UNBK
hari kedua sudah lebih kondusif dibading hari sebelumnya. Anak-anak
terlihat tenang saat memasuki ruang ujian. Ada satu kelas pada sesi dua
yang berkumpul sebelum memasuki ruangan. Membuat lingkaran menyatukan
lengan kemudian membuat satu teriakan yel-yel. Sebelumnya diawali dengan
doa bersama. Sangat kompak.
Di dalam ruang ujian, waktu
berjalan, siswa masih dalam kondisi stabil. Namun ketika waktu berjalan,
satu jam lebih, nampak gejala kegelisahan. Kursi mulai berderit, muka
ditekuk, rambut-rambut mereka sudah acak adut tidak karuan. Dinginnya
suhu ruangan sudah tidak dirasa lagi.
Apatah sebab? Ya, karena
hari ini mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Satu mata
pelajaran yang menjadi momok sebagian siswa. Lima belas menit menjelang
waktu habis, kepanikan semakin terasa. Banyak nomor soal yang belum
terisi.
Analisis sederhananya, para siswa terpaku pada satu nomor
soal yang sulit. Sehingga menghabiskan waktu. Lupa bahwa masih banyak
soal yang belum dikerjakan. Selain itu kurang memperhitungkan waktu yang
terus berjalan dalam hitungan mundur.
Lima menit menjelang
berakhir ada siswa yang asal memilih jawaban. Asal klik di antara lima
jawaban option A-E. Ada keresahan yang menggantung di wajah siswa
tersebut. Tapi apa daya, waktu telah habis dalam mengerjakan soal
tersebut.
Saat semua siswa sudah keluar, proktor panik, ada siswa
yang memiliki status sedang mengerjakan, padahal siswa sudah habis.
Ternyata, siswa tersebut belum mengklik tombol selesai dan centang, ya.
Hal ini disebabkan kepanikan siswa. Waktu tersisa tinggal satu menit,
soal belum selesai dikerjakan. Akhirnya ditinggal begitu saja. Solusinya
proktor harus mengambil token ulang agar siswa tersebut bisa login
kembali, submit dan mengakhiri ujiannya serta log out.
Ternyata Matematika masih menjadi momok siswa. Pelajaran yang dianggap sulit.
Semoga berhasil.
Tetap semangat!
Salam santun pendidik
Magelang, 05032016
Umi Azzura

Tidak ada komentar:
Posting Komentar