Kehidupan
yang dipenuhi dengan rutinitas biasanya akan sangat membosankan jika tidak
diselingi dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Rutinitas sebagai sebuah
kewajiban yang merupakan pekerjaan harus dilakukan dengan senang hati dan tanpa
beban. Pun rutinitas sosial kemasyarakatan tidak boleh ditinggalkan karena kita
hidup dengan orang lain di dunia ini. Perjalanan saya hari ini adalah merupakan
rangkaian dari berbagai aktivitas individu diri saya sendiri dasn sebagai
makhluk sosial.
***
Menyusuri jalan Temanggung, parakan, hingga ‘temple rata’ eh Candi Roto dink... (hihihi), salah tiga daerah yang ada di wilayah kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kami serombongan hendak menuju Ngadirejo, Kendal. Daerah perbatasan kabupaten temanggung dengan kabupaten Kendal, tapi daerah agak ‘masuk’.
Bermodal
selembar kertas bertuliskan alamat, perjalanan seru hari ini kami mulai.
Dari
arah temple rata ini, kami belok ke arah kiri. Menyusuri jalan yang tidak
terlalu lebar menuju perkampungan yang lumayan ramai. Kurang lebih perjalanan
lima belas menit, kebingungan mulai menghinggapi kami. Bermodal GPS (Gunakan Penduduk Setempat #hahahaha..... ) kami bertanya daerah yang menjadi tujuan kami. ‘ndilalah’ signal sangat susah, jadi
teman saya tidak bisa kami hubungi melalui ponsel.
Jalan
yang kami lalui mulai menurun dan sempit serta berliku tajam (kaya’ lagunya ADA
Band saja yach.....? J ). Daerah tersebut suasananya
sangat lengang, tidak banyak orang berlalu lalang, hanya satu dua saja orang
berpapasan dengan kami. Orang-orang tersebut adalah para petani yang kembali
dari ladang mereka, karena waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Ada juga
sepeda motor yang melaju dengan kencang. Seperti tidak takut dengan keadaan
jalan yang berliku. Mungkin karena mereka sudah terbiasa melewatinya.
Setiap
melewati persimpangan jalan, baik itu pertigaan atau perempatan kami selalu
bertanya. Untungnya kami tidak menemukan perlimaan, perenaman... apalagi
persetujuan ....
Kecurigaan
semakin memenuhi rongga pikiran kami... cieeee... Jalan semakin kecil, suasana
semakin sepi, lengang. Perkampungan penduduk sesekali kami temui. Terkadang ada
sekumpulan rumah penduduk, setelah itu tidak ada lagi, habis. Sudah hampir satu
jam kami melewati tempat yang hampir sama suasananya. Mencekam.... itu saja
penilaian kami. Jika kami balik kanan sudah kepalang tanggung, jauh sudah
perjalanan kami tempuh. Jika kami lanjutkan, kamipun tidak tau seberapa jauh
lagi tujuan kami. Tapi kami mantap saja melakukan perjalanan. Berdasarkan ‘GPS’
tujuan kami sudah dekat. Yachhhh namanya juga orang yang terbiasa tinggal di
daerah pegunungan, lima kilometer dikatakan “Cuma situ”... ternyata..... hemmmm
jauhnnyaaaaaa..... Namun perjalanan itu kami nikmati dengan melihat pemandangan
yang sungguh menakjubkan. Subhanallah.... The hidden
paradise of Tretep.
Daerah
yang kami lewati pemandangannya sangat indah. Perkebunan sayur-sayuran seperti
loncang, kol, cabai (bukan cabe-cabean lo ya...apalagi terong-terongan.. hihihi),
kopi dan teh kami lihat sepanjang perjalan itu. Berdasarkan informasi, lahan
yang berada pada daerah ‘ereng-erengan’
itu diolah dengan tenaga manusia saja. Ya iyalah... mana mungkin menggunakan
traktor atau alat berat lainnya. Hal itu tidak mungkin dilakukan, karena medan
yang miring.
![]() |
| Lereng Tretep dilihat dari ketinggian |
Penduduk
dengan tekun mengolah lahan, menanam, memelihara tanaman hingga memanennya.
Hasil dari panen mereka akan diambil oleh para tengkulak nantinya. Dimana sudah
menjadi rahasia umum, harga dari panen para petani itu sangat murah. Tidak
sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan. Namun sampai kota,
hasil dari ladang mereka bisa sepuluh kali lipat harganya. Sungguh sangat
memprihatinkan. Seandainya saja hasil kebun mereka bisa dihargai lebih,
sejahteralah hidup mereka.
![]() |
| Lahan yang telah diolah secara manual tanpa bantuan alat berat |
![]() |
| Lahan siap tanam |
Para
petani ini, meskipun harga jual dari hasil kebun mereka bisa dibilang murah.
Namun hasil yang mereka miliki (ketika panen) cukup banyak juga. Karena ladang
mereka memang sangat luas, jadi hasilnyapun banyak. Tapi entah bagaimana nasib
mereka ketika masa paceklik atau tanaman mereka terserang hama, wabah dan
sebagainya.
Kehidupan
mereka yang jauh dari hingar bingar kota, membuat mereka hidup sederhana.
Orang-orang di daerah pegunungan, ketika panen, akan berbelanja kebutuhan
selama setahun dalam satu kali waktu. Beli garam untuk setahun sekalian. Beli
gula untuk setahun sekalian. Dan sebagainya dan sebagainya... silakan
dibuktikan kesana kalau tidak percaya (percaya nggak? Percaya nggak? #maksa).
Hal ini sangat mungkin terjadi. Karena mereka jauh dari kota, transportsi
sangat susah, sehingga mereka berpikir dengan belanja sekali saja, sudah bisa
cukup untuk keperluan satu tahun.
Cerita
yang lebih sangat mengagumkan adalah: ketika mereka panen, uang hasil panen
mereka langsung mereka belikan barang-barang berharga. Seperti alat-alat
elektronik, meskipun tidak ada listrik (aneh kan...). Almari es mereka bisa
dipakai untuk menyimpan pakaian...! ckckckck...
Selain itu mereka juga membelikan hasil panen mereka berupa berlian atau emas.
Kalau kita ingin membeli emas tanyanya begini,
“harga
emasnya pergram berapa? , lihat dulu boleh ya?”
Tapi
bagi mereka, ketika panen, pergi ke toko emas cara bertanyanya pasti lain,
“emasnya
se ons berapa? Berlian yang paling mahal yang mana?”
Naaaahhhh...
beda banget kan?
Meskipun
semua barang yang mereka miliki itu akan mereka jual kembali untuk modal tanam
pada masa tanam berikutnya. Lain halnya dengan orang-orang kaya itu. Emas dan
berlian terkadang hanya untuk dipamerkan saja, dan mungkin bisa saja menjadi
‘riya’. Sudahlah.. itu urusan pribadi masing-masing... silakan saja. (karena
saya tidak punya... hehehehe)
Kondisi
di sana, rumah-rumah penduduk beratap seng. Karena cuaca dingin dan sering
hujan, seng itu sebagai penyimpan hangat ketika ada panas matahari, sehingga
pada saat malam hari rumah menjadi hangat, tidak terlalu dingin. Pada beberapa
daerah perkampungan, rumah penduduk sangat padat. Hal ini terjadi karena mereka
‘beranak pinak’ di situ saja katanya. Orang tua yang memiliki anak, anak
tersebut menikah dengan tetangga, memiliki rumah sendiri, punya anak,
menikah... dan seterusnya. Tidak pergi dari daerah itu. Mereka memilih untuk
berkebun, menggarap tanah mereka. ~kehidupan
yang damai~. Jika ada yang bekerja di luar daerah situ, paling hanya satu
atau dua saja. Terbukti dari teman saya yang akan saya kunjungi ini. Dia adalah
salah satu orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi guru,
mempunyai suami di kota. Mengabdikan ilmunya untuk mendidik, tapi tidak lupa
dengan kampung halaman. Terbukti dengan seminggu sekali dia pulang ke rumahnya
ini.
![]() |
| Perkampungan di lereng Tretep yang sangat padat |
![]() |
| Salah satu sudut Tretep |
Jurang Menganga
Tangan
kami semakin berkeringat. Dingin. Mencekam. Kaki kami terasa kaku, tak mampu
bergerak... jalan sempit yang kami lalui melewati jurang pada kanan kirinya.
Ketika ada satu truk berpapasan dengan kami... disitulah jantung ini serasa mau
copot... jalan yang sempit, secara logika teman kami yang memegang setir, tidak
mungkin kami bisa bersimpangan. Di sebelah kanan jurang, dan badan jalan
longsor. Sedangkan sebelah kiri berupa jurang yang tak kalah mengerikan. Namun
sopir truk yang sudah terbiasa melewati daerah itu, ternyata bisa membantu kami
untuk bisa melewati jalan tersebut. Truk itu mundur kurang lebih sepuluh meter
ke arah jalan yang ada bagian tanah yang agak tinggi. Mepet ke kanan truk. Dan mobil
kami dipersilakan lewat arah kanan mobil kami yang berlawanan dengan truk
mereka. Istilah orang rasanya ‘senam
jantung’. Sebelah kanan kami jurang. Dengan kecepatan, mungkin, sepuluh
kilometer perjam... kami melewati masa kritis itu... dan... lega... plongggg...
akhirnya kami bisa melewati jalan itu.
Sampai
pada akhirnya.. kita sampai di lereng tertinggi daerah tersebut... Ditambah
cuaca yang mendung, disertai hujan rintik-rintik yang berlomba-lomba turun
menjejakkan kakinya kakinya di bumi...(bilang aja gerimis... ribet amat...
hehehe).
Untunglah
ada seorang laki-laki yang baik hati yang menjadi penunjuk jalan kami. Sebentar
saja dia memberikan petunjuk arah itu. Selanjutnya ‘terserah anda..!’. Tapi tetaplah... kami mengucapkan terima kasih
kepadanya. Akhirnya kita tidak bingung dan tersesat lagi.
Akhirnya
kami pun sampai di tempat tujuan. Eh... belum sempat cerita ya.. tujuan kami ke
rumah teman kami ini adalah karena ibu dari teman kami ini meninggal. Kami
berombongan bersilaturahmi kerumahnya untuk takziyah, ikut berbela sungkawa
atas meninggalnya ibu dan menguatkan dirinya agar sabar dalam menerima cobaan
tersebut.
Sssttt... di
sana.. hampir saya berhenti bernafas... Kenapa? Tamu-tamu laki-laki disediakan
tembakau, cengkih, kertas sigaret.. ‘TINGWE’ alias linting dewe. Rokok yang
diramu sendiri. Seperti kereta api yang lewat dari Ambarawa saja... asapnya
maaakkkk... ruarrrr biasa... membuat nafas saya sesak dan lidah saya kecut
hampir pahit...
***
Karena takut dengan jalan yang kami lalui tadi, akhirnya kami memilih jalan alternatif lain. Lewat kota Sukorejo. Selain jalan yang sulit, kami juga takut jalan yang kami lalui tadi akan turun kabut, sehingga jarak pandang kami terlalu dekat dan tidak bisa melihat jalan. Hal ini sangat membahayakan, dan kami menghindarinya.
Keluar
dari kampung teman kami. Kami melewati jalan yang agak besar. Namun jalannya
sangat rusak parah. Badan kami sampai tergoyang-goyang ke kanan ke kiri, sampai
kepala menyundul langit-langit mobil. Tapi ‘sing
penting joget-sing penting joget’ hahahha... asyik ajalah, perjalanan
dinikmati. Mau bagaimana lagi.
Gumun setaun jembleng serendeng.
Pepatah jawa ini saya pakai. Karena apa? Kurang lebih tiga sampai lima
kilometer di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar pohon cengkih.
Perkebunan cengkih tepatnya. Dan.... yang membuat kaget lagi.. ternyata
berpuluh-puluh hektar dan mungkin beratus hektar itu ‘konon’ kebun milik si
Tom-Tom anaknya mbah kakung yang suka berada di belakang bak truk dan selalu bilang
“ENAK JAMANKU TO LE...? “ gitu katanya. Meskipun sebagian lagi adalah kebun
miliki perhutani. Hasil dari perkebunan cengkih itulah yang memasok perusahaan
yang memiliki ‘GUDANG’ yang isinya berupa ‘GARAM’...
***
Pengalaman yang tak terlupakan... dan sarat dengan pengetahuan hidup. Meskipun sampai detik ini, badan, kepala dan perut rasanya masih bergoyang kanan kiri dan muter, keatas dan ke bawah.
![]() |
| Gunung Sindoro dan Sumbing dari Muntung |
Umi Azzurasantika







wahhhh....kok ra ajak-ajak....
BalasHapusngerti ngunu aku ra melu :D
wah... ngerti ngono ra tak jak
Hapushawong senengane rewel owk..... :D