah dalam pelukan malam yang selalu setia menemani kalian. Kami akan menjagamu sampai titik darah penghabisan. Seperti kalian menghabiskan seluruh umur kalian untuk kami.
Allah pasti akan menjaga kalian
Kudedikasikan untuk Bapak yang baru pulang dari rumah sakit dan belum berangsur pulih. Tak lupa untuk ibuku tersayang yang terseok mendampingi Bapak dengan penuh kesetiaan berbekal cinta.
Doa sahabat dan saudaraku semua yang kami minta. Bermohon jika berkenan berkirim doa dan alfatihah untuk kedua orang tua kami. Untuk kesehatan mereka. Untuk umur panjang mereka yang barokah. InsyaAllah diijabahi dan pahala akan ditetapkan untuk sahabat dan saudaraku sekalian.

Tidar benar-benar sejoek, 12082014. 23:46
Umi Azzurasantika

Gerimis Malam

gerimis malam
menyertai langkah tenang
tinggalkan jejak senja
jemput pelangi tanpa warna
titiskan atis hati tanpa tersisa keriuhan
hanya sayup
dendang nyanyi sunyi
titik linangan
di antara simpuh terpekur
para pencari seribu bulan

Tidar Sejoek, 21072014, 21:52

Umi Azzurasantika

Kemerdekaanmu Kini

kan kuberikan semangatku
walau mungkin hanya seujung kuku
kan kusisihkan geloraku
hanya untuk Indonesiaku

perjuanganku tak sebanding dengan pengorbananmu
waktu itu
perjuanganku untuk anak bangsamu
saat ini
menjadikan mereka
para
cendekia berkarakter
bermartabat
yang mencintai tanah airnya

Sudut meja pendidik, 17082014
Umi Azzurasantika

Senja Petang Akhir Agustus

senja di petang agustus pelahan beranjak
menuju jingga kaki langit
satu-satu daun-daun menguning berguguran
satu-satu burung kepakkan sayap tinggalkan cakrawala

entah untuk berapa lama lagi
gersang pada september mendatang
mengisi ruang kosong hati
hanya harap dalam jeda
rumput akan kembali menyembul
sertakan lembut titik embun
menempati lapang rasa dalam syukur

#akhiragustuspenuhcinta 2014

Umi Azzurasantika

Bahagiamu itu Bahagiaku

kekasihmu pergi dariku lagi
setelah seminggu bersamaku
setelah dua minggu kepergianmu

dia pergi untuk mendekat
pada rumahmu arah sebelah
untuk apa
pasti untuk melepas kerinduan padamu

hatiku kembali kosong
setelah engkau hilang
kini kekasihmu pun hilang dari pandangan

tapi
aku tak begitu khawatir
meskipun jauh di poentjak goenoeng dia ada
aku yakin kerinduan dan hatinya masih tersisa untukku
yang ku tahu tak hanya seserpih
namun sebongkah yang tak akan ada habisnya

ibu…
seminggu engkau di sini…
senyumku mengembang selalu untukmu
meskipun bergelayut sepi dan sendu di matamu
karena selalu mengingat kekasihmu

ibu…
maafkan aku
yang tak selalu menyisihkan banyak waktu untukmu
untuk bercengkerama dan bercerita tentang ini itu

ibu…
mungkin itulah yang membuatmu ingin pulang semalam
mungkin itulah yang tidak bisa membuatmu tenang
karena di sini engkau hanya dimanjakan dalam sepi

ibu…
aku tau kebiasaanmu
yang tak pernah mau diam
yang tak pernah ada jeda waktu untuk engkau kerjakan

ibu…
di sini aku anakmu
di sana juga anakmu

ibu
demi rasa tenang dan bahagiamu
itu bahagiaku
tenaga aku relakan untuk mengantar
serta menjemputmu
kapanppun engkau mau

selamat menjalankan rutinitas
selamat menjalankan aktivitasmu
ibu…
engkau sebagai seorang pekerja keras
petani yang luar biasa bagi anak-anakmu
ada kekasih maupun tiada kini

kerinduanku takkan pernah pupus untukmu ibu…

tidar hari ini mendung, 04092014
Umi Azzurasantika

Selasa, 03 Juni 2014

Syukur





jelang mentari mengintip

ingin kurangkai satu persatu

serpihan syukur padaMu



masih ada terang hari

yang menyinari hati

tuk kutuai

di lembayung senja nanti



hingga malam kembali menemani

rendakan mimpi

dalam hening sunyi senyapMu

yang mengajarkanku

sedalam mengubur kufur



nikmat mana yang mampu kau dustakan?

Tidar Sejoek, 03062014_05.01
Umi Azzurasantika

Senin, 05 Mei 2014

Mimpi menjadi Guru Berprestasi



Senin pagi, aktivitasku sebagai seorang guru kumulai lagi, setelah ada jeda 1 hari di seharian minggu kemarin. Upacara menjadi aktivitas rutin yang dilakukan di sekolah setiap senin. Siswa-siswa yang berjajar rapi dan para guru yang khidmad menghormat bendera. Hanya setengah jam saja dalam seminggu, tapi kadang ada yang malas menjalaninya.
Siangnya, selesai dengan berbagai aktivitas, kepala sekolah melalui iphone memberitahukan bahwa aku dipanggul kabag PPTK Dinas Pendidikan. Pikiranku tidak karuan.. ada apa ini? Jangan-jangan... aku mau ditraktir makan nieh.. hehehe...
Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan 40km perjam saja. Pelan-pelan sambil mencari-cari jawaban di pinggir jalan, siapa tau ketemu... J
Ada berita apa ya? Adakah kasus yang terjadi dengan diriku? Atau ada hubungannya dengan guru prestasi yang lombanya kuikuti seminggu yang lalu? Entahlah... jawaban itu benar-benar belum ketemu.
Masih kuingat seminggu yang lalu, tepatnya sepuluh hari ‘dink’.
Kamis siang di aula sekolah, disela-sela acara Tinjauan Manajemen yang diikuti seluruh keluarga besar SMK. Kepala Sekolah menemuiku. Aku diminta mewakili sekolah untuk maju dalam lomba guru berprestasi.
wehhh.. ‘ dalam hatiku membantah.
Mana mungkin aku maju, aku kan belum punya banyak prestasi. Jadi gurupun baru 8 tahun saja. Minim syarat yang harus terpenuhi. Tapi kepala sekolah berusaha meyakinkanku, aku pasti bisa. Dan... yang terpenting adalah, pengalaman yang dicari, bukan juara yang harus diraih, demi nama baik sekolah. Dari ragu-ragu hingga muncul keyakinan, akhirnya kuiyakan saja. Akan aku lakukan, demi amanah yang sudah dipasrahkan kepadaku. Itu saja keyakinanku.
Pukul empat sore hari itu juga, aku bertandang kepada salah satu temanku yang tahun sebelumnya pernah menjadi juara satu guru berprestasi tingkat kota dan maju ke tingkat provinsi. Banyak yang dia sampaikan kepadaku tentang lomba, yang harus dilakukan dan dikerjakan. Kudengarkan dengan seksama. Pada akhirnya seluruh berkasnya yang satu dos dipinjamkan kepadaku, sebagai referensi katanya. Kuterima dengan bersusah payah membawanya naik ke parkiran... Ya Allah beri aku kekuatan .. doaku dalam hati.
Berbekal berkas satu dus itu, kubolak-balik, kupelajari di rumah. Hingga pukul satu dini hari kubuat komponen-komponen yang harus aku siapkan. Kupikir.. besok pagi tinggal print, foto copy dan tata berkas. Dalam tidurku.. pikiranku tidak bisa tidur, serasa melayang kemana-mana. Banyak hal yang berkutat di dalamnya. Apa yang harus aku kerjakan esok pagi. Jam tiga pun aku terbangun. Sholat kutunaikan dan melanjutkan kembali pekerjaanku. Tak terasa ternyata sudah menjelang pukul 6 pagi. Tak sempat aku masak untuk sarapan anak-anakku. Beli sajalah, yang penting anak-anak bisa makan.

Jumat, hari itu.
Hatiku bertekad, dalam waktu sehari aku harus bisa menyelesaikan semua berkasku. Selembar demi selembar komponen aku print, selesai satu dua pekerjaan kuantar ke Foto Copian, biar dicicil sama masnya tukang FC. Seperti itu teruss....sampai menjelang jumatan. Sudah tak terhitung berapa kali aku naik turun tangga. Bolak balik ruangan kantorku dan tempat FC. Kutata satu persatu portofolioku. Hingga pada akhirnya pukul setengah empat sore, SELESAI... kubawa ke FC untuk dijilid. Sedikit lega dalam hatiku. Aku sudah pesan kepada masnya, besok pagi harus sudah jadi dalam bentuk jilidan karena harus di legalisir kepala sekolah. ~diiyakan~
Dalam waktu lima menit aku sudah melesat di atas aspal menggunakan motor biru, warna kesukaanku... hehehe... jemput anak dari sekolah. Segala yang aku lakukan seperti sekejap saja. Waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba sudah maghrib saja. Ternyata satu tugasku untuk best practice, karya tulis yang harus aku presentasikan besok senin belum selesai aku buat.
Selesai sholat maghrib, menemani belajar anak-anak hingga pukul sembilan, mata ini rasanya sudah tak mampu terbuka lagi, tapi kupaksakan. Anak-anak tidur kulanjutkan membuat best practiceku... hingga pukul satu malam... ternyata tak kunjung usai. Namun alhamdulillah sudah sekitar setengah aku selesaikan. Karena besok pagi aku harus ke Kali Urang Sleman untuk acara lanjutan Tinjauan Manajemen, akhirnya kurebahkan badanku sejenak. Seperti malam sebelumnya... mata dan tubuh tertidur tapi pikiran masih berkeliaran mencari-cari kalimat yang harus aku tulis, kutuangkan dalam karya tulisku.
Dua jam saja aku tertidur. Selesai sholat aku hanya mampu memandang lapyku yang juga tak mau kalah memandangku dengan kesyahduannya... cieeeeee... Karena sudah tak mampu menuliska kata demi kata, kalimat demi kalimat, kuputuskan untuk packing saja. Persiapan menuju Kali Urang.
Jam tujuh pagi selesai mengantar anak-anak sekolah, seluruh jilidan portofolioku ternyata sudah diantar sampai ruang TU, dan kepala sekolah sudah menungguku untuk tanda tangan. Hehehe.. baru kali ini ya, guru ditunggu kepala sekolah... #halah... dan akhirnya tanda tangan itu sudah tersemat manis dalam portofolio dan semua yang terhidang di meja. Hahahahaha.
Berangkatlah aku ke Kali Urang... ngadem sebentar saja. Pikirku.
***

Sebagai panitia dalam Tinjauan Manajemen, membuatku tidak bisa nyambi berkonsentrasi menyelesaikan karya tulis best practice ku. Pekerjaan sebagai panitia memaksaku tidur jam dua pagi. Lelah dan sangat lelah... sampai aku tertidur...
Kriiiiiinnnggg... jam empat pagi alarm berbunyi. Mengagetkanku... terbangun juga aku. Aktivitas sebagai panitia akan segera aku jalani (lagi). Pukul sepuluh pagi.. agak longgar pekerjaanku. Teman-teman membahasa keuangan sekolah, aku menyingkir dari peradaban.. xixixixi.
Dalam waktu satu jam di dalam kamar kuselesaikan bab tiga.... dan..jreeeennnnnnggggg... belum selesai juga.... sampai jam pulang.
Namanya anak-anak.. ibu pergi dua hari semalam.. kangennya luar biasaaaa, aku juga sih... ga sempat pegang lapy menyelesaikan best practiceku yang kurang selangkah saja usai. Hingga pukul sembilan baru bisa megang, ketak ketik, mengerjakan bab terakhir dan halaman depan. Hingga pukul sepuluh malam. Mata ini sudah rapat-rapat ingin tidur, harus kupaksakan tidur, pikirku, kalau tidak aku malah bisa sakit, sedangkan besok pagi aku harus maju lomba... untuk kesekian kali... hanya kupanjatkan doa kepadaNya.. kuatkan aku Ya Allah....
Jam satu dini hari aku terbangun, dengan tiba-tiba, tanpa alarmpun aku sudah langsung bisa beranjak dari tempat tidurku dengan segera. Mataku belum bisa terbuka penuh, akhirnya kuputuskan untuk wudhu dan sholat. Alhamdulillah.. aku lebih segar. Dan dari jam satu malam hingga pukul lima pagi.. aku selesaikan karya tulisku, dan power point untuk presentasiku.
Seperti yang sudah kujanjikan pada mase tukang FC, jam lima pagi aku sudah harus sampai ditempatnya untuk print dan jilid.. #maksa.com. masnyapun berusaha untuk itu.. eeehhh ternyata hingga pukul lima lebih seperempat belum juga dia datang. Karena anakku minta dibelikan nasi kuning untuk bekal sekolah, aku berlari menggunakan sepeda motorku (njuk piye jallll... lari sambil bawa sepeda motor gitu???? Hehehe). Setengah enam baru mase memberitahu kalau sudah di rental. Langsung aku ke sana, dan akhirnya dikerjakan juga jilidanku. Dan aku pulang.... mengantar sekolah anak-anak... ehhh.. kok nggak mandi?? Sudah dong.. kalau itu sih tidak usah diceritakan...wkwkwkwk...
Sambil menunggu kegugupanku ... kuminta tanda tangan kepala sekolahku senin pagi. Pukul delapan kurang seperempat akhirnya aku bisa berangkat menuju tempat lomba. Berkas sebanyak satu dos besar dan satu tas aku titipkan di mobil kepala sekolahku (makasih ya pak.. sudah boleh nitip dalam mobil.. ). Akupun berangkat bersama motor biruku. Anehnya...... selama upacara pembukaan.. aku ngantuk luar biasa.. dan sempat sampai mau jatuh ketika aku duduk mendengarkan pidato kepala dinas dalam upacara pembukaan... #therlaluuuuu....
Dua hari lomba itu kulalui dengan enjoy... tanpa beban.. kujalani saja. Bagiku.. ini adalah kelas pembelajaranku.. aku harus banyak belajar dari pengalaman ini. Aku tidak mentargetkan apa-apa. Untuk juarapun pasti jauh panggang dari api. Bagaimana tidak, masa kerja para peserta lomba lebih banyak, portofolio mereka juga wuiiihhh bejibun deh pokoknya.... juara dua dan tiga tahun lalupun ikut, jadi aku niatkan belajar saja. Alhamdulillah, di hari kedua, pada saat presentasi.. juri mengatakan bahwa best practiceku adalah yang terbaik diantara peserta lomba.. cleesssss... dalam hatiku... sebagai pengobat ngantuk dan lelahku lah pak.... batinku. Usai lomba... rasa lega ruaaarrr biasa. Tugasku sudah selesai. Aku bebassss. Aku tidak memikirkan pengumuman kapan, juara atau tidak.
***

Jawaban pertanyaanku dari sekolah, sepanjang jalan tadi akhirnya kutemukan di Ruang Sidang Dinas Pendidikan Kota. Aku menjadi juara pertama guru berprestasi SMK tingkat kota... tak kusangka... kok bisa ya? Pertanyaan yang sampai saat ini masih berulang-ulang berkutat dalam pikiranku.... Tak pernah aku memimpikan menjadi guru berprestasi, karena aku sangat jauh dari kriteria sebagai guru prestasi. Namun itu sekarang nyata... aku tidak bermimpi...
Syukur Alhamdulillah kupanjatkan doa kepadaMu ya Allah... engkau pasti punya rencana dengan apa yang aku lakukan dan apa yang sudah engkau berikan kepadaku... Berikan kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan amanah ini. Amanah yang harus aku bawa ke tingkat propinsi bulan Juni nanti... agar aku bisa menampilkan yang terbaik dan bisa maksimal semampuku.

Engkau yang akan menilai semua yang aku kerjakan dalam hidupku.
Biarkan ilmu memandu kalbuku...

Tidar_sejoek, 5 Mei 2014
Umi Azzurasantika



Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...