Jumat, 13 Desember 2013

AKU INGIN MEMBAHAGIAKAN KALIAN



Umumnya setiap anak menuntut kepada orang tuanya untuk dibahagiakan. Setiap permintaannya harus dituruti oleh orang tuanya. Itulah perilaku seorang anak yang belum dewasa kepada orang tuanya. Seperti aku waktu dulu, setiap kali minta sesuatu selalu minta dituruti, kalau tidak biasanya aku akan merasakan sakit panas di sekujur tubuhku. Gejala yang sampai saat inipun tidak aku mengerti. Apakah sugesti atau bagaimana. Tapi itulah yang terjadi ketika “setiap” permintaanku ditunda pemenuhannya oleh orang tuaku.
Jika kuingat hal itu, rasanya aku menyesal sekali. Di waktu kecilku aku tidak pernah berpikir bagaimana orang tua berusaha untuk membahagiakan anaknya. Demi kebahagiaan anaknya pasti berbagai cara mereka lakukan. Masih kuingat waktu kecil dulu, aku minta dibelikan sandal yang baru trend kala itu, karena belum ada uang aku sakit. Dengan susah payah bapakku membelah kayu yang ada kemudian dijual ke pasar untuk sekedar mendapatkan uang tak seberapa yang penting bisa untuk membelikan sandal permintaanku. Betapa bahagianya aku waktu itu, sandal yang aku inginkan sudah di tangan. Orang tuakupun begitu lega melihat anaknya tersenyum gembira dengan sandal barunya, dan tak sakit panas lagi.
Sekarang, aku sudah dewasa bahkan sudah berkeluarga. Namun tak banyak waktu dan pikiran serta materi yang bisa aku sisihkan untuk mereka, kedua orang tuaku. Aku lebih banyak memikirkan diriku sendiri, kehidupanku sendiri, keluargaku sendiri, masa depanku sendiri. Aku tidak seperti mereka waktu itu, yang dengan sekuat tenaga, dengan susah payah berusaha untuk memenuhi segala keinginanku. Namun saat ini hatiku sedikit tergerak untuk melakukan itu. Kalau tidak sekarang kapan lagi aku akan membalas semua yang telah mereka lakukan padaku, demi kebahagiaanku.
Di waktu kecilku aku digendong kesana kemari. Dipenuhi segala keinginanku. Ketika mereka merasa tidak mampu untuk menyekolahkanku, aku “memaksa” untuk terus melanjutkan sekolahku, yang akhirnya dipenuhi juga oleh mereka, meskipun dengan segala daya upaya.
Masih kuingat dalam benakku. Di suatu pagi, aku di rumah sarapan dengan “thiwul” dan “sambel bawang” waktu itu. Thiwul adalah makanan dari tepung singkong yang dimasak dengan cara dikukus. Sedangkan sambel bawang adalah sambel dari cabai mentah dicampur dengan bawang putih dan garam serta sedikit bumbu penyedap. Kunikmati dengan lahapnya. Ketika aku pamit, aku minta uang saku kepada ibuku, ibu bilang
“tidak ada uang untuk uang saku, nanti kamu ketemu bapak di jalan minta saja kepada bapak, karena bapak baru ke pasar menjual sepikul kayu bakar”.
Ya Allah, ketika kuingat waktu itu, betapa besar perjuangan mereka. Harga sepikul kayu bakar yang kira-kira waktu itu hanya Rp 4.500,- saja, dibagikan untuk uang sakuku Rp 1.000,- dan sisanya untuk membeli kebutuhan makan hari itu.
Ketika SMP dan SMK akupun punya ide, ibuku tak suruh membuat jajan camilan yang bisa dititipkan di kantin sekolah, dan aku yang menawarkan ke warung kantin tersebut. Dan akhirnya itu berhasil. Setiap berangkat sekolah aku membawa tas belanjaan berisi jajan camilan untuk kutitipkan ke kantin. Ketika istirahat tiba, jajanan titipanku belum juga laku, dan akhirnya aku ngutang dulu di kantin untuk makan sekedarnya. Selesai pelajaran aku tidak segera pulang tapi ke kantin dulu untuk mengambil pembayaran dari hasil titipan jajananku tadi. Dan yang pasti dikurangi untuk membayar utang jajanku yang sudah aku makan tadi pada waktu istirahat. Dan itu terjadi selama kurang lebih 2 tahun dari kelas 2 SMP hingga kelas 3. Semua itu aku nikmati dengan tanpa beban.
Dengan paksaanku kepada orang tuaku akhirnya aku berhasil memasuki SMK favorit di daerahku waktu itu. Aku masuk SMK 1, dan yang jelas usahaku di SMP dilanjutkan oleh ibuku. Setiap hari ibu naik sepeda onthel dengan “krombong” pulang pergi membawa dagangan berkeliling dari satu kantin sekolah ke kantin sekolah lain. Luar biasa perjuangan ibuku. Dan akupun tak mau kalah berjuang dengan wanita yang telah melahirkanku. Aku setiap hari membawa “gorengan” ke sekolah. Dan konsumenku adalah teman-teman sekelasku dan juga teman-teman tetangga kelas. Hasilnya bisa untuk naik bis pulang pergiku ke sekolah yang berjarak kurang lebih 10km dan untuk uang jajanku. Waktu itu aku agak ringan beban sekolahku karena aku mendapatkan beasiswa supersemar. Sampai-sampai aku lupa berapa SPP ku waktu itu. Ya Allah... terima kasih atas kemudahan yang Kau berikan dalam kehidupanku.
Kuliahpun kujalani tanpa sengaja. Setahun berjalan dari kelulusan SMK ku aku bekerja di kota propinsi yang berada lingkungan mahasiswa. Yang pada akhirnya membuatku terpengaruh dengan “sugesti” mereka. Dengn diam-diam akhirnya aku mendaftar bimbingan belajar dan mendaftar kuliah,  dan DITERIMA. Uang pembayaran pertama kuliahku aku bayar dengan sedikit simpanan dan sebagian besar aku pinjam dari teman kostku waktu itu. Sungguh nekat sekali aku waktu itu. Setelah semua beres, waktunya aku membayar hutangku, yang hanya diberi waktu satu minggu oleh temanku untuk membayarnya. Karena bingung harus mencari ke mana. Akhirnya aku pulang juga ke rumah orang tuaku, untuk menyampaikan berita bahwa aku  telah lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan tak lupa juga aku sampaikan bahwa aku mempunyai hutang kepada teman untuk membayar uang pertama kuliahku. Agak shock mereka waktu itu. Antara senang anaknya bisa kuliah dan harus membayar hutang yang tidak disangka-sangka itu. Dengan terpaksa akhirnya mereka menjual harta yang mereka miliki yaitu seekor kambing yang sebenarnya adalah tabungan mereka. Uang hasil penjualan kambing akhirnya kubawa untuk membayar hutang.
Ketika kuingat semua itu, betapa besar perjuanganmu bapak ibuku. Kini kutelah bekerja, bahkan telah menjadi pegawai negeri. Karena doa kalian, karena perjuangan kalianlah aku bisa sampai di titik ini sekarang. Akupun telah bisa melanjutkan studi S2 ku dari hasil kerjaku. Aku ingin membuktikan kepada kalian bahwa perjuangan kalian telah bisa membiayai studiku itu sendiri. Dan kini tinggal giliranku untuk membahagiakan kalian.
#
Beberapa minggu yang lalu ibu bapakku “nguda rasa”, berkeluh kesah dalam bahasa indonesianya. Bahwa radio yang dimiliki oleh mereka rusak. Akhirnya kehidupan mereka sepi, karena itulah hiburan bagi mereka dalam keseharian mereka. Sambil mengerjakan sesuatu mereka bisa sambil mendengarkan radio sebagai “rengeng-rengeng” kata orang jawa, yaitu bersenandung menikmati alunan musik dan lagu. Aku tidak segera mengiyakan waktu itu, aku merasa kebutuhanku sendiri dan keluarga sungguh sangat luar biasa banyaknya. Namun dalam hati aku berjanji aku harus memenuhi permintaan mereka. Aku tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang menjadi penyesalanku yang kedua.
Beberapa tahun yang lalu, ibuku minta dibelikan hp, dia berharap dengan dibelikan hp bisa berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang jauh dari mereka. Aku mengiyakan tapi aku minta bersabar. Selang beberapa minggu setelah permintaannya itulah, sebuah kejadian yang seumur hidupku sangat aku sesali terjadi. Ibuku sakit di malam hari, karena rumahku jauh dari tetangga, bapakku membangunkan tetangga tidak juga bangun. Melihat kondisi ibuku yang sakit sungguh sangat menghawatirkan, bapakku menggendong ke rumah kakakku yang jaraknya 1 km. Sungguh suatu kebetulan di jalanpun bapakku tidak bertemu orang untuk dimintai tolong. Diceritakan oleh bapakku waktu itu, dengan susah payah bapak menggendong ibu, di jalan ibu muntah darah. Karena kelelahan bapakku berhenti di jalan beberapa kali, yang pada akhirnya setelah beberapa jam sampai juga di rumah kakakku. Dengan berurai air mata kakakku menghampiri keduanya di teras rumahnya. Dengan wajah kepayahan bapakku kelelahan menggendong ibu, dan ibuku yang sudah muntah berkali-kali yang pada akhirnya lemas tak berdaya. Gara-gara tidak bisa berkomunikasi kejadian itu menimpa mereka. Gara-gara aku menunda untuk membelikan hp sebagai alat komunikasi mereka mengalami kejadian yang luar biasa, yang sungguh tidak aku bayangkan bagaimana perjuangan kaki renta ayahku menggendong ibuku sampai di tempat kakakku. Maafkan aku ibu bapakku, ampuni dosaku Ya Allah.
Kejadian itu tak ingin ku ulangi lagi. Mereka hanya minta dibelikan radio, yang harganya pasti tak seberapa, namun aku yakin pasti itu adalah kebahagiaan yang mereka impikan. Bisa mendengarkan radio lagi, karena radio mereka rusak. Pada akhirnya kubelikan mereka radio sederhana untuk mereka. Karena bapakku petani, ingin bisa mendengarkan radio di saat di kebun sekalipun. Kubelikan radio kecil yang bisa menggunakan arus listrik dan juga menggunakan batu bateray. Tujuannya adalah ketika di kebun bisa ditenteng ke kebun, ketika di rumah bisa menggunakan arus listrik untuk didengarkan. Dan sungguh luar biasa tanggapan mereka. Mereka berdua sangat bahagia mendapatkan radio kecil itu. Aku ingin menangis waktu itu, tapi aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Aku tersenyum dan meledeki mereka.
“Sekarang sudah punya radio, didengarkan berdua ya, ga boleh rebutan”.
Selorohku untuk mereka berdua, dan mereka tersenyum dan bahkan tertawa lepas. Terima kasih ya Allah, Kau berikan kebahagiaan untuk mereka, di sisa-sisa umur mereka. Di masa tua mereka dalam menikmati hidup ini. Meskipun hanya dengan radio kecil semoga menjadi kebahagiaan kalian ibu bapakku, orang tuaku tercinta. Kuingin membahagiakan kalian semampu aku bisa. Meskipun yang aku lakukan tak sebanding dengan semua perjuangan yang telah kalian lakukan untukku. Terima kasih ibu, terima kasih bapak. Peluk cium untuk kalian.

Ngasem ayu, Bendorejo indah.
Dusun kecil di pinggir Gunungkidul, Yogyakarta.
*11122013*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...