Minggu, 07 September 2014

Ice Breaking on Weekend



Hari Sabtu adalah hari terakhir pada setiap pekan. Di mana orang-orang yang bekerja pada isntansi atau kantor merupakan hari pendek. Terkadang ada juga yang sudah libur. Tinggal menikmati liburan akhir pekan. Memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu untuk melepaskan kelelahan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas yang tentunya sangat padat pada hari-hari sebelumnya. Namun bagi sebagian guru yang mengajar enam hari dalam sepekan, tidak ada hari yang berbeda. Karena setiap hari adalah hari baru. Harus dengan semangat baru. Agar anak-anak belajar dengan semangat sepanjang hari. Hanya ada satu hari waktu istirahat, yaitu minggu. Hari yang mungkin tidak bisa dipakai istirahat, karena waktu itu adalah waktu yang bisa digunakan untuk keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Hari sabtu hari ini. Saya tetap seperti biasanya, mengajar di kelas. Pagi hari, ketika saya menyiapkan diri untuk mengajar, seperti ada dopping tersendiri. Meskipun badan sedang mengalami gangguan (sakit) atau sedang banyak pekerjaan, tapi ketika masuk kelas, semangat itu benar-benar penuh. Semangat itu memenuhi hati saya sebagai seorang guru.
Hari sabtu kali ini pelajaran saya berlangsung selama sepuluh jam berturut-turut. Pembelajaran berupa pembelajaran teori. jika tidak disiasati dengan berbagai teknik, siswa pasti akan bosan. Pelajaran saya awali dengan pre test materi SPA. Setelah selesai berdoa dan apersepsi, anak-anak langsung diminta untuk menyiapkan selembar kertas dan alat tulis. Bermodal potongan kertas yang berisi soal pre test sebanyak enam soal dengan jawaban singkat, anak saya minta untuk mengerjakannya. Ketika mengerjakan pretest itu terlihat anak mana yang sudah menyiapkan materi sebelumnya maupun yang belum menyiapkan.  Dua puluh tujuh siswa, hanya empat orang saja yang sudah browsing sebelumnya, seperti yang saya minta pada hari sebelumnya. Sisanya mengandalkan ingatan dan pengetahuan umum yang mereka miliki. Rata-rata mereka mengatakan tidak bisa menjawab dengan alasan tidak tau istilahnya namun paham dengan jawaban yang seharusnya. Intinya tidak bisa menyampaikan lewat tulisan. Hal ini bisa terjadi karena semester sebelumnya mereka sudah melaksanakan Praktek Kerja Industri yang memiliki layanan SPA. Selain itu anak-anak pada akhir semester kemarin juga sudah melaksanakan kunjungan industri di SUSAN Resort & SPA di Bandungan Ambarawa. Sehingga pengetahuan yang mereka miliki sudah lumayan paham.

Pre test

Selesai melaksanakan pre test di kelas saya adakan game. Game ini berfungsi untuk membentuk kelompok. Kursi yang mereka gunakan dilipat dan mereka membentuk lingkaran. Game ini saya fungsikan untuk ICE BREAKING yang berfungsi untuk memecah kebekuan konsentrasi mereka. Diharapkan dengan game ICE BREAKING ini dapat meningkatkan konsentrasi dan menghilangkan ketegangan pada anak. Pada akhirnya harapan saya, anak-anak dapat mencapai hasil pengetahuan dan keterampilan pada kompetensi SPA. Ice Breaking juga pernah saya lakukan ketika saya menjadi MC dan saya tulis dengang judul Ice Breaking, go!.
Kegiatan game ini saya lakukan dengan membuat bola dari selembar kertas yang di dalamnya terdapat angka-angka sebagai pembentuk kelompok. Kelas akan dibagi dalam lima kelompok. Sehingga bola kertas tersebut diberi angka satu sampai lima pada masing-masing kertas. Setelah anak-anak membentuk lingkaran, pada hitungan ketiga anak-anak berebutan mengambil bola kertas, nomor yang sudah didapatkan disimpan terlebih dahulu tidak boleh dikatakan kepada teman-temannya. Pengambilan bola kertas dilakukan hingga enam kali. Pada putaran terakhir diminta untuk ke depan dan menjadi ketua kelompoknya. Ketika berebut mengambil kertas tersebut, anak-anak dapat tersenyum lepas. Ada kebahagiaan dalam hati saya, anak-anak tidak terbebani dengan pelajaran yang mereka laksanakan hari ini. Anak ada yang kaget karena anak tersebut menjadi ketua kelompok. Karena yang menjadi ketua kelompok bukan siswa-siswa yang pandai berbicara dan mengelola teman. Tapi di sinilah proses itu berjalan. Anak-anak yang tidak terbiasa mengelola kelompok akhirnya belajar untuk mengelola dan memimpin teman-temannya. Kemudian yang lain yang sudah memiliki angka mengikuti di belakang ketua kelompok untuk menjadi anggotanya. Ada beberapa komentar dari anak-anak. Ada yang mengatakan bahwa satu kelompok mereka ‘kenthir’ (gila-gilaan), ada yang mengatakan satu kelompok pendiam semua. Ada yang minta tukar guling dan ada pula yang minta tukar tambah. Itulah komentar mereka. Untuk mengajarkan mereka menerima yang sudah didapatkan dan tidak memilih-memilih teman serta tidak membuat gap diantara mereka, hasil pembentukan kelompok tetap seperti apa adanya. Mereka bisa menerima itu. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok. 

Bola Kertas

Diskusi kelompok ini saya berikan materi tentang SPA yang sudah di pre testkan sebelumnya. Mereka saya berikan kebebasan untuk mendiskusikan materi yang sudah mereka terima. Boleh mendiskusikan semua sub kompetensi yang ada pada materi atau satu sub kompetensi saja. Hal yang terpenting menjadi catatan mereka adalah ketika menyampaikan hasil diskusi nanti ada materi pokoknya. Karena setelah diskusi selesai setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Ketika diskusi itulah semua kelompok berpartisipasi menjadi penyampai materi, ada yang bertanya dan ada yang membantu menjawab jika pemateri kurang bisa menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Diskusi

Presentasi Kelompok

Setelah diskusi selesai, anak-anak saya minta untuk belajar sebentar. Mengulas kembali yang sudah didiskusikan tadi. Anak-anak mulai terbiasa untuk mengingat dan menghafal serta memahami materi melalui diskusi dengan teman maupun dengan belajar sendiri.
Jam berikutnya materi saya lanjutkan dengan memberikan ulasan atas materi dan hasil diskusi serta presentasi yang sudah dilakukan oleh siswa. Hal-hal yang kurang tepat dalam penyampaian, pengucapan dan dalam memberikan ulasan saya betulkan di sini. Siswa mulai aktif mengikuti ulasan-ulasan saya tanpa harus ditanya atau diminta untuk menjawab.
Tahap selanjutnya, pelajaran diakhiri dengan post test. Postest ini berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa dalam menangkap pembelajaran selama pelajaran berlangsung. Hasil yang diperoleh dengan membandingkan nilai pre test dan pos test sangat memuaskan. Nilai pre test antara 1-6 pada pos test antara  7,5-100. Hanya 4 anak yang nilainya kurang dari 7. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu belajar dengan baik dan memahami materi dengan baik pula.
Pembelajaran yang menyenangkan dan variatif saya rasa dapat merangsang minat belajar siswa lebih baik. Pikiran siswa tidak tertekan dan tidak terbebani dengan materi yang sangat banyak. Pencapaian target yang diinginkan bisa diperoleh sesuai dengan yang direncanakan. [Umi Azzurasantika]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...