Budaya K-Pop merajalela di kalangan masyarakat saat ini. Anak-anak dari TK sampai dengan SMA mungkin juga para remaja yang sudah kuliah pun tergila-gila dengan K-Pop. Dengan artis-artis berkulit putih mulus berambut warna-warni, berwajah imut ganteng dan cantik . Poster-poster pria ganteng dan perempuan cantik ini hampir memenuhi setiap ruang kamar para remaja-remaja terutama perempuan. Di mana-mana demam dance, batle dance. Busana ala korea, rambut ala ‘alay’..
Namun di dusun Bendorejo-Pragak, khususnya di SD Pragak budaya itu mungkin hanya selintas saja mereka gandrungi. Pasalnya di SD ini ada ekstra kurikuler khusus yang mungkin langka bagi anak-anak seusia mereka saat ini yaitu Karawitan. Di sekolah ini sering disebut sebagai kegiatan ‘nggamel’.
Kegiatan
ini ada di SD Pragak sebenarnya bukan tanpa sebab, beberapa belas tahun yang
lalu, di dusun Bendorejo ada seorang seniman senior yang sering main kethoprak,
melanglang buana di Semanu dan sekitarnya, di Gunungkidul pada umumnya. Seniman
ini adalah seorang laki-laki bernama alm.Maryana (dibaca: Maryono).
Bapak
dengan empat orang anak ini sekarang sudah meninggal. Namun beliau mewariskan
ilmu kepada putra keduanya berupa bakat seni yang mungkin tidak dimiliki oleh
orang lain. Dikala hidupnya beliau berpesan, sampai kapanpun teruskanlah
kesenian ini. Dengan adanya seperangkat gamelan di rumahnya, banyak anak-anak
yang ‘sepel’ atau latihan ‘nggamel’. Selain itu amanah orang tuanya sewaktu
hidupnya itulah yang menjadi motivasi untuk meneruskan budaya seni yang tidak
boleh hilang begitu saja.
Dalam
melatih anak-anak SD ini diawali oleh Seorang putra mantan guru SD Pragak, Ki
Bambang Sulanjari, yang terakhir ini adalah seorang dosen di IKIP PGRI Semarang,
selain itu dia adalah seorang dalang, memberikan support kepada mereka untuk
terus latihan. Dibantu oleh Pak Giran salah satu guru di SD Pragak waktu itu.
Karena mereka berdua memiliki kesibukan, akhirnya diserahkan kepada putra pak
alm. Maryana yaitu Pak Mugiyo dibantu seniman lain yaitu Pak Mingin.
Seiring
berjalannya waktu, anak-anak ini bisa tampil di beberapa event. Mengikuti
perlombaan antar SD se Kecamatan Semanu dan berhasil meraih juara satu
berturut-turut selama dua kali event. Setelah itu mewakili Kecamatan Semanu
untuk lomba karawitan SD Se Kabupaten Gunungkidul. Dari 18 peserta dari 18
kecamatan, SD Pragak mendapat juara pertama. Untuk event di atasnya, SD Pragak
mewakili lomba karawitan tingkat propinsi DIY dan pada akhirnya pun mendapat juara
satu juga.
Karena
prestasinya itulah karawitan SD Pragak ini sering di”tanggap” dimana-mana.
Pernah ikut serta menyemarakkan hari jadi Gunungkidul beberapa tahun yang lalu,
mengisi acara “sunatan”, “mantu”, “rasulan” dan kegiatan lainnya. Namun masih dengan
perangkat gamelan yang apa adanya.
Beberapa
waktu yang lalu, seorang mahasiswa ISI yang survei di Kecamatan Semanu, mampir
di SD Pragak. Melihat kondisi gamelan yang kurang layak itu, dia menyarankan
kepada pihak SD untuk membuat proposal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk
minta bantuan seperangkat gamelan, dan goll.. berhasil. Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Propinsi menghadiahkan seperangkat gamelan baru kepada SD Pragak
untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan bakat nggamel.
Saat
ini kegiatan karawitan ini menjadi ekstra kurikuler yang wajib diikuti dengan
senang hati oleh siswa kelas tiga hingga kelas enam. Kegiatan diselenggarakan
rutin setiap sore sepulang sekolah pukul 15.00 wib hingga selesai dengan jadwal
seminggu sekali bergantian antar kelasnya. Selain itu gamelan ini juga bisa
digunakan latihan maupun pentas oleh masyarakat Pragak dan Bendorejo.
Potensi
yang sangat baik, melestarikan kebudayaan jawa yang hampir tidak diminati lagi
oleh masyarakat jawa sendiri selayaknya untuk di “uri-uri”. Kitalah, masyarakat
yang harus selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada anak-anak didik itu
untuk terus berkarya melestarikan budaya dan mengharumkan nama bangsa yang
dimulai dari skala kecil dan selalu berharap untuk lebih berkembang lagi.
Penasaran...
lihat saja di SD Pragak, Semanu, Semanu, Gunungkidul, DIY.


