TWC 2
Malam itu selesai makan, kita buka-buka lapi masing-masing.
Agak termotivasi mungkin. Sebentar kami menulis dan menulis. Tapi entah apa
yang kami tulis.. (hehe).
Namun kantuk tak terelak lagi. Kantuk mendesak mata ini
untuk segera menuju peraduan. Di nina bobokan oleh semilir air conditioning
(AC) yang sepoi-sepoi (kaya di puncak ajah...)
“bleg seg” raga ini tertidur. Merenda mimpi-mimpi, menjahit
langit-langit angan. Dan terbangun kembali jam 3 pagi. Waktu dimana kaki ini
terduduk sujud menghadapMu ya Allah. Raga ini rapuh, kudatang dengan ikhlas
tanpa syarat (hiks...).
Hari itu acara TWC 2 berjalan sangat padat aktivitasnya,
mulai dari pagi hingga siang hari. Banyak sekali nara sumber yang mengisi
acara, termasuk Om Jay sang ketua panitia.
CIIIIIISSS.....
Mungkin sudah menjadi budaya,
dalam setiap acara selalu diakhiri foto bersama agar ada kenangan yang lebih
mendalam dan mudah diingat pada suatu waktu nanti.
BYE BYE.... d’JAKARTA
Selesai berfoto-foto ria, bersama peserta, panitia, dan juga
nara sumber, kukemasi barang-barang. Dan kutinggalkan wisma UNJ. See u next time all my friend...
kususuri tangga-tangga penyeberangan trans jakarta. Setengah jam kemudian kami
tiba di stasiun senen.
PIYAYI GUNUNGKIDUL di Stasiun Senen
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang Gunungkidul adalah
orang yang tangguh, ulet dan pantang menyerah. Nyatanya.. ketika kami di depan
stasiun, membeli nasi bungkus. Naluri bertanyaku, yang gak mau diem keluar.
“Bu, tumbas nasine..”, sengaja kugunakan bahasa jawa, karena selintas tadi
kudengar ibu-ibu penjual itu berbicara menggunakan bahasa jawa.
“mangga jeng”, katanya dengan ramah. Sambil mengambilkan
nasi ramesnya, ku ajak bicara ibu-ibu itu. Dan ternyata benar. Ibu itu berasal
dari Gunungkidul, tepatnya dari kecamatan Semin. Kalau ada pepatah “Dunia tak
selebar daun kelor” nyata adanya. Di sinipun, di Jakarta, ternyata ada juga
tetangga (hehe...). ketika berada di daerah antah berantah, orang sedaerah
rasanya seperti tetangga atau bahkan seperti keluarga dekat saja.
PORSI KULI..
Perjalanan pulang kami dimulai setengah tujuh malam dari
stasiun senen. Dengan kereta bisnis kutinggalkan Jakarta yang menyimpan sejuta
kenangan. Menyimpan sejuta ilmu yang harus selalu kugali.
Kereta berjalan, perut mulai laper ni... (tukang
laperrr...). kami buka nasi bungkus yang kami beli dari ibu-ibu asal
Gunungkidul tadi. WOW... porsi kuli nih, tawa kami cekikikan melihat nasi
bungkus yang super buanyak... (karena obrolan kami tadi apa ya, sama-sama orang
Gunungkidul, ditambahi porsinya.. hehe). Sambil ngobrol ngalor ngidul...
eeehhhhh, ludes juga ternyata nasi bungkusnya... hahaha, jadi geli...
JOGJA... I’M COMMING...
Pukul setengah empat pagi kami tiba di stasiun tugu jogja...
legaaa... rasanya. Lain sekali suasana yang kami rasakan, terasa nyaman,
adem... Jogja berhati nyaman benar adanya. Meskipun kami orang jogja, tak salah
kalau kita sarapan nasi gudeg dulu.. (makan lagi.... hehe).
Sambil menunggu shubuh kami sempatkan makan nasi gudeg dulu
sambil nge_teh manis dan coffemix. Biar ga ngantuk nanti perjalanan pulang
kerumah. Masih satu jam ‘je’...
Akhirnya kami putuskan untuk berpisah di hotel motor
alias tempat parkir. Aku menuju rumah(kontrakan)ku dan mbak budi pulang
kerumahnya yang ada di arah barat kota Jogja.
~TAMAT / THE END ~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar