Menjadi
MC (=Master of Ceremony) tidaklah
mudah bagi saya. Untuk bisa memandu acara, supaya menjadi cair adalah sesuatu
yang sangat sulit saya lakukan. Namun, mungkin dengan bekal kecerewetan
(=ngaku), dan terbiasa bicara di depan kelas, seperitnya. Saya berusaha ceplas
ceplos agar suasana menjadi friendly, enjoy, dan berusaha menjaga suasana
selalu segar.
Seperti tadi
siang, waktu sudah menunjukkan pukul 12.15 siang. Biasanya waktu-waktu ini
adalah waktu makan siang, kalau tidak mata sedang ngantuk-ngantuknya pingin
tidur siang. Di ruang Tata Kecantikan Kulit, anak-anak kelas x, xi, xii
kecantikan sudah siap-siap mendengarkan demo penataan rambut dan make up bridal
internasional dari Martha Tilaar. Pada acara ini saya kebagian sebagai pembawa
acara. Kondisi saya tadi pun sebenarnya kurang sip, karena baru saja melakukan
perjalanan yang lumayan jauh. Tapi demi tugas saya harus tetap melaksanakan.
Assalamu’alaikum....
Selamat pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,
saya awali acara.
Anak-anak
menjawab,
pagiiiiiiiiiiiiii, heeeeeeeeeeeeeee, siang
buuuuukkk,
kata mereka.
Saya sengaja
memberikan salam selamat pagi agar mereka lebih bersemangat. Dan saya ulang
salam saya.
Semangat pagiiiiiiii...
Pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,
ternyata
mereka menjawab lebih keras dan lebih bersemangat. Sambil mereka senyum
maniiiiiiissss sekali. Membuat lega perasaan saya. Semakin membuat saya bersemangat
untuk membawakan acara.
============
Pembuka dengan ice breaking
Kalimat
pembuka adalah hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam membawakan
sebuah acara dari awal, tengah hingga akhir. Sama seperti guru, ketika dalam
mengajar diawali dengan pembukaan tidak menarik, maka sepanjang mengajar pasti
akan terbawa suasana menjadi tidak menarik. Namun jika pembuka sudah di awali
dengan memecah suasana (=ice breaking),
dimungkinkan suasana akan lebih cair, sepanjang waktu mengajar juga anak-anak
akan lebih fresh pikirannya, bisa menerima ilmu dengan baik.
Ice breaking bisa
dilakukan di awal pembelajaran maupun di akhir pembelajaran. Selama ini yang menjadi
pengertian guru, bahwa membuka pembelajaran adalah dengan memberikan salam,
berdoa, presensi. Sedangkan penutup dalam akhir pelajaran kalimat yang terucap
adalah karena bel sudah berbunyi, atau waktu sudah habis, pemberian tugas
dirumah berupa PR, piket, berdoa. Padahal jika mau, ice breaking bisa dilakukan dengan cara kreatif sehingga bisa membuka
pola pikir siswa agar bisa menerima pelajaran dengan baik. Misalnya kita bisa
saja dengan memberikan tebak-tebakkan yang
lucu, game yang mengingatkan pelajaran sebelumnya, dan sebagainya. Dengan
seperti itu anak-anak tidak akan merasa tegang ketika masuk pelajaran. Apalagi kalau
gurunya sudah tidak bisa senyum J hehehe.
Sedangkan untuk ice breaking dalam
menutup pelajaran bisa saja dengan kuis, berupa pertanyaan ringan, yang bisa
difungsikan untuk mengingat materi pelajaran yang telah dipelajari selama
pembelajaran tadi.
Jika kita
mau berinovasi dalam pembelajaran, anak didik kita pasti senang dengan
pembelajaran kita. Mereka pasti akan selalu menanti kita untuk selalu datang di
kelas mereka.
Selamat berkarya para pendidik generasi
muda!
***
Jumat, 21 Pebruari 2014
Umi Azzurasantika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar