Jumat, 27 September 2013

KARAWITAN MURID SD PRAGAK, SEMANU, GUNUNGKIDUL


Budaya K-Pop merajalela di kalangan masyarakat saat ini. Anak-anak dari TK sampai dengan SMA mungkin juga para remaja yang sudah kuliah pun tergila-gila dengan K-Pop. Dengan 
artis-artis berkulit putih mulus berambut warna-warni, berwajah imut ganteng dan cantik . Poster-poster pria ganteng dan perempuan cantik ini hampir memenuhi setiap ruang kamar para remaja-remaja terutama perempuan. Di mana-mana demam dance, batle dance. Busana ala korea, rambut ala ‘alay’..

Namun di dusun Bendorejo-Pragak, khususnya di SD Pragak budaya itu mungkin hanya selintas saja mereka gandrungi. Pasalnya di SD ini ada ekstra kurikuler khusus yang mungkin langka bagi anak-anak seusia mereka saat ini yaitu Karawitan. Di sekolah ini sering disebut  sebagai kegiatan ‘nggamel’.
Kegiatan ini ada di SD Pragak sebenarnya bukan tanpa sebab, beberapa belas tahun yang lalu, di dusun Bendorejo ada seorang seniman senior yang sering main kethoprak, melanglang buana di Semanu dan sekitarnya, di Gunungkidul pada umumnya. Seniman ini adalah seorang laki-laki bernama alm.Maryana (dibaca: Maryono).
Bapak dengan empat orang anak ini sekarang sudah meninggal. Namun beliau mewariskan ilmu kepada putra keduanya berupa bakat seni yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Dikala hidupnya beliau berpesan, sampai kapanpun teruskanlah kesenian ini. Dengan adanya seperangkat gamelan di rumahnya, banyak anak-anak yang ‘sepel’ atau latihan ‘nggamel’. Selain itu amanah orang tuanya sewaktu hidupnya itulah yang menjadi motivasi untuk meneruskan budaya seni yang tidak boleh hilang begitu saja.
Dalam melatih anak-anak SD ini diawali oleh Seorang putra mantan guru SD Pragak, Ki Bambang Sulanjari, yang terakhir ini adalah seorang dosen di IKIP PGRI Semarang, selain itu dia adalah seorang dalang, memberikan support kepada mereka untuk terus latihan. Dibantu oleh Pak Giran salah satu guru di SD Pragak waktu itu. Karena mereka berdua memiliki kesibukan, akhirnya diserahkan kepada putra pak alm. Maryana yaitu Pak Mugiyo dibantu seniman lain yaitu Pak Mingin.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak ini bisa tampil di beberapa event. Mengikuti perlombaan antar SD se Kecamatan Semanu dan berhasil meraih juara satu berturut-turut selama dua kali event. Setelah itu mewakili Kecamatan Semanu untuk lomba karawitan SD Se Kabupaten Gunungkidul. Dari 18 peserta dari 18 kecamatan, SD Pragak mendapat juara pertama. Untuk event di atasnya, SD Pragak mewakili lomba karawitan tingkat propinsi DIY dan pada akhirnya pun mendapat juara satu juga.
Karena prestasinya itulah karawitan SD Pragak ini sering di”tanggap” dimana-mana. Pernah ikut serta menyemarakkan hari jadi Gunungkidul beberapa tahun yang lalu, mengisi acara “sunatan”, “mantu”, “rasulan” dan kegiatan lainnya. Namun masih dengan perangkat gamelan yang apa adanya.
Beberapa waktu yang lalu, seorang mahasiswa ISI yang survei di Kecamatan Semanu, mampir di SD Pragak. Melihat kondisi gamelan yang kurang layak itu, dia menyarankan kepada pihak SD untuk membuat proposal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk minta bantuan seperangkat gamelan, dan goll.. berhasil. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi menghadiahkan seperangkat gamelan baru kepada SD Pragak untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan bakat nggamel.
Saat ini kegiatan karawitan ini menjadi ekstra kurikuler yang wajib diikuti dengan senang hati oleh siswa kelas tiga hingga kelas enam. Kegiatan diselenggarakan rutin setiap sore sepulang sekolah pukul 15.00 wib hingga selesai dengan jadwal seminggu sekali bergantian antar kelasnya. Selain itu gamelan ini juga bisa digunakan latihan maupun pentas oleh masyarakat Pragak dan Bendorejo.
Potensi yang sangat baik, melestarikan kebudayaan jawa yang hampir tidak diminati lagi oleh masyarakat jawa sendiri selayaknya untuk di “uri-uri”. Kitalah, masyarakat yang harus selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada anak-anak didik itu untuk terus berkarya melestarikan budaya dan mengharumkan nama bangsa yang dimulai dari skala kecil dan selalu berharap untuk lebih berkembang lagi.
Penasaran... lihat saja di SD Pragak, Semanu, Semanu, Gunungkidul, DIY.

Selasa, 24 September 2013

BIRU BLUE_nya Perjalananku (3)


TWC 2

Malam itu selesai makan, kita buka-buka lapi masing-masing. Agak termotivasi mungkin. Sebentar kami menulis dan menulis. Tapi entah apa yang kami tulis.. (hehe).
Namun kantuk tak terelak lagi. Kantuk mendesak mata ini untuk segera menuju peraduan. Di nina bobokan oleh semilir air conditioning (AC) yang sepoi-sepoi (kaya di puncak ajah...)
“bleg seg” raga ini tertidur. Merenda mimpi-mimpi, menjahit langit-langit angan. Dan terbangun kembali jam 3 pagi. Waktu dimana kaki ini terduduk sujud menghadapMu ya Allah. Raga ini rapuh, kudatang dengan ikhlas tanpa syarat (hiks...).

Hari itu acara TWC 2 berjalan sangat padat aktivitasnya, mulai dari pagi hingga siang hari. Banyak sekali nara sumber yang mengisi acara, termasuk Om Jay sang ketua panitia.


CIIIIIISSS.....
 
Mungkin sudah menjadi budaya, dalam setiap acara selalu diakhiri foto bersama agar ada kenangan yang lebih mendalam dan mudah diingat pada suatu waktu nanti.
 




BYE BYE.... d’JAKARTA
Selesai berfoto-foto ria, bersama peserta, panitia, dan juga nara sumber, kukemasi barang-barang. Dan kutinggalkan wisma UNJ. See u next time all my friend... kususuri tangga-tangga penyeberangan trans jakarta. Setengah jam kemudian kami tiba di stasiun senen. 






PIYAYI GUNUNGKIDUL di Stasiun Senen

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang Gunungkidul adalah orang yang tangguh, ulet dan pantang menyerah. Nyatanya.. ketika kami di depan stasiun, membeli nasi bungkus. Naluri bertanyaku, yang gak mau diem keluar. “Bu, tumbas nasine..”, sengaja kugunakan bahasa jawa, karena selintas tadi kudengar ibu-ibu penjual itu berbicara menggunakan bahasa jawa.
“mangga jeng”, katanya dengan ramah. Sambil mengambilkan nasi ramesnya, ku ajak bicara ibu-ibu itu. Dan ternyata benar. Ibu itu berasal dari Gunungkidul, tepatnya dari kecamatan Semin. Kalau ada pepatah “Dunia tak selebar daun kelor” nyata adanya. Di sinipun, di Jakarta, ternyata ada juga tetangga (hehe...). ketika berada di daerah antah berantah, orang sedaerah rasanya seperti tetangga atau bahkan seperti keluarga dekat saja.

PORSI KULI..

Perjalanan pulang kami dimulai setengah tujuh malam dari stasiun senen. Dengan kereta bisnis kutinggalkan Jakarta yang menyimpan sejuta kenangan. Menyimpan sejuta ilmu yang harus selalu kugali.
Kereta berjalan, perut mulai laper ni... (tukang laperrr...). kami buka nasi bungkus yang kami beli dari ibu-ibu asal Gunungkidul tadi. WOW... porsi kuli nih, tawa kami cekikikan melihat nasi bungkus yang super buanyak... (karena obrolan kami tadi apa ya, sama-sama orang Gunungkidul, ditambahi porsinya.. hehe). Sambil ngobrol ngalor ngidul... eeehhhhh, ludes juga ternyata nasi bungkusnya... hahaha, jadi geli...

JOGJA... I’M COMMING...       
                         
Pukul setengah empat pagi kami tiba di stasiun tugu jogja... legaaa... rasanya. Lain sekali suasana yang kami rasakan, terasa nyaman, adem... Jogja berhati nyaman benar adanya. Meskipun kami orang jogja, tak salah kalau kita sarapan nasi gudeg dulu.. (makan lagi.... hehe).
Sambil menunggu shubuh kami sempatkan makan nasi gudeg dulu sambil nge_teh manis dan coffemix. Biar ga ngantuk nanti perjalanan pulang kerumah. Masih satu jam ‘je’...
Akhirnya kami putuskan untuk berpisah di hotel motor alias tempat parkir. Aku menuju rumah(kontrakan)ku dan mbak budi pulang kerumahnya yang ada di arah barat kota Jogja.

~TAMAT / THE END ~



Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...