Sebagai wong ndesa, Saya tetap bermimpi menjadi wong
ndesa. Punya rumah di pinggir sawah dengan suasana hening. Adem ayem dan
tenang. Sesekali desau angin berhembus, cuitan suara burung, kokok
ayam, dan celoteh katak saat musim hujan. Ah... benar-benar kehidupan
yang damai.
Memiliki pekarangan yang bisa ditanami apa saja. Saat
mau masak tinggal petik sayuran di pagar rumah. Tak perlu belanja,
cukup gula dan garam saja sebagai pelengkapnya yang dibeli. Pasti
sebagai wong ndesa tetap berdaya. Berswasembada pangan sendiri.
Mimpi dululah saat ini. Meski sekejap layaknya nyala api. Hari ini saya
masak dengan membuat Gadon. Daging sapi giling (hasil dikasih), telur,
santan kental, kemangi, tomat, sedikit garam sesuai selera. Tambahkan
cabai rawit utuh jika suka pedas. Note: kalau di desa semuanya hasil
bumi.
Semua bahan dibungkus daun pisang (beli juga), kemudian
dikukus. Sudah matang. Trarara... rasanya lumayan lah untuk lidah saya.
Anti kolesterol karena tidak menggunakan minyak.
Satu hal yang
perlu dicatat dalam diary saya adalah, bukan penampilan yang amburadul
dan rasa sederhana tanpa micin. Tapi karena saya berhasil membungkusnya
dengan rapi. Hihihi. Tiada biting dari lidi, menggunakan staplerpun
jadi. smile emoticon
Didikan simbok berhasil satu nih...
Selamat Rabu penuh semangat, kawan!
Salam santun saya,
Magelang, 27042016
Umi Azzura

Tidak ada komentar:
Posting Komentar