Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara,
serta menjadi anak yang saleh adalah doa yang selalu dipanjatkan orang tua
untuk anak-anaknya. Pun saya juga selalu memanjatkan doa itu. Dalam setiap
lantunan doa tak terlupa baris kalimat yang saya tujukan untuk orang tua,
keluarga, serta untuk anak-anak saya. Ketika anak-anak saya menghadapi ulangan
baik ulangan harian, ulangan tengah semester maupun ulangan akhir semester pun
saya selalu mendoakan untuk kemudahan dan kelancaran serta keberhasilannya.
Selain mendoakan saya juga selalu berusaha memotivasi anak untuk belajar
memahami isi pelajaran agar ketika mengerjakan soal tidak kesulitan. Hal ini
saya lakukan, karena sebagai orang tua, terutama saya sebagai seorang ibu
memiliki rasa khawatir. Jangan-jangan kalau tidak belajar anak tidak bisa
mengerjakan soal yang diberikan oleh gurunya. Menurut saya itu hal yang wajar.
Namun perilaku anak saya jauh dari apa yang saya harapkan tersebut. Saat
ini dia berada pada tingkat tiga di Sekolah Dasar. Setiap kali sehari menjelang
ulangan atau seminggu menjelang ulangan semester anak saya malah tidak mau
belajar. Buku disiapkan dibaca sebentar saja sekitar lima menit kemudian
diletakkan. Selama membaca kilat itupun dia tidak lepas dari melihat televisi.
Menjadi kebiasaan anak saya, bahwa ketika belajar televisi harus hidup. Sebagai
ibu pada awalnya merasa sangat khawatir. Bagaimana mungkin belajar sambil
melihat televisi? Kartun sekalipun. Namun ketika saya memaksakan diri untuk
mematikan layar monitor televisi, justru dia akan merasa seperti orang stress,
ribut, marah, menangis dan akhirnya malah buku tidak tersentuh sama sekali.
Pernah suatu saat saya membiarkan dia belajar sendiri di depan televisi. Saya
hanya mengamati dari ruang kerja saya, sedangkan anak saya berada di ruang
keluarga, tak lupa televisipun dinyalakan sebelum dia menata buku untuk dia
pelajari. Selama hampir dua jam saya mengamati segala aktivitas yang dia
lakukan di depan televisi. Pertama dia menata buku sambil melihat televisi yang
kebetulan berita waktu itu. Dia tidak segera menyelesaikan aktivitasnya menata
buku, tapi malah melihat televisi dengan seksama, setelah berita itu selesai
baru dia menyelesaikan aktivitasnya menata buku. Selesai menata buku, dia
menempatkan diri sampai mendapatkan ‘PW’ (Posisi Wenak) yang menurut dia bisa
melihat televisi pada jarak yang nyaman dan lurus ke arah monitor televisi.
Sejurus kemudian, dia membuka buku, membaca, menghafal, menuliskan sesuatu pada
sebuah kertas. Matanya tidak melihat televisi tapi memperhatikan buku yang dia
pelajari. Namun ketika ada sesuatu yang menarik perhatian yang dia dengarkan
dari televisi dia langsung melihat ke arah monitor televisi. Dalam pengamatan
saya antara memperhatikan televisi dan melihat buku ternyata lebih banyak
melihat buku untuk dia pelajari. Karena selama dia belajar itu, dia menghafal,
berlatih menuliskan apa yang dia pelajari di buku untuk dituliskan kembali
dalam kertas. Ketika dia kurang paham dia akan bertanya kepada saya yang tidak
disampingnya menuju ruang kerja saya. Dan hal itu berlangsung selama hampir dua
jam. Ketika dia merasa sudah selesai ‘mempelajari’ bukunya itu, dia dengan
sendirinya menuju ke kamar dan minta ijin untuk tidur ke kamar, tanpa mematikan
televisi. Dia meminta saya untuk mematikan televisi setelah dia tertidur. Dalam
hitungan menit saja, ketika dia sudah masuk kamar, dia akan segera tertidur
pulas. Baru televisi saya matikan.
Kejadian yang menurut saya tidak seperti kebanyakan anak-anak dalam
belajar yang harus tenang dan enjoy
pun terjadi pada minggu kemarin ketika dia menghadapi ulangan akhir semester
gasal. “ibu saya tidak mau belajar, saya mau melihat televisi saja, buku sudah
saya siapkan” ujarnya ketika dia sudah mendapatkan jadwal ulangan. Karena saya
sudah mengalami beberapa kali cara belajarnya, maka saya biarkan saja. Selain
itu setelah selesai ulangan pada setiap harinya, dia minta diajak jalan-jalan,
entah ke mini market, mall ataupun sekedar keluar rumah, yang penting tidak
seharian di rumah menunggu besok pagi untuk mengerjakan ulangan lagi katanya.
Sebagai informasi, anak saya pada hari biasa, sekolah dari jam tujuh pagi
hingga pukul tiga sore. Jadi ketika ulangan semester berlangsung, dia pulang
kurang lebih jam sepuluh atau jam sebelas. Makanya dia tidak ingin menghabiskan
waktu ‘lama’ menunggu hari esok di rumah.
Pada semester ini saya ‘legawa’ menerima usulan dan sikapnya untuk
sekedar membaca sebentar dan tidak belajar berjam-jam di depan bukunya. Saya
ingin melihat dan mungkin dalam hati saya mengatakan “saya ingin membuktikan”
apa yang akan terjadi jika cara belajarnya seperti itu. Seperti apa hasilnya
ketika seminggu selama dia ulangan semester dia malah ingin enjoy, refreshing menikmati suasana tanpa belajar.
Seminggu berlalu dari ulangan yang dijadwalkan akhirnya hasil ulangan
semester itu dibagikan kepada anak saya. Dan hasilnya adalah rata-rata dari
sembilan mata pelajaran adalah 89,71 dengan nilai tertinggi 95 dan nilai
terendah 83. Bagi saya ini adalah prestasi yang luar biasa. Memang tidak ada
nilai 100 di sana. Tapi merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi kami
orang tuanya. Karena memang kami selalu menekankan kepadanya, kami sebagai
orang tua tidak pernah menuntut dia untuk mendapatkan nilai 100 dari hasil
ulangannya. Kami lebih baik mendapatkan nilai kurang dari 100 tapi jujur
daripada mendapatkan nilai 100 semua tapi hasil bertanya atau nyontek pekerjaan
teman. Dan itu terbukti. Selain itu kami juga tidak pernah menuntut dia agar
menjadi juara, rangking sepuluh besar, tiga besar, dan sebagainya. Kami selaku
orang tua lebih mengutamakan soft skill
dari pada kepandaian yang hanya menghafal dan pandai mengerjakan tapi tidak
paham. Dan itupun sudah dia (anak saya) alami sendiri. Dari segi pelajaran sepeti
itulah yagn dia lakukan, dan hasilnya tidak mengecewakan. Sedangkan dari segi soft skill, dari kelas satu bakat untuk
berbisnis sudah dia miliki. Ketika kami pergi belanja, yang menjadi tujuan
pertamanya adalah book store. Di sana
dia akan membeli barang-barang kecil yang satu bungkus berisi banyak. Mulai
dari penghapus lucu, tempelan-tempelan di buku untuk menuliskan nama, block note mini. Waktu itu saya bingung,
untuk apa sebenarnya dia membeli sebanyak itu. Setelah beberapa hari baru saya
tahu. Dari apa yang dia beli dalam jumlah banyak itu dia jual kembali kepada
teman-temanya dengan selisih harga yang tidak terlalu banyak. Dan itu
berlangsung dari kelas satu hingga kelas tiga sekarang ini. Di mana ada peluang
untuk dia menjual barang keperluan untuk teman-temannya dia selalu ‘berbelanja’
kemudian menjualnya kembali kepada teman-temannya. Sebulan yang lalu pun
seperti itu. Ketika ada praktik pelajaran IPA, anak-anak harus membawa balon
untuk praktik tentang udara yang menempati ruang. Ketika dia membeli balon, dia
tidak membeli satu atau dua untuk keperluan dia sendiri, tapi dia membeli satu
pak balon kira-kira jumlahnya ada sepuluh buah. Saya bertanya “untuk apa
membeli sebanyak itu?”. “Adalah Bu” katanya. Sepulang dari sekolah dia
menyampaikan bahwa balonnya sudah habis terjual, dibeli oleh teman-temannya
karena teman-temannya lupa tidak membawa. Dan uang hasil penjualan itu memiliki
selisih dua ribu rupiah dari pembelian. Dan uang itu dia masukkan ke ‘celengan’
dhuafa seribu rupiah dan seribu rupiah untuk dia pakai sebagai uang jajan, dan
yang lain dia kembalikan kepada saya, sebagai modalnya katanya. Bagi saya semua
yang dia lakukan adalah sangat luar biasa. Sebagai anak berumur delapan tahun
sudah bisa mengatur hal keuangan seperti itu. Dan yang sangat mengharukan bagi
saya, pada saat saya ulang tahun di tahun ini, dia memberikan saya satu toples
kue coklat seharga empat puluh enam ribu rupiah yang dia beli dari ustadzahnya
di sekolah karena waktu itu bersamaan dengan masa-masa puasa menjelang lebaran,
sehingga banyak kue yang di jajakan.
“Ibu, ini kue coklat untuk hadiah ulang tahun ibu, kue ini adik beli dari
uang yang adik kumpulkan dari penjualan block
note selama setahun lo bu”. Air mata saya menetes saat itu. Terima kasih Ya
Allah.... Kau berikan kami amanah yang begitu cerdas atas segala limpahan
rahmad dariMu.
“manusia memiliki otak kanan dan otak kiri,
dimana dalam setiap otak memiliki keterampilan yang khas dalam urutan kerja
yang sangat rapi, setiap orang memiliki banyak sekali keterampilan intelektual,
berpikir, dan kreativitas. Otak kanan dan otak kiri harus diseimbangkan untuk
membentuk pribadi yang sinergis mampu menyikapi kehidupan berdasarkan logika
maupun berdasarkan emosional. Sehingga melahirkan manusia yang bertaqwa, cerdas
dan kreatif”
*salam pendidikan*
~tidar penuh cinta~22122013~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar