Rabu, 06 April 2016

Manusia vs Teknologi


Manusia memang dianegerahi pikiran untuk berpikir dan lebih maju dari makhluk lain. Namun terkadang, tanpa disadari manusia sering diperbudak oleh barang mati yang tidak bernyawa. Teknologi saat ini serasa benar-benar memperbudak manusia. Padahal jika mau menilik ke belakang, teknologi itu buatan manusia itu sendiri. Eh.. kebolak balik jadinya ya.
Seperti pelaksanaan UNBK/CBT dimana saya mengawas UN kali ini. Ujian Nasional yang dilaksanakan berbasih komputer diikuti oleh beberapa sekolah di kota kami. Sebelum pelaksanaan UNBK ini seluruh sekolah yang akan menyelenggarakan UN mempersiapkan dengan sangat perfect, saya pikir.
Seluruh perangkat lunak maupun perangkat keras disiapkan dengan sangat matang. Hingga ruangan dan AC pun harus benar-benar mendukung pelaksanaan CBT ini. Para proktor dan panitia sangat sibuk. Antara semangat, capek, dan juga deg-degan campur aduk jadi satu. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada saat pelaksanaannya nanti.
Memang ada perbedaan yang signifikan antara pelaksanaan PBT dengan CBT. Ujian nasional yang dilaksanakan berbasis kertas memang bisa saja diantisipasi. Misalnya setiap ruang kelas kurang bisa mengambil pada kelas lain. Rusak kertas bisa digantikan kertas yang lain. Waktu fleksibel, dalam arti, ketika penyelenggaraan UN dilaksanakan di tempat-tempat terpencil disesuaikan dengan datangnya logistik ditempat tersebut. Namun sedikit maklum yang diberikan  untuk sekolah di daerah perkotaan yang alat transportasinya sangat mudah.
UNBK yang sudah berlangsung hari ketiga, hari ini Rabu, 6 April 2016. Ada sedikit kendala yang mungkin bisa menjadikan "gobyos" para proktor. Bagaimana tidak, pada sekolah tempat saya mengawas, waktu pelaksanaan ujian antara komputer siswa dengan server memiliki selisih waktu. Waktu yang tertera pada komputer siswa selisih lima menit dengan komputer server. Tidak banyak memang. Namun sangat berarti bagi para siswa untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi saat itu mata pelajarannya adalah Matematika.
Kejadian yang berlangsung adalah, waktu di server sudah habis, namun pada komputer siswa masih berjalan mundur lima menit menjelang berakhirnya ujian. Karena mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika, seperti menjadi sebuah kebiasaan, anak menyelesaikan pekerjaan hingga akhir waktu. Cieeee... jadi seperti lagu ya. Hehehehe.
Naahhh... tiba-tiba komputer anak-anak langsung 'pet' log out sendiri. Kontan satu kelas ribut. Khawatir hasil pekerjaannya tadi sia-sia, hilang begitu saja. Server juga panik. Namun pengawas berusaha menenangkan siswa. Siswa diminta duduk kembali, sembari proktor mengambil token ulang. Hal ini dilakukan agar siswa dapat submit kembali kemudian bisa mengakhiri pekerjaan ujian, dan dianggap selesai mengerjakan.
Setelah selesai diatasi oleh proktor akhirnya anak baru bisa bernafas dengan lega. Siswa merasa yakin kalau pekerjaan telah masuk data base. Namun di wajah mereka masih menyisakan gurat kekhawatiran. Masih menyimpan kekhawatiran jika hal itu nantinya menyebabkan ketidak lulusan bagi mereka. Meskipun sebenarnya UN ini tidak menentukan kelulusan bagi mereka.
Nah di sinilah mengapa di awal saya katakan bahwa manusia bisa saja diperbudak oleh teknologi yang notabene buatan manusia itu sendiri. Karena komputer itu ibarat robot, akhirnya nggak bisa merasakan kekhawatiran dan kegaduhan yang dirasakan oleh siswa, proktor, dan juga pengawas.
UNBK/CBT memang sangat praktis dari segi pelaksanaan. Irit kertas yang artinya kita menyimpan pohon dan bumi kita yang jadi bahan baku kertas. Namun di lain sisi, segala persiapan sangat ribet dan harus betul-betul fix. Sampai-sampai AC turut mendukung keberhasilan UNBK ini. Jika AC mati maka server dan komputer untuk ujian tidak bisa jalan. AC dalam kondisi temperatur rendah agar PC dingin dan tidak mati. Tapi manusia yang ada di dalam ruangan tersebut dibuat kedinginan. Bisa jadi masuk angin juga kan. Hehehe...
PC nya dingin, manusianya panas. Iya, kan kalau habis dari laboratorium selama enam jam berturut-turut seharian bagi siswa, pengawas, proktor kan sangat ekstrim. Bisa menyebabkan sakit, sakit panas. PC nya sehat, manusianya yang tersiksa.
Yah.... begitulah teknologi. Harus disiapkan lebih humanis. Agar bisa memiliki kemanfaatan antara satu dengan lainnya yang saling terkait.
So...
UNBK untuk tinggal satu hari lagi.
Tetap semangat siswa-siswa SMA/SMK.
Semoga berhasil

Salam santun pendidik
Magelang, 006042016
Umi Azzura

Matematika Menjadi Momok




UNBK hari kedua sudah lebih kondusif dibading hari sebelumnya. Anak-anak terlihat tenang saat memasuki ruang ujian. Ada satu kelas pada sesi dua yang berkumpul sebelum memasuki ruangan. Membuat lingkaran menyatukan lengan kemudian membuat satu teriakan yel-yel. Sebelumnya diawali dengan doa bersama. Sangat kompak.
Di dalam ruang ujian, waktu berjalan, siswa masih dalam kondisi stabil. Namun ketika waktu berjalan, satu jam lebih, nampak gejala kegelisahan. Kursi mulai berderit, muka ditekuk, rambut-rambut mereka sudah acak adut tidak karuan. Dinginnya suhu ruangan sudah tidak dirasa lagi.
Apatah sebab? Ya, karena hari ini mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Satu mata pelajaran yang menjadi momok sebagian siswa. Lima belas menit menjelang waktu habis, kepanikan semakin terasa. Banyak nomor soal yang belum terisi.
Analisis sederhananya, para siswa terpaku pada satu nomor soal yang sulit. Sehingga menghabiskan waktu. Lupa bahwa masih banyak soal yang belum dikerjakan. Selain itu kurang memperhitungkan waktu yang terus berjalan dalam hitungan mundur.
Lima menit menjelang berakhir ada siswa yang asal memilih jawaban. Asal klik di antara lima jawaban option A-E. Ada keresahan yang menggantung di wajah siswa tersebut. Tapi apa daya, waktu telah habis dalam mengerjakan soal tersebut.
Saat semua siswa sudah keluar, proktor panik, ada siswa yang memiliki status sedang mengerjakan, padahal siswa sudah habis. Ternyata, siswa tersebut belum mengklik tombol selesai dan centang, ya. Hal ini disebabkan kepanikan siswa. Waktu tersisa tinggal satu menit, soal belum selesai dikerjakan. Akhirnya ditinggal begitu saja. Solusinya proktor harus mengambil token ulang agar siswa tersebut bisa login kembali, submit dan mengakhiri ujiannya serta log out.
Ternyata Matematika masih menjadi momok siswa. Pelajaran yang dianggap sulit.
Semoga berhasil.
Tetap semangat!


Salam santun pendidik
Magelang, 05032016
Umi Azzura

Ujian Nasional (UNBK/CBT) 2015/2016



Beberapa hari kemarin saya diserahi surat tugas mengawas Ujian Nasional. Tidak seperti biasanya, kali ini saya diberi tugas mengawas UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Istilah lain adalah CBT (Computer Based Test) untuk siswa SMK.
Mengingat UN sesi satu dilaksanakan pukul 07.30, pagi sekali saya mengantar sekolah anak-anak. Agar tidak terlambat sampai di sekolah tempat saya mengawas.
Diinformasikan pengawas harus datang 45 menit sebelumnya. Tanpa sesuap sarapan, akhirnya saya berangkat dengan perut kosong.
Berdasar pengalaman sesi pertama ini, mungkin bisa menjadi bekal para guru. Untuk nempersiapkan diri sebelum mengawas UNBK/CBT pada hari berikutnya.
Suasana ruang laboratorium komputer yang sangat dingin. AC tiga buah dengan temperatur 20°C sangat memungkinkan menjadi sebab masuk angin. Jadi, usahakan sarapan terlebih dahulu. Menggunakan kaos kaki ketika di dalam ruangan, karena alas kaki wajib dilepas. Satu lagi, usahakan baju seragam berlapis. Bisa kaos di dalam seragam atau jas sebagai luaran.
Bagi yang sensitif terhadap AC bisa menggunakan penghangat badan, seperti minyak kayu putih atau dengan cara lain. Pengalaman saya, jam mengawas yang baru berjalan 1 jam 30 menit saya sudah bersin-bersin. Bisa jadi akibat dari kondisi yang kurang fit. Atau karena perut kosong dan badan tidak dikondisikan dalam keadaan hangat.
Untuk mengurangi kulit kering yang akan dialami akibat AC yang dinginnya ekstrim, bisa digunakan pelembab untuk wajah atau lotion bagi kulit tangan dan kaki. Bukan karena 'kemayu', hal ini untuk menghindari dehidrasi kulit, karena jam mengawas akan berlangsung hingga pukul 16.00 wib (tiga sesi).
Cerita lain. Pada saat keluar tadi, siswa yang bersalaman dan cium tangan, tangannya sangat dingin. Untuk itu, siswa diusahakan dengan persiapan yang hampir sama. Kondisi badan harus fit. Sarapan terlebih dahulu. Agar bisa nyaman mengerjakan soal UN. Hari berikutnya dapat melaksanakan UN dengan lancar dan tidak mengalami keluhan kesehatan.
Dari segi pelaksanaan, siswa harus betul-betul memperhatikan identitas peserta, soal, dan jawabannya pada layar monitor. Karena tadi ada siswa yang lupa log out. Bisa berakibat, siswa dianggap belum selesai mengerjakan. Ruangan dikondisikan dalam keadaan tenang supaya tidak mengganggu konsentrasi siswa.
Akhirnya. Selamat mengawas Bapak/Ibu guru. Selamat bekerja para Proktor. Selamat menempuh Ujian Nasional bagi siswa SMU/SMK/MA seluruh Indonesia.
Meski UN bukan penentu kelulusan, lakukan ujian ini dengan baik dan sungguh-sungguh.


Salam santun pendidik
Magelang, 04042016
Umi Azzura

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...