Hari Sabtu
adalah hari terakhir pada setiap pekan. Di mana orang-orang yang bekerja pada
isntansi atau kantor merupakan hari pendek. Terkadang ada juga yang sudah
libur. Tinggal menikmati liburan akhir pekan. Memanfaatkan hari Sabtu dan
Minggu untuk melepaskan kelelahan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas yang
tentunya sangat padat pada hari-hari sebelumnya. Namun bagi sebagian guru yang
mengajar enam hari dalam sepekan, tidak ada hari yang berbeda. Karena setiap
hari adalah hari baru. Harus dengan semangat baru. Agar anak-anak belajar
dengan semangat sepanjang hari. Hanya ada satu hari waktu istirahat, yaitu
minggu. Hari yang mungkin tidak bisa dipakai istirahat, karena waktu itu adalah
waktu yang bisa digunakan untuk keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Hari sabtu
hari ini. Saya tetap seperti biasanya, mengajar di kelas. Pagi hari, ketika
saya menyiapkan diri untuk mengajar, seperti ada dopping tersendiri. Meskipun badan sedang mengalami gangguan
(sakit) atau sedang banyak pekerjaan, tapi ketika masuk kelas, semangat itu
benar-benar penuh. Semangat itu memenuhi hati saya sebagai seorang guru.
Hari sabtu
kali ini pelajaran saya berlangsung selama sepuluh jam berturut-turut. Pembelajaran berupa pembelajaran teori. jika tidak disiasati dengan berbagai teknik, siswa pasti akan bosan. Pelajaran saya awali dengan pre test
materi SPA. Setelah selesai berdoa dan apersepsi, anak-anak langsung diminta
untuk menyiapkan selembar kertas dan alat tulis. Bermodal potongan kertas yang
berisi soal pre test sebanyak enam
soal dengan jawaban singkat, anak saya minta untuk mengerjakannya. Ketika
mengerjakan pretest itu terlihat anak mana yang sudah menyiapkan materi
sebelumnya maupun yang belum menyiapkan.
Dua puluh tujuh siswa, hanya empat orang saja yang sudah browsing sebelumnya, seperti yang saya
minta pada hari sebelumnya. Sisanya mengandalkan ingatan dan pengetahuan umum
yang mereka miliki. Rata-rata mereka mengatakan tidak bisa menjawab dengan
alasan tidak tau istilahnya namun paham dengan jawaban yang seharusnya. Intinya
tidak bisa menyampaikan lewat tulisan. Hal ini bisa terjadi karena semester
sebelumnya mereka sudah melaksanakan Praktek Kerja Industri yang memiliki
layanan SPA. Selain itu anak-anak pada akhir semester kemarin juga sudah
melaksanakan kunjungan industri di SUSAN Resort & SPA di Bandungan
Ambarawa. Sehingga pengetahuan yang mereka miliki sudah lumayan paham.
![]() |
| Pre test |
Selesai melaksanakan
pre test di kelas saya adakan game. Game ini berfungsi untuk membentuk kelompok. Kursi yang mereka
gunakan dilipat dan mereka membentuk lingkaran. Game ini saya fungsikan untuk ICE
BREAKING yang berfungsi untuk memecah kebekuan konsentrasi mereka. Diharapkan
dengan game ICE BREAKING ini dapat
meningkatkan konsentrasi dan menghilangkan ketegangan pada anak. Pada akhirnya
harapan saya, anak-anak dapat mencapai hasil pengetahuan dan keterampilan pada
kompetensi SPA. Ice Breaking juga pernah saya lakukan ketika saya menjadi MC
dan saya tulis dengang judul Ice Breaking, go!.
Kegiatan
game ini saya lakukan dengan membuat bola dari selembar kertas yang di dalamnya
terdapat angka-angka sebagai pembentuk kelompok. Kelas akan dibagi dalam lima
kelompok. Sehingga bola kertas tersebut diberi angka satu sampai lima pada
masing-masing kertas. Setelah anak-anak membentuk lingkaran, pada hitungan
ketiga anak-anak berebutan mengambil bola kertas, nomor yang sudah didapatkan
disimpan terlebih dahulu tidak boleh dikatakan kepada teman-temannya.
Pengambilan bola kertas dilakukan hingga enam kali. Pada putaran terakhir
diminta untuk ke depan dan menjadi ketua kelompoknya. Ketika berebut mengambil
kertas tersebut, anak-anak dapat tersenyum lepas. Ada kebahagiaan dalam hati
saya, anak-anak tidak terbebani dengan pelajaran yang mereka laksanakan hari
ini. Anak ada yang kaget karena anak tersebut menjadi ketua kelompok. Karena
yang menjadi ketua kelompok bukan siswa-siswa yang pandai berbicara dan
mengelola teman. Tapi di sinilah proses itu berjalan. Anak-anak yang tidak
terbiasa mengelola kelompok akhirnya belajar untuk mengelola dan memimpin
teman-temannya. Kemudian yang lain yang sudah memiliki angka mengikuti di
belakang ketua kelompok untuk menjadi anggotanya. Ada beberapa komentar dari
anak-anak. Ada yang mengatakan bahwa satu kelompok mereka ‘kenthir’ (gila-gilaan), ada yang mengatakan satu kelompok pendiam
semua. Ada yang minta tukar guling dan ada pula yang minta tukar tambah. Itulah
komentar mereka. Untuk mengajarkan mereka menerima yang sudah didapatkan dan
tidak memilih-memilih teman serta tidak membuat gap diantara mereka, hasil pembentukan kelompok tetap seperti apa
adanya. Mereka bisa menerima itu. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok.
![]() |
| Bola Kertas |
Diskusi
kelompok ini saya berikan materi tentang SPA yang sudah di pre testkan sebelumnya. Mereka saya berikan kebebasan untuk
mendiskusikan materi yang sudah mereka terima. Boleh mendiskusikan semua sub
kompetensi yang ada pada materi atau satu sub kompetensi saja. Hal yang
terpenting menjadi catatan mereka adalah ketika menyampaikan hasil diskusi
nanti ada materi pokoknya. Karena setelah diskusi selesai setiap kelompok
diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Ketika diskusi
itulah semua kelompok berpartisipasi menjadi penyampai materi, ada yang
bertanya dan ada yang membantu menjawab jika pemateri kurang bisa menjelaskan
jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
![]() |
| Diskusi |
![]() |
| Presentasi Kelompok |
Setelah
diskusi selesai, anak-anak saya minta untuk belajar sebentar. Mengulas kembali
yang sudah didiskusikan tadi. Anak-anak mulai terbiasa untuk mengingat dan
menghafal serta memahami materi melalui diskusi dengan teman maupun dengan
belajar sendiri.
Jam
berikutnya materi saya lanjutkan dengan memberikan ulasan atas materi dan hasil
diskusi serta presentasi yang sudah dilakukan oleh siswa. Hal-hal yang kurang
tepat dalam penyampaian, pengucapan dan dalam memberikan ulasan saya betulkan
di sini. Siswa mulai aktif mengikuti ulasan-ulasan saya tanpa harus ditanya
atau diminta untuk menjawab.
Tahap
selanjutnya, pelajaran diakhiri dengan post test. Postest ini berfungsi untuk
mengukur kemampuan siswa dalam menangkap pembelajaran selama pelajaran
berlangsung. Hasil yang diperoleh dengan membandingkan nilai pre test dan pos
test sangat memuaskan. Nilai pre test antara 1-6 pada pos test antara 7,5-100. Hanya 4 anak yang nilainya kurang
dari 7. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu belajar dengan baik dan memahami
materi dengan baik pula.
Pembelajaran
yang menyenangkan dan variatif saya rasa dapat merangsang minat belajar siswa
lebih baik. Pikiran siswa tidak tertekan dan tidak terbebani dengan materi yang
sangat banyak. Pencapaian target yang diinginkan bisa diperoleh sesuai dengan
yang direncanakan. [Umi Azzurasantika]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar