MALAM P ERTAMA
“Mbak,
buka link di inbox ya, cepat...”
Kata
sahabatku mb budi waktu itu di hand phone. 17 Juni 2013 siang waktu itu.
“Ya
bentar lagi ya.”
“Sekarang,
jangan nanti!!” Pinta dia nggak sabar
Ya-ya,
aku bilang.
Ternyata
link itu adalah kegiatan Teacher Writing
Camp 2 yang diselenggarakan oleh IGI Depok. Agak ragu sebenarnya aku untuk
mengikuti. Tapi kata mbak budi, Ayolah, kita belajar nulis, ngeblog di sana.
Ya! Pinta dia. Ok lah.
Masalah
akomodasi dan sebagainya dipikir nanti. Karena aku memang suka kegiatan ini.
Dan kupikir juga, sebagai peningkatan kompetensiku sebagai seorang pendidik.
Yang harus bisa nulis.
Dan
aku order juga akhirnya. 17 Juni, hari itu
juga aku order tiket peserta.
Tidak
ada jawaban. Hampir beberapa hari. Kutanyakan lewat email, ternyata peserta
penuh. Yah.. apa boleh buat, tidak apa-apa. Untuk kesempatan selanjutnya aku
pasti ikut.
Ternyata
setelah beberapa hari, tepatnya 23 Juni
2013 saya dihubungi lagi untuk mendaftar pada gelombang ke2. Terdaftar
juga akhirnya aku bilang...
Dan
pada tanggal 1 Juli aku dikirimi surat undangan beserta untuk mengikuti
kegiatan tersebut. “Akhirnya” gumamku
Teacher Writing Camp 2
dilaksanakan di Aula Wisma Universitas Negeri Jakarta Komplek UNJ. Jl
Pemuda-Rawamangun, Jakarta Timur. Dalam undangan tersebut tercantum tanggal 6,7
Juli 2013.
Berarti
harus pesan tiket dan sebagainya. Tapi.. aku kan tidak sendiri. Ada sahabatku
mbak budi. Kuserahkan semuanya padanya, masala pesan tiket dan sebagainya.
PERJALANAN KE JAKARTA
Jumat
pagi 5 Juli 2013 aku masih masuk kerja, karena masih banyak yang harus aku
selesaikan di sekolah. Dan sore harinya baru aku siap-siap berangkat ke
jakarta, yang kata mbak Budi nanti kita naik kereta saja setengah tujuh dari
stasiun Tugu Yogyakarta. Kuiyakan saja. Jam setengah lima sore aku pacu sepeda
motor revoku 110 cc warna hitam dengan plat AA (hehe... detil amat.. takut
ditilang...!) yang selalu setia menemaniku, mengantarkanku kemanapun aku pergi
(sahabat atau pacarku ya dia..:D)
Santai
saja aku bermotor ria. Menikmati sepoi-sepoinya angin di sore hari disepanjang
jalan Magelang-Jogja. Sambil melamun nih ceritanya... (belum makan...
laperrrr).
Sampai
di Jombor.. jalanan lumayan ramai lancar tidak macet, ke arah selatan lalu
lintas semakin padat. Mungkin karena jam pulang kerja, begitu banyak pengguna
jalan di daerah jalan magelang depan TVRI Jogja. Hingga samsat kota Jogja,
jamku masih menunjukkan pukul 17.25 WIB. Masih longgar lah waktuku. Setibanya
di stasiun tugu 5 menit kemudian langsung kuparkirkan sepeda motorku.
“Nginep
mbak?” (ada hotel buat motor ya... hehe). Delapan belas ribu rupiah untuk
sampai hari senin pagi. Lumayan.. bisa untuk makan tiga kali.. harusnya (di
angkringan maksudnya)
Menuju
gerbang stasiun tugu sudah banyak para penumpang kereta api berjubel mengantri.
Masih jam 17.50, mbak budi belum juga datang, baru berangkat malah dari rumah.
Tak apalah, rumah dia dekat masalahnya.
Menit
ke menit ku menunggu sambil mengamati orang disekitarku. Ketika ku berdiri di
sisi kiri gerbang, ada seorang nenek-nenek yang mungkin umurnya sudah sekitar 70tahunan, berjualan kacang dan pisang rebus,
peyek dan sebagainya. Makanan siap santap dengan menu sederhana. Wajah nenek
itu begitu kesal sepertinya. Kenapa? Tanya dalam hatiku. Tiba-tiba dia
mendorong “tebok”nya ke arahku. Aduuh.. sakiitt, dia juga mendorong
“tenggok”nya ke arah orang yang duduk di kursi sebelah utara tempat dia duduk.
Dengan wajah marah, tapi tidak bicara, hanya dengan “body language” mendorong tempat dagangannya, menyuruh orang
bergeser. Apa karena ga dibeli dagangannya ya. Akhirnya ibu-ibu yang duduk di
kursi itu membeli dagangan si nenek itu. Raut wajah si nenek ini agak menurun,
sedikit lega. Akhirnya kuputuskan untuk bergeser ke arah kiri. Ku duduk sambil
menunggu mbak budi. Ku berbincang dengan seorang tacik-tacik. Perempuan cina
paruh baya. Santai sekali dia. Pakai celana jeans pendek selutut kaos oblong
tas pundak dan tas jinjing.
“Mau
kemana buk?” Tanyaku.
“Ini
mau ke Solo, antri tiket Pramex sudah habis. Padahal saya sudah nyari ke calo
lo, sudah habis juga.” (wow.. ternyata masih banyak percaloan di sini..).
“Akhirnya
ya harus ngantri lagi ini, jam 8 baru ada.”
Panjang
lebar kami berbincang. Ternyata dia seorang “Tour Guide” lebih spesifik penterjemah mandarin. Rajin juga ibu
satu ini, semangatnya luar biasa, sudah paruh baya, pekerjaan seperti ini masih
saja dilakukan, yang kadang-kadang berhari-hari dan berbulan-bulan tetap dia
jalani. Mungkin sudah mendarah daging pekerjaanya jadi kemanapun pasti dia
jalani. Itu pendapatku berdasarkan ceritanya.
Tak
lama kemudian, mbak budi muncul dengan tergesa-gesa.
“Ayo,
sudah mau terlambat ini, jam 18.15 he..” logat kulon progonya muncul. Aku pamit
pada tacik-tacik tadi trus beranjak menuju antrian masuk menuju peron. Kuikuti mbak
budi dibelakangnya dengan patuhku... (pisss!!)
“Kita
ga “nyandak” nih sholat magrib di stasiun. Wudhlu aja ya, nanti sholat di
kereta”
“Ok”
aku bilang.
Tidak
selang berapa lama, kira-kira 5 menit kemudian setelah kami masuk di gerbong
kereta, suara kereta senja utama perlahan-lahan membawa kami dalam perjalanan
menuju jakarta.
Sebelum
masuk gerbong tadi kami sempat membeli nasi bungkus sebagai bekal makan kami
diperjalanan (Maklum.. tukang makan semua ini..). kira-kira perjalanan sampai
Kuto arjo kami makan sambil cerita-cerita.. habis juga.. ludes.. waaah..
nikmatnya nasi bungkus di kereta bisnis senja utama.. J. Kami naik kereta bisnis bukan karena
banyak uang lo... karena kita “ngoyak” waktu. Karena besok pagi kita jam 7
sudah harus sudah sampai wisma, kalau naik travel atau bis, nggak bakalan keburu
deh. Kalau masalah bisnisnya... waah ini nih, karena waktu itu 5hari lagi
menjelang puasa, tiket sudah tidak ada yang bisa dipesan lagi. Apa boleh buat,
tak mengapa, demi ilmu kan kukejar kau... bukan mengejar kereta lo ya... J
Dalam
perjalanan, lama-lama dingin ac kereta menusuk.. brrrr, kalau aku sih sudah
persiapan dengan jaket dan kaos kaki... lah sahabatku yang satu ini, buru-buru
akhirnya ga bawa jaket, kaos kaki, apalagi selimut... akhirnya diputuskan...
secangkir kopi nikmat.. hehe ditemani selimut yang lumayan lah bisa
menghangatkan...
Tidur
dulu ya.. klik!!!
Tak
terasa jam di tangan menunjukkan angka setengah 3. Kita sudah hampir sampai di
stasiun senen.
MANDI DI KAMAR MANDI UMUM
Sampai
di stasiun senen kira-kira jam 3, sepi...
Kita
mau keluar dari stasiun, kepagian, takut juga. Mosok perempuan-perempuan cantik
begini (cieeee...), jam segini keluar dari stasiun...? akhirnya kami menunggu
di stasiun, sambil nge-charge bateray
handphone kami yang dah lowbat.
Jam
4 pagi kami menuju musholla yang berada diujung barat. Yang sudah
mengumandangkan ayat-ayat al-qur’an. Sejuk rasanya. Diantara derum lokomotif
kereta api, gembrudug suara gerbong di atas rel yang memekakan telinga.
Ternyata sudah banyak juga yang menunggu di musholla itu. Menunaikan sholat tahajud
dan menunggu datangnya subuh. Kulakukan hal yang sama, sambil melepaskan
kepenatan kaki yang tertekuk-tekuk di dalam kereta karena kedinginan. Selain
itu karena kakiku panjang ga bisa selonjor dengan nyaman (yang penting ga panjang tangan ajah.. hehehe).
“rampung”
sholat subuh kami mengikuti lorong-lorong di stasiun menuju jalan keluar, ke
arah parkiran. Kemana nih kita? Diputuskan akhirnya kita mau mandi dan sarapan
dulu.
Sungguh
pengalaman ini tak kan terlupakan.
Kami
mandi di kamar mandi umum. Menunggu antrian sambil terkantuk-kantuk. Silih berganti
pengguna kamar mandi keluar masuk.
Lumayan
lah, sedikit menyegarkan, meskipun di kamar mandi sempit, mungkin ukurannya
satu kali satu meter. Mau masuk ruangan saja bergantian antara badan dengan
menutup pintu.. luar biasa.. airnya pun agak keruh dan berwarna agak kuning. Asyik
juga nih, berbenah diri merias diri dengan dengan sebuah lipstik ditangan
dengan kaca yang super kecil dan pakai rexona lah... J biar ga BB.
MASAKAN PADANG, KUCING
Laparnya
perut mulai memanggil. Takutnya nanti ga keburu dapat breakfast di wisma. Mata kami mencari-cari dimana ya kita mau
makan. Ketemu masakan padang it’s ok, kami pikir. Kami langsung memesan dua piring, dengan minum teh manis untuk mbak
budi serta nescafe untukku, “tombo ngantuk!!”. Ditengah-tengah asyiknya makan,
di depan kami ada seorang bapak berkumis tebal berperawakan gempal dan dengan
raut muka yang keras makan menggunakan tangan, dan belepotan di mulut. 25%
selera makan kami hilang. Baru saja kami ingin melanjutkan makan, tiba-tiba
kucing disekitar kami mengendus-endus kaki kami. Aduuuuh... hilang sudah 50%
selera makan kami. Dan mbak budi menyudahi makannya. Aku sih masih punya rasa
mubadzir... kulanjutkan makanku..
Bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar