MENJADI GURU BUKAN IMPIAN
Tak
terlintas sedikitpun dalam benak saya untuk menjadi guru saat dibangku SD, SMP
maupun SMA. Berangkat dari keluarga petani membuat saya hanya berpikir
bagaimana memenuhi kebutuhan dan bisa bertahan hidup.
Jika
sekarang banyak siswa harus dipaksa untuk sekolah, pada waktu itu saya memaksa
orang tua untuk menyekolahkan saya. Memaksa untuk menyekolahkan tingkat SMA.
Ketika dulu orang tua dengan susah payah memenuhi paksaan anaknya. Kerja
banting tulang ibarat orang jawa “sikil go sirah, sirah go sikil” (baca: kepala
untuk kaki, kaki untuk kepala). Saat ini kulihat simbok dan bapakku tersenyum
melihat anaknya menjadi seorang pengabdi pendidikan. Mendidik anak bangsa agar
menjadi anak yang cerdas berkarakter dan berbudi pekerti luhur.
Aku
tersesat di jalan yang benar.
Kalimat
itu menginspirasi untuk terus bertanya dan belajar. Semakin bertanya semakin
banyak informasi dan seperti semakin menyesatkan. Dan semakin membuat saya
lebih suka tersesat daripada menemukan jalan keluar dari ketersesatan yang
benar.
TWC2
adalah salah satu jalan keteresatan saya. Disini banyak sekali ilmu yang
diperoleh, bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Pengalaman-pengalaman
yang begitu hebat dari orang-orang yang hebat pula. Mulai dari seorang enginering
perempuan bernama Meis Musida yang suka travelling dan pecinta kamera yang
ternyata adalah alumni IKIP Bandung yang nota bene adalah sekolahnya calon
guru. Pak Dahli Ahmad blogger yang mulai dari copy paste naskah orang lain. Ibu
Siti si pemburu website media cetak. Pak Sukani pemenang guraru award. Pak Estu
sang pemenang microsoft. Hingga penulis buku Guru Gokil Murid Unyu pak J.
Sumardiata yang sungguh luar biasa. Memiliki jiwa memberi sudah tidak
memikirkan “kridho lumahing astho” (mengharap pemberian orang). Seorang guru
yang memiliki keunikan sendiri, mengajar dan mendidik dengan caranya sendiri,
menjadikan siswa yang tangguh dan berkarakter.
Ilmu
yang saya ambil dari orang-orang hebat ini adalah, bukan hasil saja yang
diharapkan tapi proseslah yang menentukan hasil akhir. Tidak ada ilmu instant
yang ada hanya mie instant.
TWC2
menjadikan saya sebagai guru yang semula bukan impian menjadi sebuah mimpi
indah yang menjadi kenyataan. Karena menjadi guru sangat menyenangkan dan
adalah sebuah kebanggaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar