Ilmu padi menjadi salah satu cermin bagi sebagian orang (yang
memahami). Semakin merunduk semakin berisi. Namun jika diperhatikan, tak
semua padi seperti itu. Ada satu atau dua, bahkan segerumbulan yang
bisa jadi terlihat subur, namun tak satupun yang berisi.
Padi-padi yang seperti ini tumbuh hijau dan subur. Berdaun lebat,
biasanya batangnya besar. Saat mulai dari tumbuh, mengembang, dan
berbuah, tetap tegak berdiri. Buahnya banyak tapi kosong tanpa isi.
Sampai tua sekalipun. Dari tempat ia tumbuh akan terlihat paling tinggi. Lebih menonjol di antara yang lain. Bahasa jawanya 'nyengar'.
Ibarat kata, manusiapun bisa digambarkan seperti ini. Saat sekumpulan
lain semakin menunduk ke bawah,
dengan berat isinya. Menjadikan
jiwa-jiwanya 'menep'. Ingin menuainya suatu saat nanti. Segerumbulan
lain menepuk dada berdiri tegak. Menganggap hanya dia yang merasa lebih,
paling tahu, paling bisa, paham segalanya. Padahal sebenarnya, tak
lebih dari padi subur kosong melompong tak berisi sama sekali.
Hal ini umum terjadi. Baik pada tetumbuhan padi sebenarnya ataupun dalam
gambaran kehidupan manusia. Semakin tenang jiwa, akan semakin tenang
hidupnya. Positif thinking, lembah manah, penuh cinta.
Di sisi
yang lain, semakin berkobar jiwa, semakin gelisah hati dan hidupnya.
Meletup-letup bicaranya. Orang lain salah, merasa paling benar sendiri
di antara mereka. Iri dan dengki tumbuh subur dalam hati.
Orang
lainlah yang akan menilainya. Sebatas apa jiwa-jiwa itu hidup dalam
ketenangan. Atau justru meradang dalam setiap kesempatan. Hanya mata
hati yang bersih yang mampu memandang dengan jernih. Siapa berjiwa apa.
Semakin dalam kepala ini tertunduk, semakin terlihat betapa kecilnya
seonggok daging yang bernama manusia ini. Semakin terpekur, 'metani'
diri sendiri masih banyak salah juga kesombongan hati.
Bahwa
hidup ini sebentar saja. Apa hendak diujub pada diri sendiri, pada orang
lain. Apalagi bumi yang bukan milik sendiri. Hanya tempat singgah untuk
menuju hidup abadi di kemudian hari. Apalagi kepada sang pemilik jiwa
ini.
Ampuni kami..., Ya Karomi...!
Simpuh dini hari, 11052016
Umi Azzzurasantika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar