Umumnya setiap anak menuntut kepada orang tuanya untuk dibahagiakan.
Setiap permintaannya harus dituruti oleh orang tuanya. Itulah perilaku seorang
anak yang belum dewasa kepada orang tuanya. Seperti aku waktu dulu, setiap kali
minta sesuatu selalu minta dituruti, kalau tidak biasanya aku akan merasakan
sakit panas di sekujur tubuhku. Gejala yang sampai saat inipun tidak aku
mengerti. Apakah sugesti atau bagaimana. Tapi itulah yang terjadi ketika
“setiap” permintaanku ditunda pemenuhannya oleh orang tuaku.
Jika kuingat hal itu, rasanya aku menyesal sekali. Di waktu kecilku aku
tidak pernah berpikir bagaimana orang tua berusaha untuk membahagiakan anaknya.
Demi kebahagiaan anaknya pasti berbagai cara mereka lakukan. Masih kuingat
waktu kecil dulu, aku minta dibelikan sandal yang baru trend kala itu, karena
belum ada uang aku sakit. Dengan susah payah bapakku membelah kayu yang ada
kemudian dijual ke pasar untuk sekedar mendapatkan uang tak seberapa yang
penting bisa untuk membelikan sandal permintaanku. Betapa bahagianya aku waktu
itu, sandal yang aku inginkan sudah di tangan. Orang tuakupun begitu lega
melihat anaknya tersenyum gembira dengan sandal barunya, dan tak sakit panas
lagi.
Sekarang, aku sudah dewasa bahkan sudah berkeluarga. Namun tak banyak
waktu dan pikiran serta materi yang bisa aku sisihkan untuk mereka, kedua orang
tuaku. Aku lebih banyak memikirkan diriku sendiri, kehidupanku sendiri,
keluargaku sendiri, masa depanku sendiri. Aku tidak seperti mereka waktu itu, yang
dengan sekuat tenaga, dengan susah payah berusaha untuk memenuhi segala
keinginanku. Namun saat ini hatiku sedikit tergerak untuk melakukan itu. Kalau
tidak sekarang kapan lagi aku akan membalas semua yang telah mereka lakukan
padaku, demi kebahagiaanku.
Di waktu kecilku aku digendong kesana kemari. Dipenuhi segala
keinginanku. Ketika mereka merasa tidak mampu untuk menyekolahkanku, aku
“memaksa” untuk terus melanjutkan sekolahku, yang akhirnya dipenuhi juga oleh
mereka, meskipun dengan segala daya upaya.
Masih kuingat dalam benakku. Di suatu pagi, aku di rumah sarapan dengan
“thiwul” dan “sambel bawang” waktu itu. Thiwul adalah makanan dari tepung
singkong yang dimasak dengan cara dikukus. Sedangkan sambel bawang adalah
sambel dari cabai mentah dicampur dengan bawang putih dan garam serta sedikit
bumbu penyedap. Kunikmati dengan lahapnya. Ketika aku pamit, aku minta uang
saku kepada ibuku, ibu bilang
“tidak ada uang untuk uang saku, nanti kamu ketemu bapak di jalan minta
saja kepada bapak, karena bapak baru ke pasar menjual sepikul kayu bakar”.
Ya Allah, ketika kuingat waktu itu, betapa besar perjuangan mereka. Harga
sepikul kayu bakar yang kira-kira waktu itu hanya Rp 4.500,- saja, dibagikan
untuk uang sakuku Rp 1.000,- dan sisanya untuk membeli kebutuhan makan hari
itu.
Ketika SMP dan SMK akupun punya ide, ibuku tak suruh membuat jajan
camilan yang bisa dititipkan di kantin sekolah, dan aku yang menawarkan ke
warung kantin tersebut. Dan akhirnya itu berhasil. Setiap berangkat sekolah aku
membawa tas belanjaan berisi jajan camilan untuk kutitipkan ke kantin. Ketika
istirahat tiba, jajanan titipanku belum juga laku, dan akhirnya aku ngutang
dulu di kantin untuk makan sekedarnya. Selesai pelajaran aku tidak segera
pulang tapi ke kantin dulu untuk mengambil pembayaran dari hasil titipan
jajananku tadi. Dan yang pasti dikurangi untuk membayar utang jajanku yang
sudah aku makan tadi pada waktu istirahat. Dan itu terjadi selama kurang lebih
2 tahun dari kelas 2 SMP hingga kelas 3. Semua itu aku nikmati dengan tanpa
beban.
Dengan paksaanku kepada orang tuaku akhirnya aku berhasil memasuki SMK
favorit di daerahku waktu itu. Aku masuk SMK 1, dan yang jelas usahaku di SMP
dilanjutkan oleh ibuku. Setiap hari ibu naik sepeda onthel dengan “krombong”
pulang pergi membawa dagangan berkeliling dari satu kantin sekolah ke kantin
sekolah lain. Luar biasa perjuangan ibuku. Dan akupun tak mau kalah berjuang
dengan wanita yang telah melahirkanku. Aku setiap hari membawa “gorengan” ke
sekolah. Dan konsumenku adalah teman-teman sekelasku dan juga teman-teman
tetangga kelas. Hasilnya bisa untuk naik bis pulang pergiku ke sekolah yang
berjarak kurang lebih 10km dan untuk uang jajanku. Waktu itu aku agak ringan
beban sekolahku karena aku mendapatkan beasiswa supersemar. Sampai-sampai aku
lupa berapa SPP ku waktu itu. Ya Allah... terima kasih atas kemudahan yang Kau
berikan dalam kehidupanku.
Kuliahpun kujalani tanpa sengaja. Setahun berjalan dari kelulusan SMK ku
aku bekerja di kota propinsi yang berada lingkungan mahasiswa. Yang pada
akhirnya membuatku terpengaruh dengan “sugesti” mereka. Dengn diam-diam
akhirnya aku mendaftar bimbingan belajar dan mendaftar kuliah, dan DITERIMA. Uang pembayaran pertama
kuliahku aku bayar dengan sedikit simpanan dan sebagian besar aku pinjam dari teman
kostku waktu itu. Sungguh nekat sekali aku waktu itu. Setelah semua beres,
waktunya aku membayar hutangku, yang hanya diberi waktu satu minggu oleh
temanku untuk membayarnya. Karena bingung harus mencari ke mana. Akhirnya aku
pulang juga ke rumah orang tuaku, untuk menyampaikan berita bahwa aku telah lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan
tak lupa juga aku sampaikan bahwa aku mempunyai hutang kepada teman untuk
membayar uang pertama kuliahku. Agak shock
mereka waktu itu. Antara senang anaknya bisa kuliah dan harus membayar hutang
yang tidak disangka-sangka itu. Dengan terpaksa akhirnya mereka menjual harta
yang mereka miliki yaitu seekor kambing yang sebenarnya adalah tabungan mereka.
Uang hasil penjualan kambing akhirnya kubawa untuk membayar hutang.
Ketika kuingat semua itu, betapa besar perjuanganmu bapak ibuku. Kini
kutelah bekerja, bahkan telah menjadi pegawai negeri. Karena doa kalian, karena
perjuangan kalianlah aku bisa sampai di titik ini sekarang. Akupun telah bisa
melanjutkan studi S2 ku dari hasil kerjaku. Aku ingin membuktikan kepada kalian
bahwa perjuangan kalian telah bisa membiayai studiku itu sendiri. Dan kini
tinggal giliranku untuk membahagiakan kalian.
#
Beberapa minggu yang lalu ibu bapakku “nguda rasa”, berkeluh kesah dalam
bahasa indonesianya. Bahwa radio yang dimiliki oleh mereka rusak. Akhirnya
kehidupan mereka sepi, karena itulah hiburan bagi mereka dalam keseharian
mereka. Sambil mengerjakan sesuatu mereka bisa sambil mendengarkan radio
sebagai “rengeng-rengeng” kata orang jawa, yaitu bersenandung menikmati alunan
musik dan lagu. Aku tidak segera mengiyakan waktu itu, aku merasa kebutuhanku
sendiri dan keluarga sungguh sangat luar biasa banyaknya. Namun dalam hati aku
berjanji aku harus memenuhi permintaan mereka. Aku tidak ingin kejadian
beberapa tahun yang lalu terulang menjadi penyesalanku yang kedua.
Beberapa tahun yang lalu, ibuku minta dibelikan hp, dia berharap dengan
dibelikan hp bisa berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang jauh dari mereka.
Aku mengiyakan tapi aku minta bersabar. Selang beberapa minggu setelah
permintaannya itulah, sebuah kejadian yang seumur hidupku sangat aku sesali
terjadi. Ibuku sakit di malam hari, karena rumahku jauh dari tetangga, bapakku
membangunkan tetangga tidak juga bangun. Melihat kondisi ibuku yang sakit
sungguh sangat menghawatirkan, bapakku menggendong ke rumah kakakku yang
jaraknya 1 km. Sungguh suatu kebetulan di jalanpun bapakku tidak bertemu orang
untuk dimintai tolong. Diceritakan oleh bapakku waktu itu, dengan susah payah
bapak menggendong ibu, di jalan ibu muntah darah. Karena kelelahan bapakku
berhenti di jalan beberapa kali, yang pada akhirnya setelah beberapa jam sampai
juga di rumah kakakku. Dengan berurai air mata kakakku menghampiri keduanya di
teras rumahnya. Dengan wajah kepayahan bapakku kelelahan menggendong ibu, dan
ibuku yang sudah muntah berkali-kali yang pada akhirnya lemas tak berdaya.
Gara-gara tidak bisa berkomunikasi kejadian itu menimpa mereka. Gara-gara aku
menunda untuk membelikan hp sebagai alat komunikasi mereka mengalami kejadian
yang luar biasa, yang sungguh tidak aku bayangkan bagaimana perjuangan kaki
renta ayahku menggendong ibuku sampai di tempat kakakku. Maafkan aku ibu
bapakku, ampuni dosaku Ya Allah.
Kejadian itu tak ingin ku ulangi lagi. Mereka hanya minta dibelikan
radio, yang harganya pasti tak seberapa, namun aku yakin pasti itu adalah
kebahagiaan yang mereka impikan. Bisa mendengarkan radio lagi, karena radio
mereka rusak. Pada akhirnya kubelikan mereka radio sederhana untuk mereka.
Karena bapakku petani, ingin bisa mendengarkan radio di saat di kebun
sekalipun. Kubelikan radio kecil yang bisa menggunakan arus listrik dan juga
menggunakan batu bateray. Tujuannya adalah ketika di kebun bisa ditenteng ke
kebun, ketika di rumah bisa menggunakan arus listrik untuk didengarkan. Dan
sungguh luar biasa tanggapan mereka. Mereka berdua sangat bahagia mendapatkan
radio kecil itu. Aku ingin menangis waktu itu, tapi aku tidak ingin merusak
kebahagiaan mereka. Aku tersenyum dan meledeki mereka.
“Sekarang sudah punya radio, didengarkan berdua ya, ga boleh rebutan”.
Selorohku untuk mereka berdua, dan mereka tersenyum dan bahkan tertawa
lepas. Terima kasih ya Allah, Kau berikan kebahagiaan untuk mereka, di
sisa-sisa umur mereka. Di masa tua mereka dalam menikmati hidup ini. Meskipun
hanya dengan radio kecil semoga menjadi kebahagiaan kalian ibu bapakku, orang
tuaku tercinta. Kuingin membahagiakan kalian semampu aku bisa. Meskipun yang
aku lakukan tak sebanding dengan semua perjuangan yang telah kalian lakukan
untukku. Terima kasih ibu, terima kasih bapak. Peluk cium untuk kalian.
Ngasem ayu, Bendorejo indah.
Dusun kecil di pinggir Gunungkidul,
Yogyakarta.
*11122013*