Kamis, 23 Oktober 2014

Mengeja Jeritan Hati Ibu


“Ada apa bu?”
Meluncur pertanyaanku seketika. Melihat air menganak sungai mengalir di pipi ibuku yang teramat aku sayangi.
Menggeleng.
Hanya menggeleng. Ada isak. Sengal. Seperti ada yang menyumpal dadanya. Bersusah payah naik turun mencoba melepaskan karbondioksida yang memenuhi rongga hatinya.
“Aku anakmu bu, berceritalah.”
Seolah aku menjadi orang bijaksana sedunia. Seolah menjadi perempuan tegar di hadapan ibuku. Aku seperti ingin menjelma menjadi ibuku seperti biasanya. Perempuan yang tak pernah menangis. Senyum selalu tersungging. Sabarnya sungguh luar biasa. Meskipun timpuk tanganku kadang tak sadar mampir di lengannya. Kadang mulutku meracau menggores melukai hatinya.
“Nduk, suatu saat engkau akan memahami apa yang ibu lakukan untukmu”
Hanya seperti itu yang selalu ibu katakan ketika aku marah padanya. Membelai kepalaku, tersenyum dan pergi ambil air wudhu. Tanpa banyak cakap. Tidak sepertiku yang selalu rewel, bawel dan cerewet. Ah.... ibu. Engkaulah wanita yang selalu menjadi penerang dalam setiap muram wajahku.
Lengang.
Sejurus kemudian.
“Nduk, kamu tahu kan nak kalau ibu sangat menyayangimu?” harap ibu mendapatkan jawaban yang mampu meyakinkannya. Mampu mengobati luka hatinya yang mungkin saat ini sedang bernanah dan berdarah.
Mataku tak mampu menyimpan berjuta aliran hangat. Berkaca-kaca. Akhirnya tumpah juga. Tak mampu aku menyampaikan isi hatiku yang berjubel ingin menyambut pertanyaan ibu.
“Semua yang ibu lakukan demi anak-anakku, demi kamu dan adikmu” lanjut ibu. Matanya menerawang seolah ada layar terkembang di hadapannya. Ingin dia menuliskan dan melukiskan semua yang ingin ia bacakan dan perdengarkan kepadaku.
Kedua lenganku melingkar. Memeluk tubuh tambunnya yang kekar. Sekuat hatinya yang tak pernah rapuh. Kepalaku tertopang pada bahu bidangnya yang tak pernah lelah menahan segala beban hidup kami. Perempuan hebat yang bekerja sebagai kepala keluarga dan kepala rumah tangga untuk kecukupan kami.
Di tangga samping rumah. Semilir angin menemani dua perempuan dengan lamunannya masing-masing. Tak pelak, hidungku penuh dengan lelehan bening penyumbat rongga pernafasanku. Air mataku tak lelah mengalir. Tak mau berhenti. Hingga membasahi mukena ibu yang belum juga dilepasnya. Usai isya’ ibu selalu menyempatkan diri untuk mentadaburi malam yang kadang pekat. Penuh bintang. Kadang pula purnama indah menampakkan senyumnya seperti mengirimkan kehangatan untuk kami berdua di sini.
“Tak akan ada seorang ibu manapun yang akan menjerumuskan anaknya” tiba-tiba pecah kesunyian oleh lembut kalimat ibu. Aku hanya mampu terdiam.
“Setiap kalimat ibu adalah nasehat untuk kalian”
“Ketika ibu memegang makanan, yang ibu ingat hanyalah anak-anak ibu. Apakah mereka telah makan. Apakah mereka makan dengan makanan seperti yang ibu makan.” Lanjut ibu sambil menyeka air matanya yang sedari tadi mengalir tanpa henti. Aku menahan gejolakku dalam dada. Bergetar.  
“Ketika ibu membaringkan badan. Apakah anak ibu telah tertidur pulas dengan tersenyum. Berselimutkan doa ibu pengantar tidurnya.”
Hanya getaran isak tangis ibu tak beda denganku. Gigiku gemeletuk menahan emosiku. Tak ingin suara tangisanku semakin membuat ibu sedih.
“Sakit anakku, ibu yang rasakan. Ibu hanya ingin memeluk kalian, nak. Aku Ibumu.”
Ku peluk erat ibuku yang semakin menggigil menahan tangisnya. Wajahnya pucat. Suara tangisnya semakin menjadi. Aku tak mampu tegar seperti yang kuinginkan. Aku tak sekuat ibuku seperti biasanya. Ibukupun kini rapuh.
“Ibu, masih ada aku bu. Ini aku anak perempuanmu, yang akan selalu mendukung dan mendampingimu sampai kapanpun. Aku akan tetap di sampingmu selamanya” parau suaraku menguatkan ibu.
“Berdamailah dengan hatimu, bu” mereda tangisan ibu menutup malam ini.
“Adik pasti mendengar tangisan ibu”
Di atas sana, purnama mulai tergelincir. Air wudhu memercik membasuh wajahku. Tak berdaya ku bersimpuh.
“Kekasihku, penyejuk jiwaku. Rengkuhlah aku. Kuatkanlah aku. Untuk ibuku”

Tidar Sejoek, 23 Oktober 2014
Umi Azzurasantika

8 komentar:

  1. Jadi kangen banget sama Ibu di Jombang sana :)
    Bagus banget tulisannya, Mbak. Mendesirkan hati ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ustadz Azzets... itulah ibu ..
      selalu menjadi inspirasiku dalam segala hal..

      salam untuk ibu ya tadz...

      Hapus
    2. Ustadz Azzets... itulah ibu ..
      selalu menjadi inspirasiku dalam segala hal..

      salam untuk ibu ya tadz...

      Hapus
  2. Balasan
    1. mba lis begitulah... makasih ya...
      belum sebanding dengang semua cerbung dan cerpen mbak liz yang WOW banget deh pokmen....

      Hapus
  3. Salam utk ibu yaaa.... Kerennnn :)

    BalasHapus

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...