Senin, 04 Mei 2015

Di Antara Perempuan



Antologi Di Antara Perempuan adalah antologi saya yang kedua setelah “Puisi Penyair LimaKota”. Dalam antologi ini kurang lebih lima belas puisi saya termuat di dalamnya. Antologi dari tujuh penyair dari tiga kota. Kota tersebut Magelang (Umi Azzurasantika, Yuni Amin Wahyuni), Jakarta (Ristia Herdiana), dan Yogyakarta (Choen Supriyatmi, Atin Saja, Tyas Susilowati, Hariyanto).
Peluncuran antologi ini akan dilaksanakan Jumat, 8 Mei 2015 pukul 19.30 WIB di Tembi Rumah Budaya. Dalam acara peluncuran antalogi ini akan dibacakan puisi oleh tujuh penyair. Selain itu juga akan diisi musikalisasi “Bulan Kalangan” dari Purworejo dan SMP 3 Jetis, Teater API dari Universitas PGRI Yogyakarta, dan Isuur Loeweng and Friend.
Peluncuran ini mendapat apresiasi yang baik dari beberapa media, diantaranya, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, RRI, Jogjatrip, Tribun Jogja, dan Kompas. 




Besar harapan kami antologi ini mampu menginspirasi banyak orang. Baik isi puisi yang bertema sosial, pendidikan, dan cinta. Selain itu mampu memotivasi banyak orang untuk selalu menulis dalam bentuk apapun. Terutama Puisi. Siapapun pasti punya kemampuan untuk itu.
Selain itu, saya pribadi mengharapkan apresiasi dari seluruh sahabat pembaca untuk donasi melalui buku ini. Caranya Panjenengan cukup mengganti ongkos cetak dan mengganti ongkos kirim ditambah seberapa besar yang akan didonasikan. Seluruh donasi itu akan kami salurkan ke PAUD ini untuk di belikan buku dan peralatan pendidikan lainnya. Tanpa tambahan donasipun tidak masalah. Tetap akan kami kirim antologi ini sampai ke alamat.Jika panjenengan bertempat tinggal tidak jauh dari tempat tinggal saya, tidak perlu mengganti ongkos pengiriman, akan saya antar atau bisa diambil ke rumah saya. Bonus tanda tangan lo ya. 
Antologi ini juga diambil di Tembi yakni saat peluncuran antologi dengan menghubungi saya terlebih dahulu. Naah... kalau bisa hadir di peluncuran antologi ini, panjenengan bisa bertemu dengan seluruh penulisnya dan menyaksikan penampilan kami dalam membacakan puisi karya kami.
Tunggu apalagi? Menyisihkan sedikit rejeki untuk berbagi, memajukan dunia pendidikan tidak akan rugi loo...Generasi muda itu akan menjadi pilar penting dalam pembangunan negeri ini di masa depan. Dan... yang pasti pahala akan di tetapkan untuk kita. Berlipat lipat lagi! Dan tidak akan putus sampai kapanpun. Semoga ini menjadi amal jariyah dan perantara adanya ilmu yang bermanfaat. Aamiin...InsyaAllah.Seberapapun donasi yang diberikan pasti sangat bermanfaat bagi PAUD ini.
Saya tunggu ya...
Selamat berkarya untuk sahabat semua. Kami tunggu kehadirannya di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta.

Magelang, 4 Mei 2015
Salam hormat saya,
Umi Azzurasantika

Rabu, 15 April 2015

Membaca Sepi


Hening membaca sepinya sendiri
Di ujung malam bersimpuh
Bulir hangat mengaliri

Menganak sungai
:terisak

Langitkan doa
Bercermin di hamparan pagi
Satusatu menghitung butir tasbih
Pantaskah wajah berdosa ini tengadah
Sedang nikmat lupa ku syukuri
Ghibah, fitnah melumuri
Sub'khat dinikmati

Ya Karomi
Indah fana milikMu
Serakah kuambil sendiri
Lupa alam kekal yaumul kiyamah
Neraca timbang berdenting menghitung
Palu genderang dipukulkan pasti
Sanggupkah tangkup jemari 
Menerima ketetapan itu?

:hening 
Selarik terbaca lagi
Tak sanggup di jilat naar
Tak pantas jua jannah termiliki
Tersungkur pasrah di pangkuanMu
Semua datang dari luas langit itu
Pasti akan kembali padaMu
Hanya mampu berserah
Dalam genggaman
TitahMu


UmiAzz, 15.04

Jumat, 03 April 2015

Sadrema Nglampahi

Wong urip mung sadrema nglampahi
Disukuri apa sing wus digariske
Ora kudu gresula
Apa meneh
Daksia
Penting
Ayo gumbregah
Cancut tali wanda
Bareng bareng bangun bangsa
Ben negara dadi gemah ripah loh jinawi
Makmur
Ayom
Ayem
Tata
Titi
Tentrem


Wong jawa njawani, 03042015

Senin, 23 Maret 2015

Jerit Terkunci


wajah serupa bulan (kesiangan)
seka peluh lumuri kening
mengais butir-butir asa terserak
tertatih mengejar matahari
menggapai mimpi

mimpi kaum jelata

mencari pengganti asi ibu kurang gizi
bagi bayi yang hampir mati
menggelepar kala memandang mendung menggantung di atas negeri ini

rakyat sudra

sekadar inginkan anaknya berdasi, bertopi tut wuri handayani
nyanyikan lagu padamu negeri
mengangkasa bersama sayap perkasa garuda
namun susu tak juga mampu terbeli

ooo..

jerit lirih itu rapat terkunci
telingatelinga tetutup tak mau dengar lagi
wajah melengos berpaling pergi
mulut yang biasanya lantang berorasi
diam seribu bahasa tak berkatakata

akankah terus terlukis

miris
tak berkesudahan
lalu: mati

Magelang, 23032015

Sabtu, 21 Maret 2015

Sepotong Hati

Kelembutan ibu
Tersembunyi di sebalik getar senyum
Menerima, menyimpan setiap kekecewaan 
Tak peduli luka menyayat
Melubangi sepotong hati kecil

Ibu
Mencoba merasai
Setiap belai tangan rapuhmu

Magelang, 19032015

Hilangnya Hak Rakyat

Kau tuntut kami taat
Bayar pajak dengan waktu tepat
Tapi hak kami kau rampas
Harta negeri ini habis kau libas
Sorak sorai keruk sana sini
Maju perut mundur pantat
Rekening gendut, muasal dari mana
Entah


Tungku kau ganti gas
Tapi tabung sembunyi entah
TDL naik. Byar pet jadi tradisi sejati 
Harga membumbung tak lagi terbendung

Orangorang transmigrasi
Berbekal pil KB dan ikan asin
Berdiam di perkebunan sunyi sendiri

Hutanpun tak berumah di tanah sendiri
Flora enggan berbunga
Fauna tak lagi punya sabana
Di babat tangan serakah penjarah
Berkongsi dengan pejabat tinggi

Negeri ini hak rakyat Bung!
Jangan kau porandakan sesuka hati
Menjadikan hak kami mati

Magelang, 17032015

Minggu, 15 Maret 2015

Syukur

Lapat lapat alam serukan nada pujian
:syukur

Subuh waktu tidar, 15032015

Malam Sunyi

malam letakkan kerjapnya
aku terdiam

detak jam riuh mengejar senyap
terseok pada gigil fajar
menari di rintik hujan

UmiAzz, 13032015

Tunas Hidup

Hidup
:harapan dan perjuangan
berpantang mengulik kelam silam
lepas
berlalu

Tak ragu hari depan
matahari tak pernah mengeluh
:oleh awan dan hujan

Sinarnya memecah bijibiji
tumbuhkan tunas
rimbun pohon pada akhirnya
berbuah mengakar
menjejak bumi

Magelang, 12032015

Ruang yang Bersaksi

Ruang ini akan terus menyimpan jejak kakimu.
Merekam lapat lapat tawamu
Suara sejuk.  Serta kelebat wajahmu

Pilar pilar berdiri dalam hening sunyi
Jadi saksi hasrat memintal mimpi
Bangunkan naluri srikandi
Bangkit berdiri
Menggapai langit: Tinggi..!

Di ruang ruang ini
Telah kau tebar gelora api bara
Bangunkan semangat muda
Lahirkan srikandi cendekia
Harumnya mengangkasa

Kerja keras
Prestasi, nyata
Ahlak mulia

Terlukis di tiap dinding ruang
Bara apinya terus nyala
Tinggi tiada henti

Meski langkah kakimu
Terus bergerak pasti
Beranjak dari ruang ini..!

Kelak, srikandi srikandi di sini
Tak akan pernah lupa, menyebut
Kaulah sang pemuka

Umi Azzura S. 07.03.2015

Puisi ini saya persembahkan dan saya bacakan untuk Bapak Drs. Nisandi, M.T. Kepala Sekolah lama kami. Puisi ini saya bacakan pada tanggal 10 Maret 2015 dalam acara pisah sambut Kepala Sekolah.
Selamat bertugas di tempat bar bapak, selamat datang dan sukses selalu untuk Kepala Sekolah kami yang baru. Ibu Mila Yustiana, S.Pd,, M.M.Par.

Selasa, 10 Maret 2015

Puisi Penyair Lima Kota


Rasa bahagia pada diri saya saat bisa mengenal Tembi Rumah Budaya yang berada di Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta. Saya berkesempatan untuk hadir dan tampil di sana. Petama kali saya tampil adalah pada tanggal 5 Jauari 2015 pada saat peluncuran buku antalogi puisi penyair angkatan 87.

PEMUJA NARKOBA

:menunggu eksekusi mati


Hujan berirama sendu

Memecah resah
Rintih pedih pemuja narkoba


Tangisan takut mati

Tergambar nyata di sudut hati
Pasti kelak tak akan di surga
Pasti tak bakal kuat di neraka


Saat dunia gamblang bercerita

Membabi buta menikam generasi muda
Tak peduli
Terpenting rupiah terbeli
Jadi gembong berkaki kaki


Hujan enggan beranjak

Meski januari berlalu separuh pergi
Di balik jeruji besi
Air mata mengayun ayun
Menggantung berkalung sesal
Menunggu algojo jemput ajal


Pasti...


Kematian tak bakal urung

Magelang, 15022015

NEGERI KELAM 

negeri ini milik rakyat
bukan rayahan pejabat
adu jotos membual pendapat

beras membumbung
minyak melambung 
gas terbang melayang

roda terus berputar, saudara!

petani tak makan beras
dapur berkalang asap
perempuan menghitung satu-satu 
tetes penyambung hidup

hak terenggut
tercerabut

kepala-kepala bertopi batu
sembunyi di balik dasi
mana janjimu di mimbar kala itu

basi!

Magelang, 05032015

UmiAzz, 10 Maret 2015

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...