Senin, 14 April 2014

Gurat HeningMu

cokelatnut.wordpress.com
rinai hujan telah usai
namun
bening air tetap saja menganak sungai
basahi tanah
yang telah lebih dulu basah

kubertanya pada malam
kenapa langitmu semakin kelam
tak nampak gemintang
disisa rintik itu

kenapa
semuram tanpa terang
seperti hatiku
yang lengang
hampa

dan
hanya ini
terdudukku diam
bersimpuh
dalam gurat heningMu

mid_night, 14 April 2014
Umi Azzurasantika

Jumat, 11 April 2014

Terima kasih Ayah dan Bunda

Puisi kakak dapat nilai 90

kala matahari terbit
ku mulai bersiap-siap
ku mencium tangan orang tuaku
kala aku berangkat

ku tetap ingat
karena orang tuaku menyayangiku
waktuku kecil merekalah yang merawatku
mereka sabar merawatku

mereka rela berkorban untukku
walaupun ku kadang sering marah
namun selalu ada maaf bagiku
mereka sabar merawatku

cintaku pada mereka melebihi
apapun
akupun sayang pada mereka
terima kasih ayah dan bunda

jasamu sangat berarti bagiku
ku selalu ingat pada mereka
terima kasih ayah dan bunda

Azzahra Dewi Santika
Kelas 3 D
No urut 2

Kamis, 10 April 2014

Cerita Indah di Tretep


Kehidupan yang dipenuhi dengan rutinitas biasanya akan sangat membosankan jika tidak diselingi dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Rutinitas sebagai sebuah kewajiban yang merupakan pekerjaan harus dilakukan dengan senang hati dan tanpa beban. Pun rutinitas sosial kemasyarakatan tidak boleh ditinggalkan karena kita hidup dengan orang lain di dunia ini. Perjalanan saya hari ini adalah merupakan rangkaian dari berbagai aktivitas individu diri saya sendiri dasn sebagai makhluk sosial.
***

Menyusuri jalan Temanggung, parakan, hingga ‘temple rata’ eh Candi Roto dink... (hihihi), salah tiga daerah yang ada di wilayah kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kami serombongan hendak menuju Ngadirejo, Kendal. Daerah perbatasan kabupaten temanggung dengan kabupaten Kendal, tapi daerah agak ‘masuk’
Bermodal selembar kertas bertuliskan alamat, perjalanan seru hari ini kami mulai.
Dari arah temple rata ini, kami belok ke arah kiri. Menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar menuju perkampungan yang lumayan ramai. Kurang lebih perjalanan lima belas menit, kebingungan mulai menghinggapi kami. Bermodal GPS (Gunakan Penduduk Setempat #hahahaha..... ) kami bertanya daerah yang menjadi tujuan kami. ‘ndilalah’ signal sangat susah, jadi teman saya tidak bisa kami hubungi melalui ponsel.
Jalan yang kami lalui mulai menurun dan sempit serta berliku tajam (kaya’ lagunya ADA Band saja yach.....?  J ). Daerah tersebut suasananya sangat lengang, tidak banyak orang berlalu lalang, hanya satu dua saja orang berpapasan dengan kami. Orang-orang tersebut adalah para petani yang kembali dari ladang mereka, karena waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Ada juga sepeda motor yang melaju dengan kencang. Seperti tidak takut dengan keadaan jalan yang berliku. Mungkin karena mereka sudah terbiasa melewatinya.
Setiap melewati persimpangan jalan, baik itu pertigaan atau perempatan kami selalu bertanya. Untungnya kami tidak menemukan perlimaan, perenaman... apalagi persetujuan ....
Kecurigaan semakin memenuhi rongga pikiran kami... cieeee... Jalan semakin kecil, suasana semakin sepi, lengang. Perkampungan penduduk sesekali kami temui. Terkadang ada sekumpulan rumah penduduk, setelah itu tidak ada lagi, habis. Sudah hampir satu jam kami melewati tempat yang hampir sama suasananya. Mencekam.... itu saja penilaian kami. Jika kami balik kanan sudah kepalang tanggung, jauh sudah perjalanan kami tempuh. Jika kami lanjutkan, kamipun tidak tau seberapa jauh lagi tujuan kami. Tapi kami mantap saja melakukan perjalanan. Berdasarkan ‘GPS’ tujuan kami sudah dekat. Yachhhh namanya juga orang yang terbiasa tinggal di daerah pegunungan, lima kilometer dikatakan “Cuma situ”... ternyata..... hemmmm jauhnnyaaaaaa..... Namun perjalanan itu kami nikmati dengan melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan. Subhanallah.... The hidden paradise of Tretep.


Daerah yang kami lewati pemandangannya sangat indah. Perkebunan sayur-sayuran seperti loncang, kol, cabai (bukan cabe-cabean lo ya...apalagi terong-terongan.. hihihi), kopi dan teh kami lihat sepanjang perjalan itu. Berdasarkan informasi, lahan yang berada pada daerah ‘ereng-erengan’ itu diolah dengan tenaga manusia saja. Ya iyalah... mana mungkin menggunakan traktor atau alat berat lainnya. Hal itu tidak mungkin dilakukan, karena medan yang miring. 

Lereng Tretep dilihat dari ketinggian

Penduduk dengan tekun mengolah lahan, menanam, memelihara tanaman hingga memanennya. Hasil dari panen mereka akan diambil oleh para tengkulak nantinya. Dimana sudah menjadi rahasia umum, harga dari panen para petani itu sangat murah. Tidak sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan. Namun sampai kota, hasil dari ladang mereka bisa sepuluh kali lipat harganya. Sungguh sangat memprihatinkan. Seandainya saja hasil kebun mereka bisa dihargai lebih, sejahteralah hidup mereka.

Lahan yang telah diolah secara manual tanpa bantuan alat berat

Lahan siap tanam

Para petani ini, meskipun harga jual dari hasil kebun mereka bisa dibilang murah. Namun hasil yang mereka miliki (ketika panen) cukup banyak juga. Karena ladang mereka memang sangat luas, jadi hasilnyapun banyak. Tapi entah bagaimana nasib mereka ketika masa paceklik atau tanaman mereka terserang hama, wabah dan sebagainya.
Kehidupan mereka yang jauh dari hingar bingar kota, membuat mereka hidup sederhana. Orang-orang di daerah pegunungan, ketika panen, akan berbelanja kebutuhan selama setahun dalam satu kali waktu. Beli garam untuk setahun sekalian. Beli gula untuk setahun sekalian. Dan sebagainya dan sebagainya... silakan dibuktikan kesana kalau tidak percaya (percaya nggak? Percaya nggak? #maksa). Hal ini sangat mungkin terjadi. Karena mereka jauh dari kota, transportsi sangat susah, sehingga mereka berpikir dengan belanja sekali saja, sudah bisa cukup untuk keperluan satu tahun.
Cerita yang lebih sangat mengagumkan adalah: ketika mereka panen, uang hasil panen mereka langsung mereka belikan barang-barang berharga. Seperti alat-alat elektronik, meskipun tidak ada listrik (aneh kan...). Almari es mereka bisa dipakai untuk menyimpan pakaian...! ckckckck... Selain itu mereka juga membelikan hasil panen mereka berupa berlian atau emas. Kalau kita ingin membeli emas tanyanya begini,
“harga emasnya pergram berapa? , lihat dulu boleh ya?”
Tapi bagi mereka, ketika panen, pergi ke toko emas cara bertanyanya pasti lain,
“emasnya se ons berapa? Berlian yang paling mahal yang mana?”
Naaaahhhh... beda banget kan?
Meskipun semua barang yang mereka miliki itu akan mereka jual kembali untuk modal tanam pada masa tanam berikutnya. Lain halnya dengan orang-orang kaya itu. Emas dan berlian terkadang hanya untuk dipamerkan saja, dan mungkin bisa saja menjadi ‘riya’. Sudahlah.. itu urusan pribadi masing-masing... silakan saja. (karena saya tidak punya... hehehehe)
Kondisi di sana, rumah-rumah penduduk beratap seng. Karena cuaca dingin dan sering hujan, seng itu sebagai penyimpan hangat ketika ada panas matahari, sehingga pada saat malam hari rumah menjadi hangat, tidak terlalu dingin. Pada beberapa daerah perkampungan, rumah penduduk sangat padat. Hal ini terjadi karena mereka ‘beranak pinak’ di situ saja katanya. Orang tua yang memiliki anak, anak tersebut menikah dengan tetangga, memiliki rumah sendiri, punya anak, menikah... dan seterusnya. Tidak pergi dari daerah itu. Mereka memilih untuk berkebun, menggarap tanah mereka. ~kehidupan yang damai~. Jika ada yang bekerja di luar daerah situ, paling hanya satu atau dua saja. Terbukti dari teman saya yang akan saya kunjungi ini. Dia adalah salah satu orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi guru, mempunyai suami di kota. Mengabdikan ilmunya untuk mendidik, tapi tidak lupa dengan kampung halaman. Terbukti dengan seminggu sekali dia pulang ke rumahnya ini.

Perkampungan di lereng Tretep yang sangat padat

Salah satu sudut Tretep


Jurang Menganga
Tangan kami semakin berkeringat. Dingin. Mencekam. Kaki kami terasa kaku, tak mampu bergerak... jalan sempit yang kami lalui melewati jurang pada kanan kirinya. Ketika ada satu truk berpapasan dengan kami... disitulah jantung ini serasa mau copot... jalan yang sempit, secara logika teman kami yang memegang setir, tidak mungkin kami bisa bersimpangan. Di sebelah kanan jurang, dan badan jalan longsor. Sedangkan sebelah kiri berupa jurang yang tak kalah mengerikan. Namun sopir truk yang sudah terbiasa melewati daerah itu, ternyata bisa membantu kami untuk bisa melewati jalan tersebut. Truk itu mundur kurang lebih sepuluh meter ke arah jalan yang ada bagian tanah yang agak tinggi. Mepet ke kanan truk. Dan mobil kami dipersilakan lewat arah kanan mobil kami yang berlawanan dengan truk mereka. Istilah orang rasanya ‘senam jantung’. Sebelah kanan kami jurang. Dengan kecepatan, mungkin, sepuluh kilometer perjam... kami melewati masa kritis itu... dan... lega... plongggg... akhirnya kami bisa melewati jalan itu.
Sampai pada akhirnya.. kita sampai di lereng tertinggi daerah tersebut... Ditambah cuaca yang mendung, disertai hujan rintik-rintik yang berlomba-lomba turun menjejakkan kakinya kakinya di bumi...(bilang aja gerimis... ribet amat... hehehe).
Untunglah ada seorang laki-laki yang baik hati yang menjadi penunjuk jalan kami. Sebentar saja dia memberikan petunjuk arah itu. Selanjutnya ‘terserah anda..!’. Tapi tetaplah... kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Akhirnya kita tidak bingung dan tersesat lagi.
Akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan. Eh... belum sempat cerita ya.. tujuan kami ke rumah teman kami ini adalah karena ibu dari teman kami ini meninggal. Kami berombongan bersilaturahmi kerumahnya untuk takziyah, ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ibu dan menguatkan dirinya agar sabar dalam menerima cobaan tersebut.
Sssttt... di sana.. hampir saya berhenti bernafas... Kenapa? Tamu-tamu laki-laki disediakan tembakau, cengkih, kertas sigaret.. ‘TINGWE’ alias linting dewe. Rokok yang diramu sendiri. Seperti kereta api yang lewat dari Ambarawa saja... asapnya maaakkkk... ruarrrr biasa... membuat nafas saya sesak dan lidah saya kecut hampir pahit...
***

Karena takut dengan jalan yang kami lalui tadi, akhirnya kami memilih jalan alternatif lain. Lewat kota Sukorejo. Selain jalan yang sulit, kami juga takut jalan yang kami lalui tadi akan turun kabut, sehingga jarak pandang kami terlalu dekat dan tidak bisa melihat jalan. Hal ini sangat membahayakan, dan kami menghindarinya.
Keluar dari kampung teman kami. Kami melewati jalan yang agak besar. Namun jalannya sangat rusak parah. Badan kami sampai tergoyang-goyang ke kanan ke kiri, sampai kepala menyundul langit-langit mobil. Tapi ‘sing penting joget-sing penting joget’ hahahha... asyik ajalah, perjalanan dinikmati. Mau bagaimana lagi.
Gumun setaun jembleng serendeng. Pepatah jawa ini saya pakai. Karena apa? Kurang lebih tiga sampai lima kilometer di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar pohon cengkih. Perkebunan cengkih tepatnya. Dan.... yang membuat kaget lagi.. ternyata berpuluh-puluh hektar dan mungkin beratus hektar itu ‘konon’ kebun milik si Tom-Tom anaknya mbah kakung yang suka berada di belakang bak truk dan selalu bilang “ENAK JAMANKU TO LE...? “ gitu katanya. Meskipun sebagian lagi adalah kebun miliki perhutani. Hasil dari perkebunan cengkih itulah yang memasok perusahaan yang memiliki ‘GUDANG’ yang isinya berupa ‘GARAM’...
***

Pengalaman yang tak terlupakan... dan sarat dengan pengetahuan hidup. Meskipun sampai detik ini, badan, kepala dan perut rasanya masih bergoyang kanan kiri dan muter, keatas dan ke bawah.

Gunung Sindoro dan Sumbing dari Muntung

Perjalanan_melalui_Tretep, 10 April 2014 
Umi Azzurasantika

Senin, 07 April 2014

di SenjaMu




Ya Allah

diantara penyeruMu
bawalah kedukaan
tergulung mendung
bersama mentari
yang hilang tertelan senja

dalam syukurku
hadirkan bahagia
pada bening bintang
yang bersanding rembulan
meniti malam

Keterwakilan Perempuan yang Tak Mewakili

Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender. Hal ini merupakan indikator bahwa Pemerintah Pusat menetapkan pijakan politis yang membuka peluang bagi perempuan Indonesia untuk berpartisipasi aktif di dalam pembangunan termasuk pembangunan politik yang berwawasan gender. Secara progresif saat ini perempuan sudah banyak menduduki posisi-posisi penting, walaupun persentasenya lebih kecil jika dibandingkan dengan laki-laki. Beberapa pucuk pimpinan yang pernah dipegang perempuan diantaranya Presiden era Megawati. Gubernur Banten, Walikota Surabaya, Bupati Gunungkidul, Camat dan kepala desa dibeberapa wilayah Indonesia.


Di bidang politik, penetapan target keterwakilan (kuota) sebesar 30% bagi perempuan dalam pencalonan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di pusat dan daerah pada pemilihan umum merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi oleh setiap partai politik peserta pemilu. Kebijakan tersebut memang dipenuhi, walaupun perhatian dan orientasi politik perempuan terutama di daerah masih bisa dianggap kurang, malah bisa dikatakan asal comot.
“Seorang perempuan tetangga saya, dia adalah seorang pedagang di pasar. Entah dari mana asal-usulnya, tahun ini dia dicalonkan sebuah partai politik untuk menjadi anggota DPRD di kabupaten kami”, ujar Sarno, seorang warga Gunungkidul yang keseharianya aktif sebagai pegiat pasar tradisional. “Ketika dia saya ajak berdiskusi tentang politik, jawaban dan idenya tidak begitu berbobot. Jangankan nyambung dengan politik, visi dan misi saja tidak paham bahkan tidak memiliki” lanjutnya. Sarno menambahkan bahwa caleg perempuan ini awal cerita menjadi caleg karena dia dibayar untuk dicalonkan sebagai anggota legislatif agar kuota 30% untuk perempuan dapat terpenuhi.

Fakta ini memberi gambaran bahwa kondisi perempuan yang terjun didunia politik tidak seluruhnya bisa diandalkan. Walaupun ada perempuan-perempuan hebat yang telah berhasil membuktikan kapasitas dan kualitasnya kepada publik. Sebut saja Walikota Surabaya Bu Risma, Rieke Dyah Pitaloka, Wanda Hamidah. Perempuan yang duduk di kabinet seperti Kofifah Indar Parawansa dan Linda Amalia sari. Perempuan Indonesia yang sudah terjun di kancah dunia internasionalpun sudah ada, yang namanya tidak asing bagi kita, Sri Mulyani, yang saat ini bertugas di Bank Dunia. Namun di kalangan bawah, banyak perempuan-perempuan hanya sebagai pelengkap dan pemanis dalam dunia perpolitikan. Dimana keberadaan mereka belum bisa di akui kemampuannya. Selain itu, partai tidak memenuhi kuota 30% perempuan berdasarkan kualitas, namun hanya terpenuhinya kuantitas yang bertujuan agar lolos verifikasi.

Seharusnya kuantitas yang sudah disediakan untuk perempuan itu diimbangi dengan kualitas yang mumpuni, karena sebenarnya banyak perempuan Indonesia yang dapat diandalkan. Saat ini banyak keputusan-keputusan untuk kebijakan publik yang ditetapkan melalui votting. 30% kuantitas perempuan yang berkualitas seharusnya bisa menjadi salah satu pilar di dalamnya. Meskipun tidak sebanyak kaum laki-laki, sudah seharusnya perempuan menjadi salah satu agen perubahan untuk negara, apalagi jumlah penduduk negeri ini untuk perempuan prosentasenya lebih tinggi. Atau karena memang diatur sedemikian rupa oleh laki-laki sehingga kelihatanya kaum perempuan sudah mendapat perhatian yang lebih, namun sebenarnya tetap dibatasi.

Dengan terpenuhinya kuantitas perempuan di parlemen sedikit banyak pasti akan mempengaruhi kebijakan. Kebijakan-kebijakan yang “ramah” terhadap gender dan perempuan akan lebih berpeluang untuk terealisasikan. Hal ini akan dapat terwujud dari kuantitas perempuan yang didukung dengan kualitas yang baik di dalam parlemen.

Dengan alasan tersebut, sebaiknya partai tidak malas untuk berburu caleg perempuan. Gerakan partai yang melakukan agresi terhadap perempuan tersebut pasti akan menemukan figur-figur perempuan yang kompeten. Dari sepersekian perempuan pastilah ada perempuan-perempuan berkualitas yang mampu bertarung dalam kancah politik demi kepentingan negara dan kepentingan perempuan pada khususnya. Partai sedini mungkin harus melakukan kederisasi, pembinaan dan pendidikan politik bagi perempuan yang memang kedepanya dipersiapkan untuk mengisi ruang kosong perempuan yang selama ini didominasi kaum laki-laki.

Harapan ke depan, mudah-mudahan partai politik akan lebih terbuka matanya bahwa pemenuhan kuota 30% untuk perempuan dalam pemilu tidak sekedar mementingkan syarat lulus verifikasi. Tetapi memahami bahwa ada kepentingan perempuan yang memang hanya perempuan itu sendiri yang bisa memenuhinya.

Tidar sejoek, 6 April 2014

untuk Merah Putih


tadi siang
di kotaku
hingar bingar
gegap gempita
menjadi lautan merah

empat hari lagi
apakah akan tetap merah
atau malah akan berubah
menjadi putih

mungkin saja
akan menjadi pelangi
padahal
yang dinginkan
hanyalah
tetap MERAH PUTIH
untuk Indonesia 


Kotaku_5 April 2014

Bulan Sabit dalam Hujan




bulan sabit
diantara rintik hujan
bertahta tanpa bintang
ikhlas
pancarkan aura
temaram
tenang
pasti
mengayun waktu
yang enggan berhenti


Menatap rembulan_3 April 2014

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...