Jumat, 27 Desember 2013

Masyarakat Muda Berbudaya



Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan budaya bangsanya. Bangsa Indonesia adalah negara budaya, kaya beragam budaya dari sabang hingga pulau rote. selayaknya budaya itu dilestarikan agar tidak hilang tergerus arus modern. Generasi muda sebagai penerus bangsa berkewajiban untuk memikul tanggung jawab itu. Karena masa depan ada di tangan mereka. Keberlangsungan bangsa di masa depan adalah miliki mereka, dan saat ini kitalah yang bertanggung jawab untuk mempersiapkannya.
Budaya jawa adalah budaya yang bernilai budaya tinggi sarat dengan kekayaan makna. Sangat disesalkan jika budaya itu disia-siakan tanpa di’uri-uri’ oleh masyarakatnya sendiri. Budaya itu akan hilang dengan sendirinya oleh perkembangan jaman dan berjalannya waktu. Budaya-budaya modern yang sangat mudah masuk dalam kehidupan masyarakat lambat laun akan mengesampingkan budaya yang ada di masyarakat yang sudah turun menurun dipelihara.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Gunungkidul sedikit banyak budaya jawa khususnya pada kesenian sesekali masih disajikan dan dinikmati dalam bentuk pertunjukkan dalam kegiatan tertentu. Seperti pada saat rasul atau bersih dusun, ruwatan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sebut saja wayang kulit, kethoprak, reog, rinding gubeng, dan sebagainya. Namun yang sangat memprihatinkan orang-orang yang melihat pertunjukkan itu sangat sedikit sekali, itupun hanya orang-orang yang sudah berumur yang melihatnya, yang tahu dan paham akan kesenian itu. Para pemuda tidak begitu berminat untuk melihat pertunjukan kesenian itu. Mereka lebih suka melihat pertunjukan yang bersifat modern seperti band, jathilan modern, campur sari dan lain-lain. ~Meskipun itu tidak ada salahnya~. Merekapun lebih suka dengan dunia modern seperti bermain alat musik modern, menari modern ala negeri seberang, dan sebagainya. Fenomena yang terjadi, alat musik kesenian tradisional tidak tersentuh oleh mereka untuk dipelajari, kesenian tradisional malas untuk mereka geluti. Ada sebagian yang mempelajari namun persentasenya sangat kecil sekali dan kurang terfasilitasi.
Sebenarnya apa permasalahan yang ada di masyarakat muda ini yang menyebabkan kurang tertarik terhadap kesenian tradisional. Disinyalir penyebabnya adalah, pertama, arus budaya modern yang semakin deras memberikan pengaruh sosial. Gengsi dalam menjalani hidup dan kehidupan sehingga malu terhadap kesenian yang dimilikinya, kesenian yang menjadi kekayaan budaya daerahnya, yang bisa menjadi potensi daerah. Kedua, tidak banyak ditemukan organisasi-organisai kesenian yang fokus ‘nguri-uri kabudayan jawi’ terutama dalam hal kesenian tradisional. Sehingga banyak orang yang sebenarnya memiliki keinginan untuk berkesenian sulit untuk bersosialita kepada sesama seniman. Ketiga, fasilitas sarana dan prasarana yang tidak tersedia. Para masyarakat muda yang memiliki keinginan dan menyimpan talenta tidak memiliki akses untuk menyalurkan bakat dan hobby mereka. Karena fasilitas seperti gedung tempat pertunjukan, alat berkesenian layaknya gamelan, kostum untuk pentas pun juga tidak ada.
Kemunduran masyarakat muda yang kurang minat untuk mempelajari dan menggeluti kesenian tradisional. Kita yang kurang memfasilitasi segela bentuk keinginan untuk mendalami kesenian tradisional inilah seharusnya menjadi sebuah perhatian khusus dan tanggung jawab bagi para orang tua yang akan mempersiapkan generasi muda di masa mendatang. Wadah kreativitas dalam bidang kesenian tradisional menjadi mutlak untuk disediakan agar bisa menjadi ajang kreativitas mereka untuk mengembangkan budaya khususnya kesenian tradisional jawa. Untuk kelangsungan hidup yang akan tetap hidup di masa yang akan datang.

Kalau bukan kita siapa lagi.
Kalau tidak sekarang mau kapan lagi.                                            
Kalau tidak kita kembangkan sendiri apakah harus menunggu orang lain mengambilnya?


Minggu, 22 Desember 2013

BELAJAR SAMBIL MELIHAT TV, Why not..



Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara, serta menjadi anak yang saleh adalah doa yang selalu dipanjatkan orang tua untuk anak-anaknya. Pun saya juga selalu memanjatkan doa itu. Dalam setiap lantunan doa tak terlupa baris kalimat yang saya tujukan untuk orang tua, keluarga, serta untuk anak-anak saya. Ketika anak-anak saya menghadapi ulangan baik ulangan harian, ulangan tengah semester maupun ulangan akhir semester pun saya selalu mendoakan untuk kemudahan dan kelancaran serta keberhasilannya. Selain mendoakan saya juga selalu berusaha memotivasi anak untuk belajar memahami isi pelajaran agar ketika mengerjakan soal tidak kesulitan. Hal ini saya lakukan, karena sebagai orang tua, terutama saya sebagai seorang ibu memiliki rasa khawatir. Jangan-jangan kalau tidak belajar anak tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan oleh gurunya. Menurut saya itu hal yang wajar.
Namun perilaku anak saya jauh dari apa yang saya harapkan tersebut. Saat ini dia berada pada tingkat tiga di Sekolah Dasar. Setiap kali sehari menjelang ulangan atau seminggu menjelang ulangan semester anak saya malah tidak mau belajar. Buku disiapkan dibaca sebentar saja sekitar lima menit kemudian diletakkan. Selama membaca kilat itupun dia tidak lepas dari melihat televisi. Menjadi kebiasaan anak saya, bahwa ketika belajar televisi harus hidup. Sebagai ibu pada awalnya merasa sangat khawatir. Bagaimana mungkin belajar sambil melihat televisi? Kartun sekalipun. Namun ketika saya memaksakan diri untuk mematikan layar monitor televisi, justru dia akan merasa seperti orang stress, ribut, marah, menangis dan akhirnya malah buku tidak tersentuh sama sekali.
Pernah suatu saat saya membiarkan dia belajar sendiri di depan televisi. Saya hanya mengamati dari ruang kerja saya, sedangkan anak saya berada di ruang keluarga, tak lupa televisipun dinyalakan sebelum dia menata buku untuk dia pelajari. Selama hampir dua jam saya mengamati segala aktivitas yang dia lakukan di depan televisi. Pertama dia menata buku sambil melihat televisi yang kebetulan berita waktu itu. Dia tidak segera menyelesaikan aktivitasnya menata buku, tapi malah melihat televisi dengan seksama, setelah berita itu selesai baru dia menyelesaikan aktivitasnya menata buku. Selesai menata buku, dia menempatkan diri sampai mendapatkan ‘PW’ (Posisi Wenak) yang menurut dia bisa melihat televisi pada jarak yang nyaman dan lurus ke arah monitor televisi. Sejurus kemudian, dia membuka buku, membaca, menghafal, menuliskan sesuatu pada sebuah kertas. Matanya tidak melihat televisi tapi memperhatikan buku yang dia pelajari. Namun ketika ada sesuatu yang menarik perhatian yang dia dengarkan dari televisi dia langsung melihat ke arah monitor televisi. Dalam pengamatan saya antara memperhatikan televisi dan melihat buku ternyata lebih banyak melihat buku untuk dia pelajari. Karena selama dia belajar itu, dia menghafal, berlatih menuliskan apa yang dia pelajari di buku untuk dituliskan kembali dalam kertas. Ketika dia kurang paham dia akan bertanya kepada saya yang tidak disampingnya menuju ruang kerja saya. Dan hal itu berlangsung selama hampir dua jam. Ketika dia merasa sudah selesai ‘mempelajari’ bukunya itu, dia dengan sendirinya menuju ke kamar dan minta ijin untuk tidur ke kamar, tanpa mematikan televisi. Dia meminta saya untuk mematikan televisi setelah dia tertidur. Dalam hitungan menit saja, ketika dia sudah masuk kamar, dia akan segera tertidur pulas. Baru televisi saya matikan.
Kejadian yang menurut saya tidak seperti kebanyakan anak-anak dalam belajar yang harus tenang dan enjoy pun terjadi pada minggu kemarin ketika dia menghadapi ulangan akhir semester gasal. “ibu saya tidak mau belajar, saya mau melihat televisi saja, buku sudah saya siapkan” ujarnya ketika dia sudah mendapatkan jadwal ulangan. Karena saya sudah mengalami beberapa kali cara belajarnya, maka saya biarkan saja. Selain itu setelah selesai ulangan pada setiap harinya, dia minta diajak jalan-jalan, entah ke mini market, mall ataupun sekedar keluar rumah, yang penting tidak seharian di rumah menunggu besok pagi untuk mengerjakan ulangan lagi katanya. Sebagai informasi, anak saya pada hari biasa, sekolah dari jam tujuh pagi hingga pukul tiga sore. Jadi ketika ulangan semester berlangsung, dia pulang kurang lebih jam sepuluh atau jam sebelas. Makanya dia tidak ingin menghabiskan waktu ‘lama’ menunggu hari esok di rumah.
Pada semester ini saya ‘legawa’ menerima usulan dan sikapnya untuk sekedar membaca sebentar dan tidak belajar berjam-jam di depan bukunya. Saya ingin melihat dan mungkin dalam hati saya mengatakan “saya ingin membuktikan” apa yang akan terjadi jika cara belajarnya seperti itu. Seperti apa hasilnya ketika seminggu selama dia ulangan semester dia malah ingin enjoy, refreshing menikmati suasana tanpa belajar.
Seminggu berlalu dari ulangan yang dijadwalkan akhirnya hasil ulangan semester itu dibagikan kepada anak saya. Dan hasilnya adalah rata-rata dari sembilan mata pelajaran adalah 89,71 dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 83. Bagi saya ini adalah prestasi yang luar biasa. Memang tidak ada nilai 100 di sana. Tapi merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi kami orang tuanya. Karena memang kami selalu menekankan kepadanya, kami sebagai orang tua tidak pernah menuntut dia untuk mendapatkan nilai 100 dari hasil ulangannya. Kami lebih baik mendapatkan nilai kurang dari 100 tapi jujur daripada mendapatkan nilai 100 semua tapi hasil bertanya atau nyontek pekerjaan teman. Dan itu terbukti. Selain itu kami juga tidak pernah menuntut dia agar menjadi juara, rangking sepuluh besar, tiga besar, dan sebagainya. Kami selaku orang tua lebih mengutamakan soft skill dari pada kepandaian yang hanya menghafal dan pandai mengerjakan tapi tidak paham. Dan itupun sudah dia (anak saya) alami sendiri. Dari segi pelajaran sepeti itulah yagn dia lakukan, dan hasilnya tidak mengecewakan. Sedangkan dari segi soft skill, dari kelas satu bakat untuk berbisnis sudah dia miliki. Ketika kami pergi belanja, yang menjadi tujuan pertamanya adalah book store. Di sana dia akan membeli barang-barang kecil yang satu bungkus berisi banyak. Mulai dari penghapus lucu, tempelan-tempelan di buku untuk menuliskan nama, block note mini. Waktu itu saya bingung, untuk apa sebenarnya dia membeli sebanyak itu. Setelah beberapa hari baru saya tahu. Dari apa yang dia beli dalam jumlah banyak itu dia jual kembali kepada teman-temanya dengan selisih harga yang tidak terlalu banyak. Dan itu berlangsung dari kelas satu hingga kelas tiga sekarang ini. Di mana ada peluang untuk dia menjual barang keperluan untuk teman-temannya dia selalu ‘berbelanja’ kemudian menjualnya kembali kepada teman-temannya. Sebulan yang lalu pun seperti itu. Ketika ada praktik pelajaran IPA, anak-anak harus membawa balon untuk praktik tentang udara yang menempati ruang. Ketika dia membeli balon, dia tidak membeli satu atau dua untuk keperluan dia sendiri, tapi dia membeli satu pak balon kira-kira jumlahnya ada sepuluh buah. Saya bertanya “untuk apa membeli sebanyak itu?”. “Adalah Bu” katanya. Sepulang dari sekolah dia menyampaikan bahwa balonnya sudah habis terjual, dibeli oleh teman-temannya karena teman-temannya lupa tidak membawa. Dan uang hasil penjualan itu memiliki selisih dua ribu rupiah dari pembelian. Dan uang itu dia masukkan ke ‘celengan’ dhuafa seribu rupiah dan seribu rupiah untuk dia pakai sebagai uang jajan, dan yang lain dia kembalikan kepada saya, sebagai modalnya katanya. Bagi saya semua yang dia lakukan adalah sangat luar biasa. Sebagai anak berumur delapan tahun sudah bisa mengatur hal keuangan seperti itu. Dan yang sangat mengharukan bagi saya, pada saat saya ulang tahun di tahun ini, dia memberikan saya satu toples kue coklat seharga empat puluh enam ribu rupiah yang dia beli dari ustadzahnya di sekolah karena waktu itu bersamaan dengan masa-masa puasa menjelang lebaran, sehingga banyak kue yang di jajakan.
“Ibu, ini kue coklat untuk hadiah ulang tahun ibu, kue ini adik beli dari uang yang adik kumpulkan dari penjualan block note selama setahun lo bu”. Air mata saya menetes saat itu. Terima kasih Ya Allah.... Kau berikan kami amanah yang begitu cerdas atas segala limpahan rahmad dariMu.

“manusia memiliki otak kanan dan otak kiri, dimana dalam setiap otak memiliki keterampilan yang khas dalam urutan kerja yang sangat rapi, setiap orang memiliki banyak sekali keterampilan intelektual, berpikir, dan kreativitas. Otak kanan dan otak kiri harus diseimbangkan untuk membentuk pribadi yang sinergis mampu menyikapi kehidupan berdasarkan logika maupun berdasarkan emosional. Sehingga melahirkan manusia yang bertaqwa, cerdas dan kreatif”

*salam pendidikan*

~tidar penuh cinta~22122013~

Sabtu, 14 Desember 2013

Rona Kuning Gading

Wajahmu kuning gading semu merona
Malu mengintip diantara pucuk dedaunan
Mengantarkan warna dunia penuh asa
Menyapa hati penuh menawan
#
Kau sujudkan patuhmu dikeseharian
Berlutut tekuk dalam kesendirian
Memancarkan rona kebahagiaan
DiperintahNya tanpa ganjalan
#
Gulita dunia tanpamu
Genta kehidupan merayap karenamu
Derap nadi cinta karena sinarmu
Secercah harapan dari kilau ciptaanMu

~KemilaupagidalamsyukurMu~
Sabtuindah14122013

Jumat, 13 Desember 2013

Kekasihku



Sepagi indah kuterjaga dari mimpi panjangku
Mengiringi gentarku membuka mataku
ketidakmampuanku bangun menatapMu kasihku
Memudar bersama titik embun disela-sela senyapku
#
Kosong hampa dalam jiwa
Meniti pagi yang kalap menerjang malam
Terus menyeruak mencariMu pada indahnya alam
Mengantarkanku menengadah rendahkan jumawa
#
Kaulah restu dalam hidupku
Kaulah nyawa dalam nadiku
Antarkan kasihMu sepenuh cintaMu
padaku yang selalu merinduMu
#

~simpuhku dalam dingin~
Salam peluk cium
*0412013*

AKU INGIN MEMBAHAGIAKAN KALIAN



Umumnya setiap anak menuntut kepada orang tuanya untuk dibahagiakan. Setiap permintaannya harus dituruti oleh orang tuanya. Itulah perilaku seorang anak yang belum dewasa kepada orang tuanya. Seperti aku waktu dulu, setiap kali minta sesuatu selalu minta dituruti, kalau tidak biasanya aku akan merasakan sakit panas di sekujur tubuhku. Gejala yang sampai saat inipun tidak aku mengerti. Apakah sugesti atau bagaimana. Tapi itulah yang terjadi ketika “setiap” permintaanku ditunda pemenuhannya oleh orang tuaku.
Jika kuingat hal itu, rasanya aku menyesal sekali. Di waktu kecilku aku tidak pernah berpikir bagaimana orang tua berusaha untuk membahagiakan anaknya. Demi kebahagiaan anaknya pasti berbagai cara mereka lakukan. Masih kuingat waktu kecil dulu, aku minta dibelikan sandal yang baru trend kala itu, karena belum ada uang aku sakit. Dengan susah payah bapakku membelah kayu yang ada kemudian dijual ke pasar untuk sekedar mendapatkan uang tak seberapa yang penting bisa untuk membelikan sandal permintaanku. Betapa bahagianya aku waktu itu, sandal yang aku inginkan sudah di tangan. Orang tuakupun begitu lega melihat anaknya tersenyum gembira dengan sandal barunya, dan tak sakit panas lagi.
Sekarang, aku sudah dewasa bahkan sudah berkeluarga. Namun tak banyak waktu dan pikiran serta materi yang bisa aku sisihkan untuk mereka, kedua orang tuaku. Aku lebih banyak memikirkan diriku sendiri, kehidupanku sendiri, keluargaku sendiri, masa depanku sendiri. Aku tidak seperti mereka waktu itu, yang dengan sekuat tenaga, dengan susah payah berusaha untuk memenuhi segala keinginanku. Namun saat ini hatiku sedikit tergerak untuk melakukan itu. Kalau tidak sekarang kapan lagi aku akan membalas semua yang telah mereka lakukan padaku, demi kebahagiaanku.
Di waktu kecilku aku digendong kesana kemari. Dipenuhi segala keinginanku. Ketika mereka merasa tidak mampu untuk menyekolahkanku, aku “memaksa” untuk terus melanjutkan sekolahku, yang akhirnya dipenuhi juga oleh mereka, meskipun dengan segala daya upaya.
Masih kuingat dalam benakku. Di suatu pagi, aku di rumah sarapan dengan “thiwul” dan “sambel bawang” waktu itu. Thiwul adalah makanan dari tepung singkong yang dimasak dengan cara dikukus. Sedangkan sambel bawang adalah sambel dari cabai mentah dicampur dengan bawang putih dan garam serta sedikit bumbu penyedap. Kunikmati dengan lahapnya. Ketika aku pamit, aku minta uang saku kepada ibuku, ibu bilang
“tidak ada uang untuk uang saku, nanti kamu ketemu bapak di jalan minta saja kepada bapak, karena bapak baru ke pasar menjual sepikul kayu bakar”.
Ya Allah, ketika kuingat waktu itu, betapa besar perjuangan mereka. Harga sepikul kayu bakar yang kira-kira waktu itu hanya Rp 4.500,- saja, dibagikan untuk uang sakuku Rp 1.000,- dan sisanya untuk membeli kebutuhan makan hari itu.
Ketika SMP dan SMK akupun punya ide, ibuku tak suruh membuat jajan camilan yang bisa dititipkan di kantin sekolah, dan aku yang menawarkan ke warung kantin tersebut. Dan akhirnya itu berhasil. Setiap berangkat sekolah aku membawa tas belanjaan berisi jajan camilan untuk kutitipkan ke kantin. Ketika istirahat tiba, jajanan titipanku belum juga laku, dan akhirnya aku ngutang dulu di kantin untuk makan sekedarnya. Selesai pelajaran aku tidak segera pulang tapi ke kantin dulu untuk mengambil pembayaran dari hasil titipan jajananku tadi. Dan yang pasti dikurangi untuk membayar utang jajanku yang sudah aku makan tadi pada waktu istirahat. Dan itu terjadi selama kurang lebih 2 tahun dari kelas 2 SMP hingga kelas 3. Semua itu aku nikmati dengan tanpa beban.
Dengan paksaanku kepada orang tuaku akhirnya aku berhasil memasuki SMK favorit di daerahku waktu itu. Aku masuk SMK 1, dan yang jelas usahaku di SMP dilanjutkan oleh ibuku. Setiap hari ibu naik sepeda onthel dengan “krombong” pulang pergi membawa dagangan berkeliling dari satu kantin sekolah ke kantin sekolah lain. Luar biasa perjuangan ibuku. Dan akupun tak mau kalah berjuang dengan wanita yang telah melahirkanku. Aku setiap hari membawa “gorengan” ke sekolah. Dan konsumenku adalah teman-teman sekelasku dan juga teman-teman tetangga kelas. Hasilnya bisa untuk naik bis pulang pergiku ke sekolah yang berjarak kurang lebih 10km dan untuk uang jajanku. Waktu itu aku agak ringan beban sekolahku karena aku mendapatkan beasiswa supersemar. Sampai-sampai aku lupa berapa SPP ku waktu itu. Ya Allah... terima kasih atas kemudahan yang Kau berikan dalam kehidupanku.
Kuliahpun kujalani tanpa sengaja. Setahun berjalan dari kelulusan SMK ku aku bekerja di kota propinsi yang berada lingkungan mahasiswa. Yang pada akhirnya membuatku terpengaruh dengan “sugesti” mereka. Dengn diam-diam akhirnya aku mendaftar bimbingan belajar dan mendaftar kuliah,  dan DITERIMA. Uang pembayaran pertama kuliahku aku bayar dengan sedikit simpanan dan sebagian besar aku pinjam dari teman kostku waktu itu. Sungguh nekat sekali aku waktu itu. Setelah semua beres, waktunya aku membayar hutangku, yang hanya diberi waktu satu minggu oleh temanku untuk membayarnya. Karena bingung harus mencari ke mana. Akhirnya aku pulang juga ke rumah orang tuaku, untuk menyampaikan berita bahwa aku  telah lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan tak lupa juga aku sampaikan bahwa aku mempunyai hutang kepada teman untuk membayar uang pertama kuliahku. Agak shock mereka waktu itu. Antara senang anaknya bisa kuliah dan harus membayar hutang yang tidak disangka-sangka itu. Dengan terpaksa akhirnya mereka menjual harta yang mereka miliki yaitu seekor kambing yang sebenarnya adalah tabungan mereka. Uang hasil penjualan kambing akhirnya kubawa untuk membayar hutang.
Ketika kuingat semua itu, betapa besar perjuanganmu bapak ibuku. Kini kutelah bekerja, bahkan telah menjadi pegawai negeri. Karena doa kalian, karena perjuangan kalianlah aku bisa sampai di titik ini sekarang. Akupun telah bisa melanjutkan studi S2 ku dari hasil kerjaku. Aku ingin membuktikan kepada kalian bahwa perjuangan kalian telah bisa membiayai studiku itu sendiri. Dan kini tinggal giliranku untuk membahagiakan kalian.
#
Beberapa minggu yang lalu ibu bapakku “nguda rasa”, berkeluh kesah dalam bahasa indonesianya. Bahwa radio yang dimiliki oleh mereka rusak. Akhirnya kehidupan mereka sepi, karena itulah hiburan bagi mereka dalam keseharian mereka. Sambil mengerjakan sesuatu mereka bisa sambil mendengarkan radio sebagai “rengeng-rengeng” kata orang jawa, yaitu bersenandung menikmati alunan musik dan lagu. Aku tidak segera mengiyakan waktu itu, aku merasa kebutuhanku sendiri dan keluarga sungguh sangat luar biasa banyaknya. Namun dalam hati aku berjanji aku harus memenuhi permintaan mereka. Aku tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang menjadi penyesalanku yang kedua.
Beberapa tahun yang lalu, ibuku minta dibelikan hp, dia berharap dengan dibelikan hp bisa berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang jauh dari mereka. Aku mengiyakan tapi aku minta bersabar. Selang beberapa minggu setelah permintaannya itulah, sebuah kejadian yang seumur hidupku sangat aku sesali terjadi. Ibuku sakit di malam hari, karena rumahku jauh dari tetangga, bapakku membangunkan tetangga tidak juga bangun. Melihat kondisi ibuku yang sakit sungguh sangat menghawatirkan, bapakku menggendong ke rumah kakakku yang jaraknya 1 km. Sungguh suatu kebetulan di jalanpun bapakku tidak bertemu orang untuk dimintai tolong. Diceritakan oleh bapakku waktu itu, dengan susah payah bapak menggendong ibu, di jalan ibu muntah darah. Karena kelelahan bapakku berhenti di jalan beberapa kali, yang pada akhirnya setelah beberapa jam sampai juga di rumah kakakku. Dengan berurai air mata kakakku menghampiri keduanya di teras rumahnya. Dengan wajah kepayahan bapakku kelelahan menggendong ibu, dan ibuku yang sudah muntah berkali-kali yang pada akhirnya lemas tak berdaya. Gara-gara tidak bisa berkomunikasi kejadian itu menimpa mereka. Gara-gara aku menunda untuk membelikan hp sebagai alat komunikasi mereka mengalami kejadian yang luar biasa, yang sungguh tidak aku bayangkan bagaimana perjuangan kaki renta ayahku menggendong ibuku sampai di tempat kakakku. Maafkan aku ibu bapakku, ampuni dosaku Ya Allah.
Kejadian itu tak ingin ku ulangi lagi. Mereka hanya minta dibelikan radio, yang harganya pasti tak seberapa, namun aku yakin pasti itu adalah kebahagiaan yang mereka impikan. Bisa mendengarkan radio lagi, karena radio mereka rusak. Pada akhirnya kubelikan mereka radio sederhana untuk mereka. Karena bapakku petani, ingin bisa mendengarkan radio di saat di kebun sekalipun. Kubelikan radio kecil yang bisa menggunakan arus listrik dan juga menggunakan batu bateray. Tujuannya adalah ketika di kebun bisa ditenteng ke kebun, ketika di rumah bisa menggunakan arus listrik untuk didengarkan. Dan sungguh luar biasa tanggapan mereka. Mereka berdua sangat bahagia mendapatkan radio kecil itu. Aku ingin menangis waktu itu, tapi aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Aku tersenyum dan meledeki mereka.
“Sekarang sudah punya radio, didengarkan berdua ya, ga boleh rebutan”.
Selorohku untuk mereka berdua, dan mereka tersenyum dan bahkan tertawa lepas. Terima kasih ya Allah, Kau berikan kebahagiaan untuk mereka, di sisa-sisa umur mereka. Di masa tua mereka dalam menikmati hidup ini. Meskipun hanya dengan radio kecil semoga menjadi kebahagiaan kalian ibu bapakku, orang tuaku tercinta. Kuingin membahagiakan kalian semampu aku bisa. Meskipun yang aku lakukan tak sebanding dengan semua perjuangan yang telah kalian lakukan untukku. Terima kasih ibu, terima kasih bapak. Peluk cium untuk kalian.

Ngasem ayu, Bendorejo indah.
Dusun kecil di pinggir Gunungkidul, Yogyakarta.
*11122013*

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...