Selasa, 17 September 2013

BIRU BLUE_nya perjalananku



MALAM P ERTAMA

“Mbak, buka link di inbox ya, cepat...”
Kata sahabatku mb budi waktu itu di hand phone. 17 Juni 2013 siang waktu itu.
“Ya bentar lagi ya.”
“Sekarang, jangan nanti!!” Pinta dia nggak sabar
Ya-ya, aku bilang.
Ternyata link itu adalah kegiatan Teacher Writing Camp 2 yang diselenggarakan oleh IGI Depok. Agak ragu sebenarnya aku untuk mengikuti. Tapi kata mbak budi, Ayolah, kita belajar nulis, ngeblog di sana. Ya! Pinta dia. Ok lah.
Masalah akomodasi dan sebagainya dipikir nanti. Karena aku memang suka kegiatan ini. Dan kupikir juga, sebagai peningkatan kompetensiku sebagai seorang pendidik. Yang harus bisa nulis.
Dan aku order juga akhirnya. 17 Juni, hari  itu juga aku order tiket peserta.
Tidak ada jawaban. Hampir beberapa hari. Kutanyakan lewat email, ternyata peserta penuh. Yah.. apa boleh buat, tidak apa-apa. Untuk kesempatan selanjutnya aku pasti ikut.
Ternyata setelah beberapa hari, tepatnya 23 Juni  2013 saya dihubungi lagi untuk mendaftar pada gelombang ke2. Terdaftar juga akhirnya aku bilang...
Dan pada tanggal 1 Juli aku dikirimi surat undangan beserta untuk mengikuti kegiatan tersebut. “Akhirnya” gumamku
Teacher Writing Camp 2 dilaksanakan di Aula Wisma Universitas Negeri Jakarta Komplek UNJ. Jl Pemuda-Rawamangun, Jakarta Timur. Dalam undangan tersebut tercantum tanggal 6,7 Juli 2013.
Berarti harus pesan tiket dan sebagainya. Tapi.. aku kan tidak sendiri. Ada sahabatku mbak budi. Kuserahkan semuanya padanya, masala pesan tiket dan sebagainya.

PERJALANAN KE JAKARTA
Jumat pagi 5 Juli 2013 aku masih masuk kerja, karena masih banyak yang harus aku selesaikan di sekolah. Dan sore harinya baru aku siap-siap berangkat ke jakarta, yang kata mbak Budi nanti kita naik kereta saja setengah tujuh dari stasiun Tugu Yogyakarta. Kuiyakan saja. Jam setengah lima sore aku pacu sepeda motor revoku 110 cc warna hitam dengan plat AA (hehe... detil amat.. takut ditilang...!) yang selalu setia menemaniku, mengantarkanku kemanapun aku pergi (sahabat atau pacarku ya dia..:D)
Santai saja aku bermotor ria. Menikmati sepoi-sepoinya angin di sore hari disepanjang jalan Magelang-Jogja. Sambil melamun nih ceritanya... (belum makan... laperrrr).
Sampai di Jombor.. jalanan lumayan ramai lancar tidak macet, ke arah selatan lalu lintas semakin padat. Mungkin karena jam pulang kerja, begitu banyak pengguna jalan di daerah jalan magelang depan TVRI Jogja. Hingga samsat kota Jogja, jamku masih menunjukkan pukul 17.25 WIB. Masih longgar lah waktuku. Setibanya di stasiun tugu 5 menit kemudian langsung kuparkirkan sepeda motorku.
“Nginep mbak?” (ada hotel buat motor ya... hehe). Delapan belas ribu rupiah untuk sampai hari senin pagi. Lumayan.. bisa untuk makan tiga kali.. harusnya (di angkringan maksudnya)
Menuju gerbang stasiun tugu sudah banyak para penumpang kereta api berjubel mengantri. Masih jam 17.50, mbak budi belum juga datang, baru berangkat malah dari rumah. Tak apalah, rumah dia dekat masalahnya.
Menit ke menit ku menunggu sambil mengamati orang disekitarku. Ketika ku berdiri di sisi kiri gerbang, ada seorang nenek-nenek yang mungkin umurnya sudah sekitar  70tahunan, berjualan kacang dan pisang rebus, peyek dan sebagainya. Makanan siap santap dengan menu sederhana. Wajah nenek itu begitu kesal sepertinya. Kenapa? Tanya dalam hatiku. Tiba-tiba dia mendorong “tebok”nya ke arahku. Aduuh.. sakiitt, dia juga mendorong “tenggok”nya ke arah orang yang duduk di kursi sebelah utara tempat dia duduk. Dengan wajah marah, tapi tidak bicara, hanya dengan “body language” mendorong tempat dagangannya, menyuruh orang bergeser. Apa karena ga dibeli dagangannya ya. Akhirnya ibu-ibu yang duduk di kursi itu membeli dagangan si nenek itu. Raut wajah si nenek ini agak menurun, sedikit lega. Akhirnya kuputuskan untuk bergeser ke arah kiri. Ku duduk sambil menunggu mbak budi. Ku berbincang dengan seorang tacik-tacik. Perempuan cina paruh baya. Santai sekali dia. Pakai celana jeans pendek selutut kaos oblong tas pundak dan tas jinjing.
“Mau kemana buk?” Tanyaku.
“Ini mau ke Solo, antri tiket Pramex sudah habis. Padahal saya sudah nyari ke calo lo, sudah habis juga.” (wow.. ternyata masih banyak percaloan di sini..).
“Akhirnya ya harus ngantri lagi ini, jam 8 baru ada.”
Panjang lebar kami berbincang. Ternyata dia seorang “Tour Guide” lebih spesifik penterjemah mandarin. Rajin juga ibu satu ini, semangatnya luar biasa, sudah paruh baya, pekerjaan seperti ini masih saja dilakukan, yang kadang-kadang berhari-hari dan berbulan-bulan tetap dia jalani. Mungkin sudah mendarah daging pekerjaanya jadi kemanapun pasti dia jalani. Itu pendapatku berdasarkan ceritanya.
Tak lama kemudian, mbak budi muncul dengan tergesa-gesa.
“Ayo, sudah mau terlambat ini, jam 18.15 he..” logat kulon progonya muncul. Aku pamit pada tacik-tacik tadi trus beranjak menuju antrian masuk menuju peron. Kuikuti mbak budi dibelakangnya dengan patuhku... (pisss!!)
“Kita ga “nyandak” nih sholat magrib di stasiun. Wudhlu aja ya, nanti sholat di kereta”
“Ok” aku bilang.
Tidak selang berapa lama, kira-kira 5 menit kemudian setelah kami masuk di gerbong kereta, suara kereta senja utama perlahan-lahan membawa kami dalam perjalanan menuju jakarta.
Sebelum masuk gerbong tadi kami sempat membeli nasi bungkus sebagai bekal makan kami diperjalanan (Maklum.. tukang makan semua ini..). kira-kira perjalanan sampai Kuto arjo kami makan sambil cerita-cerita.. habis juga.. ludes.. waaah.. nikmatnya nasi bungkus di kereta bisnis senja utama.. J. Kami naik kereta bisnis bukan karena banyak uang lo... karena kita “ngoyak” waktu. Karena besok pagi kita jam 7 sudah harus sudah sampai wisma, kalau naik travel atau bis, nggak bakalan keburu deh. Kalau masalah bisnisnya... waah ini nih, karena waktu itu 5hari lagi menjelang puasa, tiket sudah tidak ada yang bisa dipesan lagi. Apa boleh buat, tak mengapa, demi ilmu kan kukejar kau... bukan mengejar kereta lo ya... J
Dalam perjalanan, lama-lama dingin ac kereta menusuk.. brrrr, kalau aku sih sudah persiapan dengan jaket dan kaos kaki... lah sahabatku yang satu ini, buru-buru akhirnya ga bawa jaket, kaos kaki, apalagi selimut... akhirnya diputuskan... secangkir kopi nikmat.. hehe ditemani selimut yang lumayan lah bisa menghangatkan...
Tidur dulu ya.. klik!!!
Tak terasa jam di tangan menunjukkan angka setengah 3. Kita sudah hampir sampai di stasiun senen.

MANDI DI KAMAR MANDI UMUM
 Sampai di stasiun senen kira-kira jam 3, sepi...
Kita mau keluar dari stasiun, kepagian, takut juga. Mosok perempuan-perempuan cantik begini (cieeee...), jam segini keluar dari stasiun...? akhirnya kami menunggu di stasiun, sambil nge-charge bateray handphone kami yang dah lowbat.
Jam 4 pagi kami menuju musholla yang berada diujung barat. Yang sudah mengumandangkan ayat-ayat al-qur’an. Sejuk rasanya. Diantara derum lokomotif kereta api, gembrudug suara gerbong di atas rel yang memekakan telinga. Ternyata sudah banyak juga yang menunggu di musholla itu. Menunaikan sholat tahajud dan menunggu datangnya subuh. Kulakukan hal yang sama, sambil melepaskan kepenatan kaki yang tertekuk-tekuk di dalam kereta karena kedinginan. Selain itu karena kakiku panjang ga bisa selonjor dengan nyaman (yang penting ga panjang tangan ajah.. hehehe).
“rampung” sholat subuh kami mengikuti lorong-lorong di stasiun menuju jalan keluar, ke arah parkiran. Kemana nih kita? Diputuskan akhirnya kita mau mandi dan sarapan dulu.

Sungguh pengalaman ini tak kan terlupakan.
Kami mandi di kamar mandi umum. Menunggu antrian sambil terkantuk-kantuk. Silih berganti pengguna kamar mandi keluar masuk.
Lumayan lah, sedikit menyegarkan, meskipun di kamar mandi sempit, mungkin ukurannya satu kali satu meter. Mau masuk ruangan saja bergantian antara badan dengan menutup pintu.. luar biasa.. airnya pun agak keruh dan berwarna agak kuning. Asyik juga nih, berbenah diri merias diri dengan dengan sebuah lipstik ditangan dengan kaca yang super kecil dan pakai rexona lah... J biar ga BB.

MASAKAN PADANG, KUCING
Laparnya perut mulai memanggil. Takutnya nanti ga keburu dapat breakfast di wisma. Mata kami mencari-cari dimana ya kita mau makan. Ketemu masakan padang it’s ok, kami pikir. Kami langsung memesan  dua piring, dengan minum teh manis untuk mbak budi serta nescafe untukku, “tombo ngantuk!!”. Ditengah-tengah asyiknya makan, di depan kami ada seorang bapak berkumis tebal berperawakan gempal dan dengan raut muka yang keras makan menggunakan tangan, dan belepotan di mulut. 25% selera makan kami hilang. Baru saja kami ingin melanjutkan makan, tiba-tiba kucing disekitar kami mengendus-endus kaki kami. Aduuuuh... hilang sudah 50% selera makan kami. Dan mbak budi menyudahi makannya. Aku sih masih punya rasa mubadzir... kulanjutkan makanku..

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...