![]() |
| https://www.duniabelajaranak.id |
Baik itu tentang sekolahnya, lesnya, teman-temannya, pengalamannya selama sehari di luar rumah. Tak pelak curhat tentang perasaannya akan muncul.
Bagi kami, hal ini sangat bermanfaat. Dengan begitu kami tidak perlu bersusah payah untuk meminta anak untuk bercerita. Dengan senang hati tanpa paksaan mereka akan bercerita. Hal ini akan memudahkan orang tua untuk mengetahui perkembangan anak, baik secara fisik maupun secara psikis.
Banyak orang tua yang sangat susah mengajak bicara anak, hingga anak menjadi introvert. Anak memendam apa yang ia rasakan. Tidak bisa bicara dengan orang lain. Akibatnya macam-macam. Anak bisa jadi tertutup. Stress memendam masalahnya sendiri. Melakukan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Kurang kontrol logika. Bisa jadi hal ini disebabkan karena anak kurang bisa mengungkapkan perasaannya. Baik melalui gambar, tulisan, maupun lisan sekalipun.
Suatu hari saya ngobrol dengan anak saya. Seperti halnya setiap hari yang kami lakukan. Namun dalam pembicaraan kami ada koridor atau bisa disebut 'kode etik' yang tidak boleh dilanggar. Sebagai contoh, ketika anak saya bercerita dia akan memberikan warning kepada saya 'Saya mau cerita, tapi Ibu dengarkan saja, tak boleh berkomentar'. Atau suatu saat dia akan bercerita dan bilang 'Habis saya cerita, Ibu nanti beri komentar ya'. Nah, seperti itu.
'Aturan' semacam ini saya turuti. Kenapa? Karena hal ini penting. Sebagai anak dia ingin cerita, di lain sisi dia tidak mau terganggu privasinya. Mungkin dia malu bercerita, tapi dia harus mengungkapkan. Hal ini saya iyakan saja. Di sini ada keuntungan, bahwa orang tua menghargai setiap apa yang diungkapkan anak. Apa yang menjadi hak bicara anak. Terpenting saya menerapkan demokrasi dalam diri anak namun anak tidak merasa bahwa itu adalah sebuah pembelajaran hidup.
Hingga pada sore kemarin anak saya bercerita. Lalu saya komentar sedikit saja. Jawabnya begini: "Bukankah hanya kata-kata yang mengungkapkan isi hati."
Weit...
Saya hanya senyum.
Apa tadi? Saya memastikan. Dia jawab lagi.
Saya hanya senyum.
Apa tadi? Saya memastikan. Dia jawab lagi.
"Takkan kuulang setiap kata yang telah selesai kuucap."
Saya semakin tergelak.
Diulang kan gapapa Kak.
Diulang kan gapapa Kak.
"Hanya orang bijak yang bisa mendengarkan kata-kata satu kali saja."
Hahahaha...
Luar biasa. Terpingkal-pingkal Saya hampir tersedak.
Eh dia ngomong lagi.
Luar biasa. Terpingkal-pingkal Saya hampir tersedak.
Eh dia ngomong lagi.
"Hati-hati dengan tertawa karena di balik tawa ada tersimpan duka."
MasyaAllah...
Dari mana coba dia dapat kata-kata itu.
Sambil dia cerita, saya catat dalam note HP. Dia nggak mau kalau ditulis semua omongannya.
Dari mana coba dia dapat kata-kata itu.
Sambil dia cerita, saya catat dalam note HP. Dia nggak mau kalau ditulis semua omongannya.
Jangan dicatat, to, Buk.
"Apakah ibu tak tau, bahwa semua kata-kata tak harus ditulis. Karena semua adalah kenangan indah yang tak terlupa."
"Apakah ibu tak tau, bahwa semua kata-kata tak harus ditulis. Karena semua adalah kenangan indah yang tak terlupa."
Wakakakakaka...
Anak siapa ini. Heran sendiri, Saya.
Anak siapa ini. Heran sendiri, Saya.
Masih sambil cerita.
"Aku tau sekarang. Bahwa semua perbuatan itu ada akibatnya.
Jangan pernah sesali setiap perbuatan, karena semua kita yang lakukan sendiri
Makanya harus hati-hati dalam berbuat dan apapun yg kita lakukan biar tak menyesal kemudian."
Sembari membereskan piringnya dia pergi.
***
Sedewasa inikah anakku?
Setelah saya telusur. Satu-satu saya perhatikan. Sepertinya ini pengaruh bacaannya. Hampir setiap hari dia baca satu buku di perpus sambil menunggu dijemput.
Kadang saya harus sabar menunggu di depan perpustakaan. Menunggu dia menyelesaikan bacaannya.
Harapannya semoga bermanfaat baginya kelak. Jadi pembaca yang baik dan penulis hebat. Mampu menjadi pendengar yang baik juga mampu becerita dengan baik. Tidak menyinggung perasaan orang lain dan mampu menyampaikan perasaannya dengan sebaik-baiknya.
Tidar, 16012017
Tidar, 16012017

hashahahahaaaaa....iyo mbak, aku yo acap kali takjub nek anakku serius ngomong...halahh kalimatnya kadangkala menggubrak duniakuu
BalasHapusNah yo kui...
HapusKalimat yang tersimpan di otaknya mungkin sudah milyaran. Ketika dia punya kesempatan untuk mengungkapkan, akhirnya yang ke luar kalimat macam itu...
Nah ini ketahuan mencatat :-D
BalasHapusHahaha...
HapusIya mbak Yayan..
Ini melanggar kode etik
Tapi dia tau kalau saya mencatat kok
Jangan pernah sesali setiap perbuatan, karena semua kita yang lakukan sendiri
BalasHapusMakanya harus hati-hati dalam berbuat dan apapun yg kita lakukan biar tak menyesal kemudian."
Mbak Tika, kalimatmu jos tenan. Semoga selalu menjadi qurrota a'yun buat ibuk ya? Proud of You, mb Tika
Makasih tante Irfa...
HapusAamiin InsyaAllah