“Ada apa bu?”
Meluncur pertanyaanku
seketika. Melihat air menganak sungai mengalir di pipi ibuku yang teramat aku
sayangi.
Menggeleng.
Hanya menggeleng.
Ada isak. Sengal. Seperti ada yang menyumpal dadanya. Bersusah payah naik turun
mencoba melepaskan karbondioksida yang memenuhi rongga hatinya.
“Aku anakmu
bu, berceritalah.”
Seolah aku
menjadi orang bijaksana sedunia. Seolah menjadi perempuan tegar di hadapan
ibuku. Aku seperti ingin menjelma menjadi ibuku seperti biasanya. Perempuan yang
tak pernah menangis. Senyum selalu tersungging. Sabarnya sungguh luar biasa. Meskipun
timpuk tanganku kadang tak sadar mampir di lengannya. Kadang mulutku meracau
menggores melukai hatinya.
“Nduk, suatu
saat engkau akan memahami apa yang ibu lakukan untukmu”
Hanya seperti
itu yang selalu ibu katakan ketika aku marah padanya. Membelai kepalaku,
tersenyum dan pergi ambil air wudhu. Tanpa banyak cakap. Tidak sepertiku yang
selalu rewel, bawel dan cerewet. Ah.... ibu. Engkaulah wanita yang selalu
menjadi penerang dalam setiap muram wajahku.
Lengang.
Sejurus kemudian.
“Nduk, kamu
tahu kan nak kalau ibu sangat menyayangimu?” harap ibu mendapatkan jawaban yang
mampu meyakinkannya. Mampu mengobati luka hatinya yang mungkin saat ini sedang
bernanah dan berdarah.
Mataku tak
mampu menyimpan berjuta aliran hangat. Berkaca-kaca. Akhirnya tumpah juga. Tak
mampu aku menyampaikan isi hatiku yang berjubel ingin menyambut pertanyaan ibu.
“Semua yang
ibu lakukan demi anak-anakku, demi kamu dan adikmu” lanjut ibu. Matanya menerawang
seolah ada layar terkembang di hadapannya. Ingin dia menuliskan dan melukiskan
semua yang ingin ia bacakan dan perdengarkan kepadaku.
Kedua lenganku
melingkar. Memeluk tubuh tambunnya yang kekar. Sekuat hatinya yang tak pernah
rapuh. Kepalaku tertopang pada bahu bidangnya yang tak pernah lelah menahan
segala beban hidup kami. Perempuan hebat yang bekerja sebagai kepala keluarga
dan kepala rumah tangga untuk kecukupan kami.
Di tangga
samping rumah. Semilir angin menemani dua perempuan dengan lamunannya
masing-masing. Tak pelak, hidungku penuh dengan lelehan bening penyumbat rongga
pernafasanku. Air mataku tak lelah mengalir. Tak mau berhenti. Hingga membasahi
mukena ibu yang belum juga dilepasnya. Usai isya’ ibu selalu menyempatkan diri
untuk mentadaburi malam yang kadang pekat. Penuh bintang. Kadang pula purnama
indah menampakkan senyumnya seperti mengirimkan kehangatan untuk kami berdua di
sini.
“Tak akan ada
seorang ibu manapun yang akan menjerumuskan anaknya” tiba-tiba pecah kesunyian
oleh lembut kalimat ibu. Aku hanya mampu terdiam.
“Setiap
kalimat ibu adalah nasehat untuk kalian”
“Ketika ibu
memegang makanan, yang ibu ingat hanyalah anak-anak ibu. Apakah mereka telah
makan. Apakah mereka makan dengan makanan seperti yang ibu makan.” Lanjut ibu
sambil menyeka air matanya yang sedari tadi mengalir tanpa henti. Aku menahan
gejolakku dalam dada. Bergetar.
“Ketika ibu
membaringkan badan. Apakah anak ibu telah tertidur pulas dengan tersenyum. Berselimutkan
doa ibu pengantar tidurnya.”
Hanya getaran
isak tangis ibu tak beda denganku. Gigiku gemeletuk menahan emosiku. Tak ingin
suara tangisanku semakin membuat ibu sedih.
“Sakit
anakku, ibu yang rasakan. Ibu hanya ingin memeluk kalian, nak. Aku Ibumu.”
Ku peluk erat
ibuku yang semakin menggigil menahan tangisnya. Wajahnya pucat. Suara tangisnya
semakin menjadi. Aku tak mampu tegar seperti yang kuinginkan. Aku tak sekuat
ibuku seperti biasanya. Ibukupun kini rapuh.
“Ibu, masih
ada aku bu. Ini aku anak perempuanmu, yang akan selalu mendukung dan
mendampingimu sampai kapanpun. Aku akan tetap di sampingmu selamanya” parau
suaraku menguatkan ibu.
“Berdamailah
dengan hatimu, bu” mereda tangisan ibu menutup malam ini.
“Adik pasti
mendengar tangisan ibu”
Di atas sana,
purnama mulai tergelincir. Air wudhu memercik membasuh wajahku. Tak berdaya ku
bersimpuh.
“Kekasihku,
penyejuk jiwaku. Rengkuhlah aku. Kuatkanlah aku. Untuk ibuku”
Tidar Sejoek,
23 Oktober 2014
Umi
Azzurasantika
Jadi kangen banget sama Ibu di Jombang sana :)
BalasHapusBagus banget tulisannya, Mbak. Mendesirkan hati ini.
Ustadz Azzets... itulah ibu ..
Hapusselalu menjadi inspirasiku dalam segala hal..
salam untuk ibu ya tadz...
Ustadz Azzets... itulah ibu ..
Hapusselalu menjadi inspirasiku dalam segala hal..
salam untuk ibu ya tadz...
Iya, Mbak, insya Allah... :)
HapusAku terhanyuuut...
BalasHapusmba lis begitulah... makasih ya...
Hapusbelum sebanding dengang semua cerbung dan cerpen mbak liz yang WOW banget deh pokmen....
Salam utk ibu yaaa.... Kerennnn :)
BalasHapusMbak Mpit.,. InsyaAllah ya mbak...
Hapusmakasih...