Kamis, 10 April 2014

Cerita Indah di Tretep


Kehidupan yang dipenuhi dengan rutinitas biasanya akan sangat membosankan jika tidak diselingi dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Rutinitas sebagai sebuah kewajiban yang merupakan pekerjaan harus dilakukan dengan senang hati dan tanpa beban. Pun rutinitas sosial kemasyarakatan tidak boleh ditinggalkan karena kita hidup dengan orang lain di dunia ini. Perjalanan saya hari ini adalah merupakan rangkaian dari berbagai aktivitas individu diri saya sendiri dasn sebagai makhluk sosial.
***

Menyusuri jalan Temanggung, parakan, hingga ‘temple rata’ eh Candi Roto dink... (hihihi), salah tiga daerah yang ada di wilayah kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kami serombongan hendak menuju Ngadirejo, Kendal. Daerah perbatasan kabupaten temanggung dengan kabupaten Kendal, tapi daerah agak ‘masuk’
Bermodal selembar kertas bertuliskan alamat, perjalanan seru hari ini kami mulai.
Dari arah temple rata ini, kami belok ke arah kiri. Menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar menuju perkampungan yang lumayan ramai. Kurang lebih perjalanan lima belas menit, kebingungan mulai menghinggapi kami. Bermodal GPS (Gunakan Penduduk Setempat #hahahaha..... ) kami bertanya daerah yang menjadi tujuan kami. ‘ndilalah’ signal sangat susah, jadi teman saya tidak bisa kami hubungi melalui ponsel.
Jalan yang kami lalui mulai menurun dan sempit serta berliku tajam (kaya’ lagunya ADA Band saja yach.....?  J ). Daerah tersebut suasananya sangat lengang, tidak banyak orang berlalu lalang, hanya satu dua saja orang berpapasan dengan kami. Orang-orang tersebut adalah para petani yang kembali dari ladang mereka, karena waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Ada juga sepeda motor yang melaju dengan kencang. Seperti tidak takut dengan keadaan jalan yang berliku. Mungkin karena mereka sudah terbiasa melewatinya.
Setiap melewati persimpangan jalan, baik itu pertigaan atau perempatan kami selalu bertanya. Untungnya kami tidak menemukan perlimaan, perenaman... apalagi persetujuan ....
Kecurigaan semakin memenuhi rongga pikiran kami... cieeee... Jalan semakin kecil, suasana semakin sepi, lengang. Perkampungan penduduk sesekali kami temui. Terkadang ada sekumpulan rumah penduduk, setelah itu tidak ada lagi, habis. Sudah hampir satu jam kami melewati tempat yang hampir sama suasananya. Mencekam.... itu saja penilaian kami. Jika kami balik kanan sudah kepalang tanggung, jauh sudah perjalanan kami tempuh. Jika kami lanjutkan, kamipun tidak tau seberapa jauh lagi tujuan kami. Tapi kami mantap saja melakukan perjalanan. Berdasarkan ‘GPS’ tujuan kami sudah dekat. Yachhhh namanya juga orang yang terbiasa tinggal di daerah pegunungan, lima kilometer dikatakan “Cuma situ”... ternyata..... hemmmm jauhnnyaaaaaa..... Namun perjalanan itu kami nikmati dengan melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan. Subhanallah.... The hidden paradise of Tretep.


Daerah yang kami lewati pemandangannya sangat indah. Perkebunan sayur-sayuran seperti loncang, kol, cabai (bukan cabe-cabean lo ya...apalagi terong-terongan.. hihihi), kopi dan teh kami lihat sepanjang perjalan itu. Berdasarkan informasi, lahan yang berada pada daerah ‘ereng-erengan’ itu diolah dengan tenaga manusia saja. Ya iyalah... mana mungkin menggunakan traktor atau alat berat lainnya. Hal itu tidak mungkin dilakukan, karena medan yang miring. 

Lereng Tretep dilihat dari ketinggian

Penduduk dengan tekun mengolah lahan, menanam, memelihara tanaman hingga memanennya. Hasil dari panen mereka akan diambil oleh para tengkulak nantinya. Dimana sudah menjadi rahasia umum, harga dari panen para petani itu sangat murah. Tidak sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan. Namun sampai kota, hasil dari ladang mereka bisa sepuluh kali lipat harganya. Sungguh sangat memprihatinkan. Seandainya saja hasil kebun mereka bisa dihargai lebih, sejahteralah hidup mereka.

Lahan yang telah diolah secara manual tanpa bantuan alat berat

Lahan siap tanam

Para petani ini, meskipun harga jual dari hasil kebun mereka bisa dibilang murah. Namun hasil yang mereka miliki (ketika panen) cukup banyak juga. Karena ladang mereka memang sangat luas, jadi hasilnyapun banyak. Tapi entah bagaimana nasib mereka ketika masa paceklik atau tanaman mereka terserang hama, wabah dan sebagainya.
Kehidupan mereka yang jauh dari hingar bingar kota, membuat mereka hidup sederhana. Orang-orang di daerah pegunungan, ketika panen, akan berbelanja kebutuhan selama setahun dalam satu kali waktu. Beli garam untuk setahun sekalian. Beli gula untuk setahun sekalian. Dan sebagainya dan sebagainya... silakan dibuktikan kesana kalau tidak percaya (percaya nggak? Percaya nggak? #maksa). Hal ini sangat mungkin terjadi. Karena mereka jauh dari kota, transportsi sangat susah, sehingga mereka berpikir dengan belanja sekali saja, sudah bisa cukup untuk keperluan satu tahun.
Cerita yang lebih sangat mengagumkan adalah: ketika mereka panen, uang hasil panen mereka langsung mereka belikan barang-barang berharga. Seperti alat-alat elektronik, meskipun tidak ada listrik (aneh kan...). Almari es mereka bisa dipakai untuk menyimpan pakaian...! ckckckck... Selain itu mereka juga membelikan hasil panen mereka berupa berlian atau emas. Kalau kita ingin membeli emas tanyanya begini,
“harga emasnya pergram berapa? , lihat dulu boleh ya?”
Tapi bagi mereka, ketika panen, pergi ke toko emas cara bertanyanya pasti lain,
“emasnya se ons berapa? Berlian yang paling mahal yang mana?”
Naaaahhhh... beda banget kan?
Meskipun semua barang yang mereka miliki itu akan mereka jual kembali untuk modal tanam pada masa tanam berikutnya. Lain halnya dengan orang-orang kaya itu. Emas dan berlian terkadang hanya untuk dipamerkan saja, dan mungkin bisa saja menjadi ‘riya’. Sudahlah.. itu urusan pribadi masing-masing... silakan saja. (karena saya tidak punya... hehehehe)
Kondisi di sana, rumah-rumah penduduk beratap seng. Karena cuaca dingin dan sering hujan, seng itu sebagai penyimpan hangat ketika ada panas matahari, sehingga pada saat malam hari rumah menjadi hangat, tidak terlalu dingin. Pada beberapa daerah perkampungan, rumah penduduk sangat padat. Hal ini terjadi karena mereka ‘beranak pinak’ di situ saja katanya. Orang tua yang memiliki anak, anak tersebut menikah dengan tetangga, memiliki rumah sendiri, punya anak, menikah... dan seterusnya. Tidak pergi dari daerah itu. Mereka memilih untuk berkebun, menggarap tanah mereka. ~kehidupan yang damai~. Jika ada yang bekerja di luar daerah situ, paling hanya satu atau dua saja. Terbukti dari teman saya yang akan saya kunjungi ini. Dia adalah salah satu orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi guru, mempunyai suami di kota. Mengabdikan ilmunya untuk mendidik, tapi tidak lupa dengan kampung halaman. Terbukti dengan seminggu sekali dia pulang ke rumahnya ini.

Perkampungan di lereng Tretep yang sangat padat

Salah satu sudut Tretep


Jurang Menganga
Tangan kami semakin berkeringat. Dingin. Mencekam. Kaki kami terasa kaku, tak mampu bergerak... jalan sempit yang kami lalui melewati jurang pada kanan kirinya. Ketika ada satu truk berpapasan dengan kami... disitulah jantung ini serasa mau copot... jalan yang sempit, secara logika teman kami yang memegang setir, tidak mungkin kami bisa bersimpangan. Di sebelah kanan jurang, dan badan jalan longsor. Sedangkan sebelah kiri berupa jurang yang tak kalah mengerikan. Namun sopir truk yang sudah terbiasa melewati daerah itu, ternyata bisa membantu kami untuk bisa melewati jalan tersebut. Truk itu mundur kurang lebih sepuluh meter ke arah jalan yang ada bagian tanah yang agak tinggi. Mepet ke kanan truk. Dan mobil kami dipersilakan lewat arah kanan mobil kami yang berlawanan dengan truk mereka. Istilah orang rasanya ‘senam jantung’. Sebelah kanan kami jurang. Dengan kecepatan, mungkin, sepuluh kilometer perjam... kami melewati masa kritis itu... dan... lega... plongggg... akhirnya kami bisa melewati jalan itu.
Sampai pada akhirnya.. kita sampai di lereng tertinggi daerah tersebut... Ditambah cuaca yang mendung, disertai hujan rintik-rintik yang berlomba-lomba turun menjejakkan kakinya kakinya di bumi...(bilang aja gerimis... ribet amat... hehehe).
Untunglah ada seorang laki-laki yang baik hati yang menjadi penunjuk jalan kami. Sebentar saja dia memberikan petunjuk arah itu. Selanjutnya ‘terserah anda..!’. Tapi tetaplah... kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Akhirnya kita tidak bingung dan tersesat lagi.
Akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan. Eh... belum sempat cerita ya.. tujuan kami ke rumah teman kami ini adalah karena ibu dari teman kami ini meninggal. Kami berombongan bersilaturahmi kerumahnya untuk takziyah, ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ibu dan menguatkan dirinya agar sabar dalam menerima cobaan tersebut.
Sssttt... di sana.. hampir saya berhenti bernafas... Kenapa? Tamu-tamu laki-laki disediakan tembakau, cengkih, kertas sigaret.. ‘TINGWE’ alias linting dewe. Rokok yang diramu sendiri. Seperti kereta api yang lewat dari Ambarawa saja... asapnya maaakkkk... ruarrrr biasa... membuat nafas saya sesak dan lidah saya kecut hampir pahit...
***

Karena takut dengan jalan yang kami lalui tadi, akhirnya kami memilih jalan alternatif lain. Lewat kota Sukorejo. Selain jalan yang sulit, kami juga takut jalan yang kami lalui tadi akan turun kabut, sehingga jarak pandang kami terlalu dekat dan tidak bisa melihat jalan. Hal ini sangat membahayakan, dan kami menghindarinya.
Keluar dari kampung teman kami. Kami melewati jalan yang agak besar. Namun jalannya sangat rusak parah. Badan kami sampai tergoyang-goyang ke kanan ke kiri, sampai kepala menyundul langit-langit mobil. Tapi ‘sing penting joget-sing penting joget’ hahahha... asyik ajalah, perjalanan dinikmati. Mau bagaimana lagi.
Gumun setaun jembleng serendeng. Pepatah jawa ini saya pakai. Karena apa? Kurang lebih tiga sampai lima kilometer di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar pohon cengkih. Perkebunan cengkih tepatnya. Dan.... yang membuat kaget lagi.. ternyata berpuluh-puluh hektar dan mungkin beratus hektar itu ‘konon’ kebun milik si Tom-Tom anaknya mbah kakung yang suka berada di belakang bak truk dan selalu bilang “ENAK JAMANKU TO LE...? “ gitu katanya. Meskipun sebagian lagi adalah kebun miliki perhutani. Hasil dari perkebunan cengkih itulah yang memasok perusahaan yang memiliki ‘GUDANG’ yang isinya berupa ‘GARAM’...
***

Pengalaman yang tak terlupakan... dan sarat dengan pengetahuan hidup. Meskipun sampai detik ini, badan, kepala dan perut rasanya masih bergoyang kanan kiri dan muter, keatas dan ke bawah.

Gunung Sindoro dan Sumbing dari Muntung

Perjalanan_melalui_Tretep, 10 April 2014 
Umi Azzurasantika

2 komentar:

  1. wahhhh....kok ra ajak-ajak....
    ngerti ngunu aku ra melu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah... ngerti ngono ra tak jak

      hawong senengane rewel owk..... :D

      Hapus

Obrolan Anak 'Dewasa'

https://www.duniabelajaranak.id Saat selesai makan malam biasanya Kakak cerita sambil curhat. Cerita tentang sekolah dan juga lesnya. K...